Suasana seketika menjadi hening.
Shinta berdiri diam beberapa saat, menatap ruangan luas dan mewah yang ada di hadapannya. Ada ruang tamu yang nyaman dengan sofa empuk, jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan gemerlap lampu malam Bali, serta satu kamar tidur utama yang terletak di bagian paling dalam.
Shinta mengembuskan napas panjang dan berat.
"Ya ampun..." gumamnya pelan.
Hari ini sungguh sangat melelahkan. Mulai dari perjalanan jauh dengan pesawat, rapat yang padat, hingga kekacauan akibat kesalahan reservasi hotel yang hampir membuatnya panik setengah mati. Ia meletakkan tas kerjanya di dekat kaki sofa, lalu duduk perlahan.
Sofa ini cukup empuk dan nyaman. Kalau terpaksa harus tidur di sini pun rasanya tidak masalah. Namun... ia melirik sekilas ke arah pintu kamar tidur utama.
"Itu kan tempatnya Pak Naka," bisik hatinya.
Meski hanya ada mereka berdua di ruangan ini, Shinta tetap sadar betul akan posisi dan kedudukannya. Naka adalah pemimpin, CEO perusahaan tempat mereka bekerja. Sedangkan dirinya? Hanyalah seorang sekretaris. Tidak pantas rasanya jika ia mengambil tempat tidur yang paling utama dan terbaik itu.
Saat sedang asyik melamun, terdengar suara langkah kaki mendekat. Naka baru saja keluar dari arah kamar setelah memeriksa keadaan ruangan itu. Ia berhenti sejenak saat melihat Shinta yang sudah duduk tenang di atas sofa.
"Kamu kenapa duduk di situ?" tanya Naka datar.
Shinta segera menoleh. "Oh?"
"Kenapa memilih duduk di sofa?" ulang Naka.
Shinta tersenyum canggung. "Ya... saya tidur di sini saja nggak apa-apa kok, Pak."
Naka mengernyitkan dahi. "Di sofa?"
"Iya, Pak."
"Kenapa harus di sana?"
Shinta tertawa kecil berusaha mencairkan suasana. "Karena kan status saya bawahan Bapak."
Naka langsung menghela napas panjang. "Terus apa hubungannya?"
"Saya betah kok di sini, nggak akan ada masalah," jawab Shinta meyakinkan.
"Shinta."
"Iya, Pak?"
"Ini sebuah sofa."
"Iya, saya tahu."
"Dan di sebelah sana ada tempat tidur yang besar dan empuk."
Shinta menahan senyum. "Benar juga sih, Pak."
"Kalau begitu kenapa kamu malah memilih tidur di sofa yang jelas-jelas kurang nyaman itu?"
Shinta menggaruk pipinya yang tidak gatal, tampak sungkan. "Kan Bapak itu atasan saya, pemimpin perusahaan... saya jadi merasa tidak enak hati kalau mengambil tempat utama."
"Lalu?" tanya Naka masih menunggu penjelasan.
"Rasanya kurang pas saja kalau saya menempati kamar yang seharusnya untuk Bapak."
Naka menatap wajah gadis itu cukup lama. Ia bisa melihat jelas bahwa Shinta mengatakannya dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar basa-basi atau pura-pura sopan. Gadis itu benar-benar merasa sungkan dan tidak nyaman.
"Kita berdua sama-sama tahu kalau kekacauan ini terjadi karena salah reservasi hotel," ujar Naka pelan.
"Iya, Pak."
"Dan semua kamar di hotel ini penuh sesak, jadi tidak ada pilihan lain selain berbagi ruangan ini."
"Betul. Makanya saya pikir lebih baik saya mengalah dan tidur di sini saja supaya Bapak tetap bisa istirahat dengan nyaman di dalam."
Naka mengangguk pelan. Ia mulai paham betul isi pikiran sekretarisnya itu. Bukan karena takut padanya, bukan karena merasa tersinggung, melainkan semata-mata karena rasa sungkan dan batasan jabatan yang ia pegang teguh. Naka cukup peka untuk menangkap hal itu.
Ia kemudian berjalan mendekat dan duduk di kursi tunggal yang ada di seberang sofa, menatap Shinta lekat-lekat dalam diam.
Shinta mulai merasa salah tingkah. "Pak? Kenapa menatap saya begitu?"
"Saya sedang berpikir," jawab Naka tenang.
"Berpikir soal apa?"
"Kalau saja posisinya terbalik dan saya yang jadi kamu, saya juga pasti akan merasa tidak nyaman dan sungkan begini."
