Ziya POV
Waktu berjalan dengan cepatnya. Tak terasa hari ini tepat 5 bulan aku menjadi mahasiswa jurusan pendidikan agama islam. Sebentar lagi akan berganti menjadi mahasiswa semester genap. Aku telah resmi menjadi mahasisiwi setelah menjalani beberapa ketentuan perkuliahan. Aku pun kini telah mendapat ilmu-ilmu baru yang sesuai jurusanku. Hari ini aku ada jadwal kuliah seperti biasanya. Aku ada kelas sekitar pukul 10.00, pukul 12.30, dan pukul 14.00 WIB. Aku menyiapkan segala buku-buku yang diperlukan. Kemudian setelahnya mematut diri memastikan penampilan dari atas kepala hingga ujung kepala.
“Baju sudah, jilbab sudah, kaos kaki sudah, tas sudah...ok siap.” