Jenie masih terbaring di ruang ICU. Tubuh lemahnya kini mulai membaik dan mulai menghangat, tak sekaku tadi. Darah hangat telah mengalir keseluruh tubuhnya. Perlahan tapi pasti, wajah cantiknya mulai terlihat. Pucat tubuhnya telah berganti dengan warna kulitnya yang putih bersih.
Hembusan napas Jenie yang di bantu selang oksigen mulai teratur, begitu pun dengan detak jantungnya. Jenie telah melewati semua masa kritisnya karena hipotermia yang di alaminya. Namun demikian, mata indahnya masih terpejam. Dia masih asyik dalam tidurnya, seolah dia tak tidur selama berhari-hari.
Ssrreett... sebuah tangan dingin dan kaku mengelus wajah Jenie yang begitu halus dan lembut. Tangan itu terus mengelus dengan penuh kasih dan sayang. Perlahan mata cantik Jenie terbuka memperlihatkan manik hitam yang mempesona. Manik hitam yang menjadi perbedaan dari dirinya dan Jane. Manik hitam yang sangat jarang di miliki oleh orang lain yang ada di dunia ini.
“Jane...,” kata Jenie lirih.
Manik hitamnya menatap sosok perempuan yang ada di hadapannya. Jenie tidak merasa takut atau sedih, dia justru bahagia karena dapat kembali bertemu dengan saudara kembarnya, Jane.
Wajah kaku Jane tersenyum pada Jenie. Setitik air mata jatuh membasahi pipi Jenie. Dia masih tak percaya kalau di dapat kembali melihat manik coklat milik Jane. Jenie berusaha merengkuh tubuh kaku Jane dengan tangannya yang lemah. Namun ketika tangan itu terulur, tubuh Jane mundur menjauh dari jangkauan Jenie.
“Jane...,” kata Jenie
“Tidak sekarang Jenie, ada waktunya kita akan bersama dan tak terpisahkan lagi.”
“Tapi Jane....”
“Aku akan selalu ada untukmu Jenie. Kita akan selalu bersama dan tak akan pernah ada yang dapat memisahkan kita.”
Perlahan tubuh kaku Jane mulai menghilang dari hadapan Jenie, menyisakan rasa pilu yang mendalam di hati Jane. Rasa sepi dan rindu akan saudaranya kembali menyeruak di dalam hati Jenie. Tubuhnya kembali dingin seperti saat Ibu Sofia menemukannya di atas makam Jane beberapa jam lalu. Detak jantungnya mulai tidak stabil, napasnya mulai cepat seolah tidak ada oksigen di dalam paru-parunya. Tubuhnya bergetar hebat dan manik hitamnya menghilang hingga hanya terlihat warna putih di matanya.
“Dokter... dokter...,” seorang suster yang baru saja masuk ke dalam ruang ICU langsung memanggil dokter saat melihay kondisi Jenie.
Tap... tap... tap... langkah kaki dari beberapa orang berderap dengan sangat cepat menuju ruang ICU. Terlihat seorang dokter dan dua orang suster masuk ke dalam ruang ICU.
“Ada apa, Sus?” tanya dokter kepada suster yang memanggilnya sambil mengenakan pakaian steril.
“Saya tidak tahu, Dok, ketika saya masuk pasien sudah seperti itu.”
Dokter langsung memeriksa tubuh Jenie yang masih bergetar dengan hebatnya dan matanya masih menunjukkan warna putih. Beberapa tindakan dilakukan oleh dokter untuk menyelamatkan Jenie. Berulang kali dokter menekan d**a Jenie agar jantung Jenie berdetak kembali dengan normal.
“Siapkan alat kejut jantung,” kata dokter.
“Baik, Dok,” kata seorang suster.
Berulang kali dokter menggunakan alat kejut jantung mencoba agar detak jantung Jenie kembali normal. Peluh mulai keluar dari pori-pori wajah dokter berusia setengah abad tersebut.
Tit... tttiiiittt... alat deteksi jantung berbunyi dengan kerasnya menunjukkan bahwa jantung Jenie sudah tidak berdetak lagi. Tubuh Jenie semakin dingin dan semakin kaku menunjukkan bahwa dia telah pergi.
“Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un... kabari keluarganya, Sus dan tolong bereskan semua alatnya,” kata dokter.