Shinta tertegun sejenak, matanya berkedip kaget. Ia sama sekali tidak menyangka Naka akan berpikir sejauh itu dan mengerti perasaannya. Selama ini ia berpikir para pemimpin atau bos besar biasanya hanya akan memberi perintah dan memikirkan diri sendiri saja. Tapi Naka berbeda. Pria ini selalu berusaha memahami sudut pandang orang lain terlebih dahulu sebelum bertindak.
Naka kemudian berdiri tegak. "Baiklah kalau begitu."
Shinta mendongak. "Baiklah apa maksudnya, Pak?"
"Kamu tetap di sini dan tidurlah di kamar itu."
"Hah? Lalu Bapak mau ke mana?"
"Saya akan cari kamar di hotel lain."
Shinta langsung bangkit berdiri kaget. "Tunggu sebentar, Pak! Jangan begitu."
Naka tersenyum tipis. "Kenapa? Ada masalah?"
"Tentu saja ada! Emangnya Bapak nggak merasa berkeberatan?"
"Tidak sama sekali."
"Tapi kan Bapak yang memesan dan membayar kamar ini sejak awal. Ini kan seharusnya kamar Bapak."
"Benar."
"Lalu bagaimana bisa saya yang tinggal dan menikmatinya sendirian?"
"Memang begitu rencananya sekarang."
Shinta makin bingung dan merasa sungkan sekali. "Bapak serius bicara begitu?"
"Sangat serius, Shinta."
"Tapi saya jadi nggak enak hati sekali, Pak."
"Kalau kita paksakan berbagi kamar ini, kita berdua sama-sama tidak akan nyaman dan tidak bisa istirahat tenang, bukan?"
Shinta terdiam. Kalimat itu begitu sederhana namun tepat sasaran, membuatnya akhirnya tertawa kecil sambil mengangguk setuju. "Iya juga benar sih, Pak."
Naka ikut tersenyum tipis melihat reaksinya. "Nah, makanya begitu saja keputusannya."
"Tapi nanti Bapak tidur di mana lagi? Jam sudah larut malam begini lho."
"Masih banyak hotel lain yang tersedia di sekitar kawasan Bali ini."
"Pasti repot sekali dan melelahkan kalau harus pindah-pindah lagi."
Naka mengangkat bahu santai. "Tidak masalah buat saya."
Shinta menatap punggung pria itu dengan pandangan yang berubah. Semakin lama ia bekerja dan berinteraksi dengan Naka, semakin ia sadar bahwa pemimpinnya ini jauh berbeda dari citra dingin, kaku, dan keras yang selama ini dibicarakan orang banyak. Memang benar Naka itu tegas, sangat teliti, dan perfeksionis, tapi ia sama sekali bukan orang yang semena-mena atau menganggap bawahan sekadar alat kerja.
Saat Naka baru saja hendak mengambil ponsel dari saku celananya, alat itu berdering. Panggilan masuk dari asisten pribadinya.
"Halo, ya?" jawab Naka.
Ia mendengarkan sejenak, lalu sesekali mengangguk pelan. "Sudah dapat tempatnya?"
Shinta yang berdiri di dekat sana ikut mendengar tanpa sengaja.
"Baik... lima belas menit lagi sampai di sini? Mengerti."
Panggilan pun ditutup.
Shinta langsung bertanya penasaran. "Sudah dapat kamar penggantinya, Pak?"
"Sudah."
"Wah, cepat sekali prosesnya."
"Karena ternyata asisten saya jauh lebih panik dan cemas dibandingkan saya sendiri," jawab Naka santai.
Shinta tertawa kecil mendengarnya. "Terus katanya apa, Pak?"
Naka ikut tersenyum kecil. "Dia bilang kalau sampai besok pagi ada gosip aneh yang beredar di kantor soal kejadian ini, dia yang bakal kena marah dan dituntut tanggung jawabnya."
Shinta langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan karena malu. "Ya ampun... bisa dibayangkan betapa hebohnya grup obrolan kantor sekarang ini."
"Jangan-jangan sudah penuh berita dan dugaan macam-macam," tambah Naka.
"Jangan dibahas begitu dong, Pak... jadi makin takut rasanya kalau harus buka ponsel nanti," jawab Shinta cemas.
Naka terkekeh pelan. Untuk pertama kalinya sejak mereka berangkat ke Bali, suasana di antara mereka terasa begitu santai, hangat, dan akrab. Tidak ada sekat antara bos dan bawahan. Hanya dua orang manusia biasa yang sama-sama kelelahan setelah perjalanan jauh dan hari yang panjang.
Naka memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. "Kalau begitu saya pamit berangkat sekarang."
