Jenie masih tetap terdiam walau pelayan telah mengobati luka di kakinya. Dia benar-benar tanpa ekspresi, datar dan kaku. “Non, istirahatlah dan jangan bergerak dulu sebelum lukanya sembuh,” kata pelayan sambil beranjak dari kamar Jenie. Sepeninggal pelayan, Jenie beranjak dari duduknya dan berjalan ke balkon kamar, dia tak menghiraukan peringatan pelayan dan membuat lukanya berdarah kembali. Tapi Jenie seolah tak merasakan apa pun di kakinya. Dia tak merasakan sakit dan pedih yang ada di kakinya, dia hanya merasa sakit dan pedih yang ada di hatinya. Kedatang polisi tadi benar-benar telah membuat luka di hati Jenie kembali menganga. Luka yang dapat merubah sikap Jenie seketika. “Kalian harus merasakan rasa sakit yang ada di hatiku,” gumam Jenie pelan. Kini tatapan Jenie menerawang jauh

