Bibit pelakor.

1048 Kata
Sampai di rumah, Alfa tak henti hentinya memikirkan ucapan Karin. Bahkan saat tadi usai mengantarkan wanita itu, tanpa Alfa duga Karin malah mengecup bibirnya dengan singkat. Dia yang awalnya tak sadarpun hanya membeku di tempat. Terkejut dengan keberanian wanita itu. "Mas, kenapa malamun?" Ajeng yang kebetulan berpapasan dengan suaminya itu langsung di buat heran, pasalnya sejak masuk, Alfa terus saja melamun bahkan tanpa sadar hampir saja menabrak nya jika saja dia tak bersuara. "Hah? Nggak. Kenapa emang Jeng?" "Sejak tadi mas melamun, mikirin apa sih?" "Ah nggak, tadi di kantor ada sedikit masalah!" Elak Alfa sembari berusaha bersikap sebiasa mungkin agar istrinya itu tidak curiga. "Oh," Ajeng hanya menjawab seadaanya, tak lama kemudian keduanya hendak beranjak untuk ke kamar, tiba tiba saja mama Tia keluar dari kamarnya. "Udah pulang Al," mama Tia menyapa, membuat keduanya mau tak mau menunda untuk ke kamar. "Iya, oiya ma, Aca di mana kata temen se divisinya katanya dia nggak masuk, dia bilang sesuatu ke mama nggak. Atau ijin mau ke mana gitu?" "Nggak, cuma kemaren malam doang, dia bilang kalau mau ada acara di rumah temennya itu, terus sekalian mampir, makanya mama di anterin ke sini. Kamu tau kan kalau mama nggak bisa di rumah sendirian semenjak kepergian papamu," "Iya sih, tadi temennya nanyain dimana Aca. Soalnya dia nggak masuk. Nggak kasih ijin juga, aku tadi hubungin juga nggak bisa," Mendengar itu, wajah mama Tia menjadi berubah cemas, "kemana adik kamu ya Al, mama malah kuatir dia kenapa napa," "Ah paling juga masih di rumah temennya ma, kita tunggu besok aja, palingan juga udah balik, atau nanti aku cek di rumah, siapa tau udah ada di rumah, tapi ketiduran atau apa," Alfa mencoba menenangkan mamanya agar lebih tenang, karna jujur saja dia pun sebenarnya cukup kuatir dengan adiknya itu. Mengingat dialah orang yang harusnya menjaga semenjak papanya meninggal. "Iya deh, coba kamu cek ke rumah ya, siapa tau udah balik!" "Iya ma, Alfa masuk kamar dulu!" Pamit Alfa yang langsung di angguki mamanya itu. Ajeng pun mengekor sang suami hingga masuk kamar, dia cukup penasaran dengan Aca yang tiba tiba tak masuk, dia memang cukup mengetahui kebiasaan buruk Aca yang sering mabuk mabukan dengan pacar dan teman temannya. Bahkan Ajeng pernah memergoki Aca sedang memakai obat obatan terlarang di dalam kamarnya saat hendak ijin untuk buang air kecil, karna saat itu kamar yang biasa dia gunakan sedang di perbaiki. "Ma, aku takutnya Aca terkena pergaulan bebas deh!" Celetuk Ajeng yang langsung membuat Alfa langsung menoleh dengan tatapan tak sukanya. "Apaan sih kamu, Aca emang bukan orang baik, tapi kamu nggak boleh bilang begitu. Dia nggak mungkin sampai aneh aneh, palingan juga lagi nongkrong biasa sama teman temannya sampai lupa waktu. Itu aja!" Sudah Ajeng duga, pasti suaminya itu lebih membela dan selalu menganggap adiknya itu benar, makanya saat melihat Aca memakai obat obatan terlarang itu dia tak langsung mengatakan pada sang suami, bisa bisa dia yang di katakan membuat buat. "Mending mas cek aja pertemanan sama pacar nya mas, aku perduli sama Aca karna dia adik kamu, takutnya dia teman atau pacarnya bawa pengaruh buruk buat dia," "Alah udah lah, Aca udah dewasa, dia bisa mikir mana yang baik dan buruk buat dia," Alfa terus saja berusaha mengelak dan membela sang