Ruang rapat itu akhirnya terbuka. Pintu geser besar terdorong perlahan, lalu satu per satu orang mulai berjalan keluar. Wajah-wajah tampak masih serius, beberapa orang berbisik-bisik membahas hal-hal yang baru saja dibahas di dalam, sementara langkah kaki terdengar beriringan di atas lantai yang licin dan mengilap.
Naka berjalan paling belakang. Langkahnya tenang, wajahnya kembali dingin dan berwibawa seperti sediakala. Namun matanya yang tajam tak menyia-nyiakan satu sudut ruangan pun. Hingga akhirnya pandangannya jatuh pada sosok yang sedang berdiri di dekat meja panjang sambil menyusun tumpukan berkas.
Shinta.
Perempuan itu sedang sibuk merapikan dokumen-dokumen hasil rapat. Jemarinya bergerak lincah menyusun kertas demi kertas, sesekali ia membetulkan letak pulpen dan buku catatan agar tersusun rapi. Wajahnya tampak tenang, bibirnya sedikit menyunggingkan senyum tipis saat ia memastikan tidak ada barang yang tertinggal di atas meja.
Namun belum sempat Naka melangkah mendekat, seorang pria berjalan lebih dulu menghampiri Shinta.
Pria itu bernama Doni. Salah satu staf di divisi keuangan. Masih muda, bertubuh tegap, berwajah tampan dengan senyum yang selalu mampu membuat siapa pun merasa senang. Bahkan di kantor, banyak yang berbisik bahwa ketampanan Doni nyaris setara dengan Naka. Hanya saja, Naka tampak gagah dan berwibawa, sedangkan Doni tampak cerah, ramah, dan jauh lebih mudah didekati.
Doni berhenti tepat di hadapan Shinta. Ia tersenyum lebar, menatap perempuan itu dengan pandangan yang terang benderang dan tak menyembunyikan kekaguman sedikit pun.
"Shinta..." panggil Doni dengan nada suara yang terdengar begitu akrab dan lembut.
Shinta mendongak sedikit terkejut. "Eh, Mas Doni. Sudah selesai rapatnya?"
"Sudah, sudah." Doni tertawa kecil, lalu dengan sukarela ia mengulurkan tangannya membantu merapikan tumpukan berkas yang lumayan banyak itu. "Sini kubantu. Banyak sekali tugasmu sendirian begini."
"Tidak usah, Mas. Terima kasih." Shinta berusaha menolaknya sopan. "Saya bisa menyelesaikannya sendiri."
"Ah, tidak apa-apa. Daripada kamu capek sendiri." Doni justru semakin dekat, tangannya kini ikut menyusun kertas sambil terus berbicara tanpa henti. "Lagipula sudah jam pulang. Kamu belum pulang juga? Kamu ini rajin sekali ya. Atau memang sengaja menunggu suasana sepi?"
Doni tersenyum sambil menatap wajah Shinta lekat-lekat. Tatapan matanya begitu leluasa menyapu wajah cantik itu, dari mata yang jernih, turun ke pipi yang halus, hingga berhenti sejenak di bibir merah merona yang sedang menyunggingkan senyum canggung. Tatapan itu begitu jelas menunjukkan ketertarikan. Bahkan orang awam pun bisa langsung menangkap maksud di balik pandangan mata Doni.
Dan Naka... Naka melihat semuanya dari kejauhan.
Langkah kakinya terhenti. Kedua tangannya perlahan mengepal erat di sisi tubuh. Urat-urat di pelipisnya menonjol samar. Rahangnya mengeras seketika. Pandangan matanya yang tadinya lembut kini berubah tajam dan gelap seketika, seakan ada badai besar yang tiba-tiba melanda di balik manik mata itu. Api cemburu seketika membakar dadanya, panas, tajam, dan perih.
Ia melihat Doni berdiri begitu dekat. Terlalu dekat menurut seleranya. Ia melihat senyum Doni yang begitu leluasa terukir di wajah tampannya. Ia melihat bagaimana laki-laki itu menatap miliknya... menatap perempuan yang baru saja beberapa jam lalu mendesah halus di pelukannya, menatap perempuan yang kemerahan pipinya baru saja ia kecup, menatap perempuan yang senyum manja dan tatapan beraninya baru saja ia miliki sepenuhnya.
Dan laki-laki asing ini... berani-beraninya menatapnya begitu. Berani-beraninya mendekat. Berani-beraninya bersikap akrab seakan ia punya hak atas perhatian Shinta.
Darah di tubuh Naka mendidih seketika. Napasnya terasa berat menahan amarah yang tiba-tiba melonjak tinggi.
Di sana, Doni masih terus berbicara dengan nada yang terdengar begitu manis dan berusaha memikat.
"Kalau sudah selesai ini..." ucap Doni sambil tersenyum lebar, suaranya sengaja dibuat terdengar selembut mungkin. "Izinkan aku mengantarmu pulang ya. Kebetulan hari ini aku tidak lembur. Lumayan kan, tidak perlu naik kendaraan umum sendirian."
Shinta sedikit tersenyum canggung sambil menggeleng pelan. "Terima kasih tawarannya, Mas Doni. Tapi maaf, sepertinya saya belum bisa pulang sekarang. Masih ada beberapa hal yang harus saya selesaikan dulu."
"Ya tidak apa-apa." Doni seakan tak menerima penolakan itu. Ia justru semakin mendekatkan wajahnya, suaranya kini terdengar lebih pelan dan penuh pesona. "Kalau begitu aku tunggu saja sampai kamu selesai. Tidak lama kok, aku bisa menunggu di ruanganku. Setelah itu kita pulang bareng. Aku ada sedikit hal menarik yang ingin kuberitahukan padamu. Atau... sekalian aku traktir makan malam setelahnya? Anggap saja teman biasa."
Doni menatap bibir Shinta sejenak sebelum kembali menatap matanya, menunggu jawaban dengan penuh harap. Sikapnya begitu percaya diri, seakan yakin Shinta tak akan menolak ajakannya.
Sementara itu, kesabaran Naka sudah menipis hingga tinggal sehelai benang saja.
Ia melihat Shinta terdiam sejenak. Ia melihat bibir perempuan itu bergerak pelan hendak menjawab. Dan bayangan seandainya Shinta menerima tawaran itu, seandainya perempuan itu tersenyum dan setuju untuk pulang bersama laki-laki lain... seketika membuat pertahanan diri Naka runtuh seketika.
Dengan langkah tegap dan berat, Naka melangkah mendekat. Setiap langkahnya terdengar tegas di atas lantai, menciptakan suasana hening yang mendadak menyesakkan. Aura di sekelilingnya berubah seketika. Dingin. Mengintimidasi. Dan penuh amarah yang tertahan rapat-rapat.
Doni yang merasakan kedatangan seseorang yang memiliki wibawa jauh di atasnya, seketika menoleh. Senyum di wajahnya perlahan luntur saat mendapati sosok direkturnya berdiri tak jauh dari sana. Wajah Naka tampak datar, namun matanya... matanya menatap tajam lurus ke arah Doni, penuh peringatan yang nyaris terasa seperti silet yang siap melukai kapan saja.
Naka berhenti tepat di samping Shinta. Ia tidak menatap perempuan itu. Matanya tertuju tajam pada Doni.
"Mas Doni..." suara Naka terdengar rendah dan berat, namun tekanannya begitu kuat hingga membuat bulu kuduk Doni seketika meremang. "Masih belum pulang?"
Doni sedikit tergagap, mundur selangkah tak sadar. Ia merasakan hawa yang tak bersahabat memancar dari sosok atasannya itu.
"Ah... iya, Pak Direktur. Saya..." Doni berusaha tersenyum tenang meski hatinya mulai berdebar tak tenang. "Saya hanya... bermaksud membantu Shinta. Dan... dan sekadar menawarkan tumpangan pulang."
Naka terdiam sejenak. Hening yang terasa menyakitkan itu menyelimuti mereka bertiga. Tatapan mata Naka semakin menajam, seakan ingin membaca isi kepala Doni sekaligus memperingatkannya agar tak berani melangkah lebih jauh.
"Terima kasih atas ketulusan hati Anda, Mas Doni." Naka berbicara pelan namun setiap katanya terasa begitu berat dan penuh penekanan. "Namun izinkan saya mengingatkan..."
Naka melangkah selangkah lebih dekat ke arah Doni, membuat laki-laki itu semakin tak nyaman dan terdesak mundur. Suaranya turun semakin rendah, namun amarah di dalamnya seakan siap meledak kapan saja.
"...Bahwa urusan Shinta adalah tanggung jawab saya sepenuhnya. Mulai dari pekerjaannya, hingga urusan pulang-perginya. Jadi..." Naka menatap tajam tepat ke manik mata Doni, nadanya kini terdengar seperti peringatan yang tak bisa dibantah sedikit pun. "...Saya rasa tidak perlu ada bantuan atau tawaran lain dari pihak lain. Mengerti maksud saya?"