Shinta mengangguk pelan. Namun tepat saat Naka melangkah melewatinya menuju pintu, Shinta tiba-tiba bersuara pelan.
"Pak."
Naka berhenti dan menoleh. "Ya?"
"Terima kasih banyak, Pak."
"Terima kasih untuk apa?"
"Karena Bapak sudah begitu mengerti dan memahami perasaan saya," ucap Shinta tulus.
Naka diam sejenak menatap wajah gadis itu, lalu senyum tipis kembali terukir di bibirnya. "Sama-sama."
Sebelum benar-benar keluar, Naka kembali berbicara dengan nada yang lebih lembut dan serius.
"Shinta."
"Iya, Pak?"
"Kamu tidak perlu merasa rendah diri atau menempatkan diri terlalu rendah begitu."
Shinta sedikit terkejut mendengarnya. "Maksudnya bagaimana, Pak?"
"Kamu selalu saja menganggap diri kamu 'hanya sekretaris', padahal bagi saya..." Naka menjeda sejenak, "Kamu adalah mitra kerja yang sangat penting dan berharga."
Kalimat itu terdengar sederhana saja, namun entah mengapa rasanya begitu hangat dan menyentuh hati Shinta. Jarang sekali ia bertemu atasan yang mau menghargai posisi dan peran bawahannya sebaik ini.
Naka mengangguk singkat. "Sudah istirahatlah yang cukup."
"Selamat jalan dan selamat istirahat juga, Pak."
Pintu terbuka, lalu tertutup kembali perlahan.
Klik.
Kini ruangan itu sepenuhnya sunyi dan hanya berisi Shinta seorang diri. Beberapa saat ia masih berdiri diam menatap pintu yang tertutup itu, baru kemudian mengembuskan napas lega yang panjang.
"Hhh... akhirnya juga selesai masalahnya," gumamnya.
Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa, lalu tertawa kecil sendiri. "Hampir saja kacau kalau Pak Naka memaksa tetap tinggal di sini. Pasti saya tidak akan bisa tidur semalaman karena rasa canggung yang luar biasa."
Setelah agak tenang, Shinta berjalan mendekati jendela kaca besar itu. Pemandangan malam Bali terlihat sangat indah dan menenangkan. Lampu-lampu kota berkelap-kelip di kejauhan, suasana begitu damai dan sejuk.
Shinta tersenyum sendiri. "Ternyata Pak Naka itu orangnya baik juga ya..."
Namun seketika ia menggelengkan kepalanya pelan memperbaiki ucapannya.
"Bukan sekadar 'baik juga'," bisik hatinya. "Memang benar-benar orang yang sangat baik dan berhati mulia."
Sementara itu, di luar gedung hotel...
Naka masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu di depan pintu keluar. Sopir pribadinya segera menoleh ke belakang.
"Langkah selanjutnya ke hotel yang baru ya, Pak?" tanya sopir itu.
"Iya, ke sana," jawab Naka singkat.
Mobil pun mulai berjalan perlahan meninggalkan tempat itu.
Naka menyandarkan punggungnya dengan santai ke sandaran kursi. Hari ini sungguh panjang dan melelahkan, namun entah mengapa hatinya terasa sedikit lega dan ringan. Setidaknya sekarang Shinta bisa beristirahat dengan tenang dan nyaman tanpa merasa terbebani apa pun.
Tiba-tiba ponselnya bergetar di dalam saku. Pesan masuk.
Dari Kevin, asistennya.
Naka mengernyitkan dahi membaca pesan itu.
Kevin: Pak, aman keadaannya?
Naka membalas dengan singkat:
Naka: Aman.
Beberapa detik kemudian, pesan baru muncul lagi.
Kevin: Jadi rencana bulan madunya batal, Pak?
Naka langsung memejamkan mata sejenak menahan emosi.
Sabar... saya harus benar-benar sabar menghadapi orang ini.
Tak lama kemudian pesan lain masuk lagi.
Kevin: Maaf Pak, saya cuma tanya-tanya saja.
Kevin: Demi kepentingan ilmu pengetahuan kantor, Pak.
Naka akhirnya mengetik balasan dengan tegas:
Naka: Besok pagi bonus kamu saya potong habis.
Setelah itu tidak ada lagi pesan balasan yang masuk.
Naka tersenyum tipis puas, lalu kembali menatap ke luar jendela mobil. Pemandangan malam Bali yang tenang berjalan bergantian di hadapannya.
Untuk pertama kalinya sejak berangkat meninggalkan kantor, ia merasa perjalanan bisnis kali ini mungkin tidak akan membosankan seperti yang ia duga sebelumnya.