adik, membuat Ajeng lelah sendiri menjelaskan pada suaminya itu. Akhirnya dia memiliki diam dan memainkan ponselnya. Sedangkan Alfa yang selesai membuka ikat sepatu, dia langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Cukup lama Ajeng memainkan ponselnya hingga tak sadar jika Alfa selesai mandi dan berganti pakaian. "Aku mau ke rumah mama bentar ya, mau, lihat Aca udah pulang apa belum," pamit Alfa pada istrinya itu. "Nggak makan dulu?" "Nggak, cuma bentar. Habis itu juga langsung pulang kok!" "Yaudah, hati hati!" Ajeng mengantarkan suaminya itu di depan pintu kamar. Baru saja Ajeng akan masuk, suara mamanya membuatnya mengurungkan niatnya. "Kamu mau ke rumah mama Al?" "Iya, mama di rumah aja. Aku cuma bentar kok." "Yaudah hati hati, mama telfon Aca juga sampai sekarang belum ada balasan. Mama jadi kuatir," "Iya, mama di rumah aja sama Ajeng!" Setelahnya Ajeng mendengar sang suami kembali berjalan dan keluar rumah. Setelahnya Ajeng pun kembali masuk kamar dan tak lupa menutup pintu. ----- Alfa yang telah sampai di rumah sang mama segera memarkirkan mobilnya didepan rumah sang mama, di lihat dari luar lampu di rumahnya tak menyala. Hanya teras yang masih menyala. Alfapun turun dari mobil untuk masuk ke dalam rumah, mungkin Aca memang sudah pulang dan belum sempat menyalakan lampu. Saat mencoba membuka pintu, namun terkunci. Membuat Alfa menghela nafas heran. Berarti Aca memang belum pulang. Alfa berniat balik, untuk kembali pulang, malah di kejutkan dengan adanya Karin yang entah dari mana sedang membawa motor. "Loh mas Alfa," sambut Karin yang memang melihatnya. Padahal Alfa tadi ingin berpura pura tak melihat dan langsung masuk ke dalam mobil, namun terlanjur basah. Akhirnya, alfapun menyapa Karin balik. Dilihatnya pakaian Karin yang begitu sexy, belahan dadanya rendah dan rok mini yang memperlihatkan pahanya yang mulut. Memang Karin typikal orang yang suka berpakaian sexy, dikantor pun begitu. "Iya Rin," "Mas Alfa habis ke rumah mamanya ya?" Karin melongok ke belakang tubuh Alfa yang dilihatnya rumahnya begitu gelap, seperti tak ada kehidupan. "Loh mas, kok lampunya di biarin mati. Mamanya nggak ada di rumah?" Tanya Karin kembali. Memang, Karin tetangga satu perumahan milik mamanya, hingga dia cukup mengenal akrab mamanya meskipun jarak rumah Karin dan mamanya cukup jauh. Karin memang orang pindahan yang baru saja membeli perumahan di sana. "Iya, mama di rumah aku Rin," "Loh, la Aca dimana?" "Nggak tau, belum pulang sejak kemaren." Alfa menghela nafas frustasi, "aku juga nggak tau di mana alamat rumahnya teman Aca yang ngajak dia kemaren, makanya aku pusing," "Tetangga aku kayaknya lumayan deket sama Aca deh mas, nanti aku coba tanyain deh!" Mendengar itu, Alfa menjadi lebih tenang, "makasih Rin, nanti kabarin aku ya kalau tetangga kamu udah ngasih kabar," "Iya mas, pasti!" Balas Karin dengan sumringah juga, "oiya mas, penawaran aku yang kemaren masih loh mas, kalau mas lagi pengen mas bisa ke rumah aku. Atau kita sewa hotel," Karin menatap Alfa sembari menggigir bibirnya, menggoda hasrat Alfa yang kian menipis. Alfa mencoba menggelengkan kepala, mengusir nafsu yang memuncak, terlebih Karin semakin berani dengan menegakkan tubuhnya seolah menyodorkan dadanya lebih mendekat. "Nggak deh Rin, aku udah punya istri di rumah!" -----
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN