Malam semakin larut dan bintang-bintang mulai bertaburan menghiasi langit malam yang gelap dan sunyi. Bulan sabit yang terang seolah menjadi pelengkap langit malam yang ditaburi bintang-bintang. Rocky mulai beranjak dari tempat dia mengenang semua mengenai kekasih yang begitu dicintainya. Kekasih yang telah meninggalkannya untuk selamanya.
“Kamu akan selalu hidup dalam hatiku, Sayang,” gumam Rocky lirih.
Kaki kokoh Rocky mulai memasuki rumah yang begitu megah bak istana hasil kerja kerasnya selama ini. Rumah yang menjadi tempat impiannya untuk hidup bersama kekasih hatinya yang kini hanya tinggal sebuah kenangan. Rocky terus melangkahkan kakinya ke ruang makan yang di hiasi bunga mawar hitam yang menunjukkan bagaimana kelabunya hatinya saat ini.
“Tuan makan sekarang?” tanya seorang pelayan kepadanya dengan suara yang sedikit bergetar khawatir mengusik ketenangan sang tuan rumah yang akhir-akhir ini emosinya tidak stabil.
“Masak apa hari ini?” tanya Rocky.
“Capcay, lapis daging dan...,” kata pelayan.
“Saya makan dengan capcay dan lapis daging saja, hidangkan sekarang!” kata Rocky memotong perkataan pelayannya.
“Baik, Tuan,” kata sang pelayan sambil berlalu dari hadapan Rocky.
Ya, sejak kepergian kekasihnya, Rocky menjadi lebih emosional. Dia sangat tak suka jika ketenangannya di ganggu, dan dia pun tak menyukai jika para pegawainya bekerja lambat.
Pelayan menghidangkan makanan yang diminta Rocky dengan cukup cepat. Dia tak ingin terkena amarah sang tuan rumah hanya karena dia lamban menyajika makanan.
“Ganti semua mawar yang ada di rumah dengan mawar biru, sekarang!” kata Rocky di tengah-tengah makannya.
“Baik, Tuan. Tapi maaf, Tuan, bolehkah kami memetik bunganya di taman?” kata pelayan.
“Tidak! Dia tidak akan membiarkan siapan pun memetik mawar birunya dari tamannya, kecuali dia,” kata Rocky.
Rumah Rocky memiliki taman mawar biru yang sangat indah yang selalu menyebarkan wangi yang sangat harum. Itu adalah taman permintaan Jane yang sangat menyukai mawar biru.
Sreett... sebuah tangan menggenggam tangan Rocky dengan sangat lembut. Rocky melihat ke arah pemilik tangan itu dan seseorang tengah duduk di di kursi yang ada di sampingnya. Seorang gadis bermanik coklat terang dengan rambut hitam panjang tergerai dan mengenakan sebuah dress berwarna navy hingga membuat kulit putihnya semakin bercahaya.
“Sayang,” kata Rocky lirih dan perempuan tersebut hanya tersenyum dengan sangat indahnya.
“Biarkan dia memetik bunga di tamanku sayang,” kata gadis itu sambil terus memandang wajah tampan dan tegas Rocky.
“Baiklah, Sayang, jika itu yang kamu inginkan,” kata Rocky. Dengan suara lantangnya Rocky memanggil pelayan yang telah berlalu dari hadapannya.
“Anda memanggil saya, Tuan?” tanya seorang pelayan yang sudah berganti pakaian dan bersiap untuk mencari bunga mawar biru.
“Petik bunganya dari taman, tapi ingat jangan lebih dari 50 tangkai!” kata Rocky.
“Baik, Tuan,” kata pelayan sambil berlalu dari hadapan Rocky.
Kembali Rocky melanjutkan makannya sambil menatap Jane yang sedang duduk menemaninya makan. Bagi dia, kekasihnya tak pernah mati dan selalu ada menemaninya, memberikan senyum terindahnya kepada Rocky.
Selesai makan, Rocky mengajak wanitanya untuk menonton televisi di ruang keluarga. Tangan kokohnya memeluk pinggang Jane yang ramping.
Tap... tap... tap... sebuah langkah kaki mengusik ketenangan Rocky yang sedang menikmati wanginya rambut Jane.
“Ada apa?” tanya Rocky saat melihat seorang pelayan mendekat ke arahnya.
“Maaf, Tuan saya hanya mau mengganti vas bunga saja,” kata si pelayan sambil mengganti vas bunga yang ada di meja yang ada di hadapan Rocky.
“Permisi, Tuan,” kata pelayan sambil berlalu dari hadapan Rocky.
“Kamu menyukainya, Sayang?” tanya Rocky sepeninggal pelayan.
“Sangat, Sayang, jangan pernah ada lagi mawar hitam di rumah ini,” kata gadisnya sambil menatap mata Rocky dengan mesra.
“Ya, Sayang,” kata Rocky sambil mencium puncuk kepala kekasihnya.
Sejenak Rocky memejamkan mata dan menikmati setiap kebersamaannya dengan wanitanya. Dia tahu kalau gadis itu telah tiada, tapi bagi dia, kekasihnya selalu hidup dan bayangannya selalu menemaninya dimana pun dia berada.
***
Prang... Sebuah benda jatuh dengan sangat keras. Tidak, benda itu bukan jatuh tanpa sengaja tapi jatuh dengan di sengaja. Seseorang telah menjatuhkan sebuah vas bunga berisi mawar merah darah yang masih segar.
Gadis yang telah melempar vas bungan tersebut hingga menjadi puing-puing berjalan mengambil sebuah bunga yang terongggok di lantai. Tangannya mengelus halus bunga mawar yang ada di tangannya seolah bunga itu adalah sebuah kristal yang sangay berharaga dan sangat rapuh. Matanya terus menatap ke dalam bunga mawar yang ada di tangannya. Mata indahnya tak berkedip walau hanya sedetik.
“Jen... ada apa, Sayang?” tanya Ibu Sofia yang berlari dengan tergopoh-gopoh memasuki kamar Jenie begitu mendengar benda jatuh.
“Jenie tidak apa-apa, Ma, tadi Jenie gak sengaja, Ma, nyenggol vas bunga,” kata Jenie berbohong.
“Tapi kamu tidak terlukakan sayang?”
“Jenie tidak apa-apa, Ma.”
“Ya sudah biar mama panggilan pelayan untuk membereskan semuanya.”
Ibu Sofia berlalu dari kamar Jenie untuk memanggil pelayan agar membersihkan semua pecahan vas bunga yang bertebaran di mana-mana. Sementara itu, sebelum pelayan datang, Jenie segera mengambil sebuah pecahan vas bunga yang cukup tajam dan cukup besar. Dia memasukkan pecahan kaca tersebut ke dalam laci meja riasnya kemudian duduk di balkon kamar yang menghadap ke taman yang di tumbuhi bunga mawar berbagai jenis.
“Kamu sangat menyukai mawar biru Jane, dan aku menyukai mawar merah. Sama-sama menyukai mawar tetapi berbeda warna. Sama seperti kita, kembar tapi tak semuanya sama,” kata Jenie lirih.
Setitik air bening membasahi pipi mulus Jenie yang menandakan bahwa dia masih kehilangan sosok kembarannya yang selalu dicinta dan di sayangnya.
Tok.. tok.. tok.. sebuah ketukan di pintu membuyarkan semua lamunan dan kesesihan Jenie. Dia melihat ke arah pintu kamarnya dan mendapatkan seorang pelayan tengah berdiri di ambang pintu menunggu izinnya untuk masuk.
“Masuklah dan bersihkan dengan cepat, saya ingin istirahat,” kata Jenie memberi izin.
“Baik, Nona,” kata pelayan sambil masuk ke dalam kamar Jenie.
Pelayan membereskan semua pecaham vas bunga yang berserakan di lantai kamar Jenie. Sementara itu, Jenie terus menatap langit yang di hiasi oleh taburan bintang dan bulan sabit yang menjadi pelengkap malam yang sepi.
“Saya permisi, Nona,” kata pelayan yang telah selesai membereskan semua pecahan vas bunga.
Sepeninggal pelayan, Jenie segera kembali ke dalam kamarnya dan mengambil pecahan vas bunga dari dalam laci serta setangkai mawar merah yang teronggok di atas tempat tidurnya.
“Kalian akan segera membalas semua perlakuan kalian pada saudari kembarku,” kata Jenie lirih