Dokter berbalik dan berjalan sambil melepaskan baju steril khusus ruang ICU. Ada raut wajah sedih di balik wajahnya yang mulai keriput.
“Dok... tunggu, Dok...,” kata seorang perawat memanggil dokter yang akan segera meninggalkan ruang ICU.
“Ada apa, Sus?”
“Itu, Dok, detak jantung pasien kembali.”
Dokter segera masuk ke dalam ruang ICU dan mengenakan pakain sterilnya. Langkah lebarnya mendekati tubuh Jenie yang masih pucat. Dengan segera dokter memeriksa denyut nadi dan detak jantung Jenie. Benar, Jenie telah kembali lagi ke dunia dan jantungnya kembali berdetak normal.
Perlahan manik hitam Jenie kembali terlihat. Tidak, maniknya tidak lagi berwarna hitam seperti sebelumnya, tapi sedikit berwarna kecoklatan, hampir mendekati manik milik Jane.
Suster dan dokter yang melihat Jenie telah sadar, tersenyum lega. Mereka tak pernah menyangaka jika Jenie akan sadar setelah detak jantungnya menghilang dan dokter menyatakan bahwa dia meninggal. Setelah memeriksa Jenie, dokter keluar meninggalkan Jenie dalam penanganan suster. Sebuah senyuman penuh kelegaan tersungging di bibirnya.
“Apa yang terjadi pada keponakan saya?” tanya Tian yang telah berada di depan ruanb ICU.
“Keponakan anda baru saja melewati masa kritisnya walau sesaat kami kehilangan detak jantungnya.”
“Lalu sekarang bagaimana dia?”
“Dia baru saja sadar.”
“Boleh saya masuk?”
“Silahkan.”
Dokter meninggalkan Tian yang masih berdiri menatap tubuh pucat Jenie dari balik kaca ruang ICU. Air matanya jatuh membasahi pipinya. Tidak, itu bukan air mata kesedihan tapi air mata kebahagiaan. Tian segera melangkahkan kakinya memasuki ruanh ICU setelah suster selesai memberikan tindakan pada Jenie. Dia mengenakan baju steril dan mulai berjalan ke dekat Jenie.
Tian duduk di samping Jenie menatap wajah sayu dan layu keponakamnya. Tangannya terulur mengelus wajah Jenie yang begitu halus dan lembut tetapi rapuh. Kembali setitik air mata jatuh ke pipi cantik Tian. Dia masih tak percaya jika keponakannya kembali ke dunia ini setelah dia mendapat kabar bahwa keponakannya telah tiada.
“Tante kenapa nangis?” tanya Jenie lemah.
“Tante bahagia karena kamu telah melewati masa kritismu,” kata Tian dan air matanya semakin deras membasahi pipinya.
Sebuah senyuman tersungging dari bibir pucat Jenie. Entah itu senyuman kebahagiaan atau senyuman yang lainnya. Senyuman Jenie sangat sulit untuk di artikan sejak dia kehilangan saudara kembarnya, Jane.
“Mama mana, Tante?” tanya jenie.
“Mamamu di rawat sayang,”
“Mama sakit apa, Tante?”
“Mamamu kecapean.”
“Pasti karena Jenie.”
“Tidak sayang, itu bukan karenamu tapi karena mamamu kurang istirahat saja.”
Jenie terdiam mendengarkan jawabannya dari tantenya. Dia sangat tahu bahwa Tante Tian tengah berbohong padanya agar dia tidak merasa bersalah atas sakitnya mamanya. Jenie tahu betul bahwa mamanya selalu memikirkan kebaikan dan kebahagiaan dirinya dan Jane. Sedikit saja mereka terluka, maka Ibu Sofia akan sangat mengkhawatirkan mereka hingga tak memperdulikan kesehatannya. Dan beberapa hari terakhir ini, Ibu Sofia sangat sedih atas menghilangnya Jenie, terlebih dia baru saja kehilangan Jane.
Jenie memejamkan matanya dan menahan air mata yang siap turun membasahi pipi pucatnya. Jenie kembali menyembunyikan semua kepedihannya di dalam hatinya sendiri. Dia tak ingin jika Tante Tian atau Ibu Sofia menyadari ada kesedihan mendalam di hatinya.
“Kalian akan membayar semuanya!” kata Jenie di dalam hati.