Pagi itu langit di Bali tampak sangat cerah. Sinar matahari baru saja naik perlahan, menyinari balkon kamar hotel yang semalam ditempati Shinta. Setelah beristirahat sepanjang malam dan meminum obat yang diberikan, kondisi tubuhnya memang sudah terasa sedikit membaik. Hidungnya masih terasa sedikit tersumbat, namun setidaknya demamnya sudah mulai turun.
Shinta merapikan barang-barangnya ke dalam koper kecil.“Baju… sudah lengkap. Laptop… sudah ada. Dokumen penting juga sudah aman.”
Ia mengembuskan napas panjang sambil merasa lega.“Akhirnya, waktunya pulang juga.”
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari Pak Naka:
“Saya sudah menunggu di lobi.”
Shinta tersenyum kecil membacanya.
“Pak Naka memang selalu datang lebih cepat dari waktu yang disepakati.”
Ia segera mengangkat kopernya dan berjalan keluar kamar.
Begitu pintu lift terbuka, terlihat Naka sudah berdiri menunggu di dekat meja resepsionis. Hari itu ia mengenakan kemeja putih rapi dengan jas hitam yang disampirkan santai di lengannya. Wajahnya tetap terlihat tenang dan berwibawa seperti biasanya.
“Selamat pagi, Pak.”
“Pagi, Shinta.”
Naka segera menatap wajah Shinta dengan perhatian.“Bagaimana kondisi tubuhmu sekarang?”
“Sudah terasa jauh lebih baik, Pak.”
“Masih terasa pusing?”
“Hanya sedikit saja.”
“Masih sering bersin?”
Seolah menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba terdengar suara bersin dari Shinta.
“Haciihh…”
Ia segera menutup hidung dan mulutnya dengan tisu.“Maaf ya, Pak.”
Naka tersenyum tipis melihatnya.
“Berarti masih belum sembuh total.”
“Memang belum separah semalam kok.”
“Tetap saja masih sakit, jadi harus tetap dijaga.”
Shinta hanya bisa tersenyum kecil mendengar perhatiannya.
Mereka berdua pun berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan untuk mengantar mereka ke bandara. Di tengah perjalanan, suasana jalanan pagi itu masih cukup lengang dan segar. Shinta sesekali memandang ke luar jendela menikmati pemandangan.
“Pak.”
“Iya?”
“Ternyata Bali memang sangat indah ya.”
“Memang benar.”
“Sayang sekali kemarin kita sempat kehujanan, jadi tidak bisa berkeliling lebih lama.”
“Itu salah hujannya, bukan salah kita.”
Shinta tertawa kecil mendengar jawabannya.“Benar juga, Pak.”
Suasana kembali hening selama beberapa saat. Sampai akhirnya Naka kembali membuka percakapan.
“Shinta.”
“Iya, Pak?”
“Kamu ingin membawa oleh-oleh apa saja untuk dibawa pulang ke Jakarta?”
Shinta berpikir sejenak sebelum menjawab.
“Sebenarnya saya ingin sekali, Pak.”
“Lalu kenapa ragu?”
“Hanya saja badan saya masih terasa kurang enak, jadi takut merepotkan.”
“Kalau begitu apa yang kamu inginkan?”
Shinta tersenyum sedikit malu.
“Kalau boleh, belikan saya cokelat merek Falala saja, Pak.”
“Hanya itu saja?”
“Iya, cukup itu saja.”
“Yakin tidak ingin yang lain?”
“Sangat yakin.”
Naka hanya mengangguk pelan.
“Baiklah.”
Shinta mengira atasannya itu hanya akan menyuruh sopir berhenti sebentar agar ia bisa turun sendiri. Namun ketika mobil sampai di tempat penjualan oleh-oleh, Naka justru membuka pintu dan turun dari kendaraan.
“Pak? Mau ke mana?”
“Tunggu sebentar saja di dalam mobil.”
“Bapak yang akan membelinya? Biar saya saja yang turun.”
“Tetaplah di dalam mobil agar tidak kedinginan.”
“Pak, saya masih bisa berjalan kok.”
“Kamu masih sedang terserang flu. Ini perintah.”
Shinta langsung terdiam dan hanya bisa mengangguk patuh.
“Baiklah, Pak.”
Naka segera masuk ke dalam toko. Dari balik kaca jendela mobil, Shinta memperhatikan setiap gerakannya. Pria itu tampak memilih dengan cukup teliti, bahkan sempat bertanya kepada penjaga toko mengenai varian rasa yang paling disukai banyak orang.
Beberapa menit kemudian, Naka keluar sambil membawa satu kantong belanja yang terasa cukup berat. Ia membuka pintu mobil dan menyerahkannya kepada Shinta.
“Ini untukmu.”
Begitu menerimanya, mata Shinta langsung terbelalak kaget.“Pak… ini banyak sekali jumlahnya.”
“Kamu bilang suka cokelat itu.”
“Tapi saya hanya minta satu kotak saja, Pak.”
“Sisanya bisa dibagikan untuk keluarga atau teman-teman di rumah.”
Shinta tertawa kecil sambil memegang kantong itu.“Kalau saya habiskan semuanya sendirian bagaimana?”
Naka menoleh ke arahnya sambil tersenyum tipis.“Kalau begitu nanti batuk dan demammu pasti akan bertambah parah lagi.”
Shinta ikut tertawa mendengar candaannya.“Benar juga peringatan Bapak.”
Mobil kembali melaju menuju Bandara Internasional Ngurah Rai. Di dalam perjalanan, Shinta terus memeluk kantong berisi cokelat itu erat-erat. Entah kenapa, perhatian kecil yang diberikan Naka selalu berhasil membuat hatinya terasa hangat dan nyaman.
