Pagi ini Jenie bangun dengan senyuman penuh kemenangan yang tersungging dari sudut bibirnya. Dia merasa puas dengan apa yang telah dilakukannya semalam. Jenie beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan gontai ke arah meja rias di mana dia menyimpan tasnya semalam. Jenie membuka tasnya dan mengambil pecahan vas bunga yang dipenuhi bercak darah yang telah mengering. Matanya nanar menatap pecahan vas bunga tersebut, masih terbayang dalam benaknya bagaimana Michel meregang nyawa di hadapannya, oleh tangannya sendiri. “Pembalasan yang manis dan sebuah peringatan keras bagi kalian!” kata Jenie dalam hati. Perlahan Jenie mengelus noda darah yang telah mengering itu. Ada rasa bahagia saat memegang noda darah pendosa yang telah melenyapkan saudari kembarnya. Tok.. tok.. tok.. sebuah ketukan di