Doni menelan ludahnya dengan susah payah. Ia merasa seakan ada gunung besar yang berdiri tegak di hadapannya. Tatapan mata Naka begitu mengintimidasi, begitu jelas menyatakan kepemilikan mutlak atas perempuan yang berdiri di sampingnya. Tak ada ruang bagi siapa pun untuk masuk. Tak ada celah bagi siapa pun untuk mendekat.
"S-... Mengerti, Pak." Doni mengangguk kaku, perlahan mundur selangkah. "Kalau begitu... saya pamit dulu, Pak. Selamat sore."
Doni segera berbalik dan melangkah pergi secepat mungkin, seakan merasa tercekik jika berdiri sedetik pun lebih lama di hadapan Naka.
Hingga sosok Doni benar-benar menghilang di balik pintu, suasana di ruangan itu masih terasa berat dan panas. Naka masih berdiri tegak di tempatnya, kedua tangannya kini mengepal erat di sisi tubuh. Dadanya masih naik turun menahan amarah yang belum sepenuhnya reda. Urat lehernya sedikit menonjol, rahangnya masih mengeras, dan pandangan matanya yang tadi tajam kini perlahan beralih jatuh pada Shinta.
Shinta berdiri mematung di tempatnya. Ia menyaksikan semuanya. Dari kedatangan Doni, tawaran pulangnya, hingga ledakan kemarahan Naka yang begitu tiba-tiba namun begitu melindunginya sepenuhnya. Jantungnya berpacu kencang bukan karena takut, melainkan karena terharu sekaligus tergugup melihat betapa besar rasa memiliki laki-laki itu padanya. Betapa tidak sanggupnya ia melihat laki-laki lain mendekat, sekadar menyapa pun rasanya tak rela.
Naka menatapnya lama sekali. Tatapan yang penuh amarah yang perlahan bercampur dengan rasa takut kehilangan. Ia melangkah mendekat, lalu berhenti tepat di hadapan Shinta. Tangannya yang masih mengepal perlahan terulur, menyentuh pipi halus perempuan itu dengan sentuhan yang kontras — lembut namun bergetar menahan emosi yang meluap.
"Kamu..." suara Naka terdengar serak dan berat, napasnya memburu hangat menyapu wajah Shinta. "Kamu senang sekali ya diperhatikan laki-laki lain?"
Shinta menatap mata Naka yang gelap dan berkilat cemburu. Ia perlahan tersenyum tipis, lalu mengangkat tangannya menyentuh punggung tangan besar yang sedang menangkup pipinya.
"Saya tidak senang, Pak..." bisiknya pelan namun tegas. "Saya hanya diam. Karena saya tahu... pasti ada seseorang yang akan datang melindungi saya."
Naka terdiam. Tatapan tajamnya perlahan melembut. Ia menghela napas panjang, lalu menarik Shinta masuk ke dalam pelukannya yang erat dan mendesak. Seakan takut jika dilepaskan sedetik saja, perempuan itu bisa saja dibawa pergi oleh pandangan laki-laki lain.
"Mulai sekarang..." bisik Naka parau tepat di telinga Shinta, suaranya terdengar berat dan penuh kepemilikan yang tak bisa ditawar. "...Jangan biarkan siapa pun mendekatimu begitu. Jangan tersenyum pada mereka. Jangan menatap mata mereka begitu. Kamu milikku, Shinta. Hanya milikku seorang. Jantungmu, senyummu, waktumu... semuanya milikku. Mengerti?"
Shinta tersenyum bahagia di dalam pelukan itu, memeluk erat pinggang laki-lakinya sambil menyandarkan kepala di d**a bidang yang masih berdetak kencang karena amarah tadi.
"Mengerti, Pak..." bisik Shinta lembut. "Saya milik Bapak. Sepenuhnya. Dan tidak ada laki-laki lain yang bisa membuat saya tertarik... selain Bapak sendiri."
Naka mempererat pelukannya, mencium puncak kepala perempuan itu dengan penuh rasa syukur sekaligus janji. Dan di dalam hatinya, ia kembali bersumpah — tak akan membiarkan siapa pun, seberapa tampan atau seberapa baik pun laki-laki itu, berani menyentuh atau mendekati apa yang sudah menjadi miliknya seutuhnya. Biarlah api cemburu itu berkobar, karena itu tandanya... cintanya begitu besar hingga tak sanggup berbagi sedikit pun dengan siapa pun.