Beberapa saat kemudian, Naka kembali berbicara.“Shinta.”
“Iya, Pak?”
“Besok kamu tidak perlu masuk ke kantor dulu.”
Shinta langsung menoleh dengan tatapan terkejut.“Hah? Tapi saya sudah merasa jauh lebih baik kok, Pak.”
“Tetap saja kamu masih sedang flu.”
“Hanya sedikit saja rasanya.”
“Sedikit tetap berarti masih sakit.”
“Tapi nanti pekerjaan saya bisa menumpuk…”
“Tenang saja, semuanya akan saya urus sementara waktu.”
Shinta menggeleng pelan merasa tidak enak hati.“Nanti justru merepotkan Bapak saja.”
Naka menatapnya dengan tatapan yang tetap tenang namun lembut.“Shinta, dengarkan saya. Seorang karyawan yang memaksakan diri bekerja saat kondisi tubuhnya belum pulih justru akan menjadi lebih merepotkan nantinya.”
Shinta hanya bisa terdiam mendengar penjelasannya.
“Lagipula…” lanjut Naka dengan nada yang terasa lebih lembut dari biasanya.
“Saya ingin sekretaris saya benar-benar sehat dan pulih sepenuhnya sebelum kembali bekerja.”
Kalimat itu membuat Shinta menunduk sedikit karena merasa tersanjung dan malu.
“Terima kasih banyak atas perhatiannya, Pak Naka. Saya sangat berterima kasih.”
“Sama-sama.”
Tak lama kemudian, mobil mereka pun tiba di area parkir bandara. Perjalanan tugas mereka di Bali secara resmi telah berakhir. Namun tanpa mereka sadari, perasaan yang mulai tumbuh di antara keduanya justru baru saja memulai perjalanan yang lebih panjang.
Setelah menyelesaikan seluruh proses pemeriksaan tiket dan keamanan, mereka segera menuju ruang tunggu keberangkatan. Pesawat yang akan membawa mereka pulang ke Jakarta dijadwalkan berangkat tepat waktu.
Begitu dipersilakan masuk ke dalam pesawat, Naka memastikan tempat duduk Shinta berada di sisi jendela yang lebih terlindung dari hembusan angin.
“Duduklah yang nyaman. Jika terasa kedinginan, ambil selimut yang disediakan pramugari.”
“Siap, Pak. Terima kasih lagi ya.”
Selama perjalanan udara yang memakan waktu sekitar satu setengah jam itu, suasana terasa tenang. Shinta sempat terlelap karena rasa kantuk yang datang bersamaan dengan efek obat yang diminumnya. Naka sesekali melirik ke samping untuk memastikan kondisinya tetap baik, lalu kembali fokus membaca berkas kerjaan di tangannya.
Ketika pesawat mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno-Hatta, hari sudah mulai menjelang sore. Langit Jakarta tampak sedikit mendung namun suasananya tetap sejuk.
Setelah keluar dari area kedatangan, mobil yang sudah dipesan sebelumnya sudah menunggu di luar. Seperti biasa, Naka memastikan terlebih dahulu bahwa semua barang bawaan aman sebelum memberi isyarat untuk berangkat.
“Supir, antar dulu Nona Shinta ke alamat apartemennya,” perintah Naka dengan tegas.
“Baik, Tuan.”
Shinta segera menoleh dengan rasa tidak enak.“Pak, tidak perlu repot-repot antar sampai depan pintu juga. Saya bisa naik taksi daring saja kok.”
“Tidak perlu membahasnya lagi. Kalau kamu masih sakit, keamanan dan kenyamananmu adalah hal utama sekarang.”
Mendengar jawaban itu, Shinta hanya bisa tersenyum kecil sambil mengangguk setuju.
Perjalanan menuju kawasan apartemen Shinta berlangsung lancar. Sesampainya di depan gedung tempat ia tinggal, Naka ikut turun sebentar untuk menyerahkan barang bawaannya.“Terima kasih banyak sekali, Pak. Hari ini sudah sangat merepotkan Bapak terus.”
“Tidak apa-apa. Jangan lupa minum obat secara teratur dan istirahat yang cukup ya.”
“Siap, Pak. Besok saya akan segera melapor jika sudah pulih sepenuhnya.”
“Baiklah. Selamat beristirahat.”
Setelah memastikan Shinta sudah masuk dengan aman ke dalam gedung, Naka kembali ke dalam mobil.“Silakan antar saya ke kediaman utama sekarang.”
Dalam perjalanan pulang menuju rumahnya yang luas dan sepi, Naka duduk bersandar sambil memejamkan mata sejenak. Seharian ini ia merasa sedikit lelah, namun rasa lelah itu terasa berbeda — terasa lebih ringan dari biasanya.
Begitu tiba di rumah, ia langsung berjalan menuju ruang kerjanya yang luas. Meskipun hari sudah larut dan tubuhnya juga butuh istirahat, kebiasaan seorang pemimpin yang bertanggung jawab membuatnya tetap melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
Ia duduk di kursi kerjanya, menyalakan komputer, dan mulai membuka satu per satu berkas laporan yang harus diselesaikan malam itu juga. Sesekali ia tersenyum tipis mengingat sikap Shinta yang sederhana namun tulus sepanjang perjalanan hari ini.
“Semoga ia segera pulih sepenuhnya,” gumamnya pelan dalam hati.
Malam itu, kesunyian di rumah besarnya terasa sedikit berbeda. Ada rasa hangat yang perlahan mulai terasa, sebuah perasaan yang selama ini tidak pernah ia rasakan sebelumnya.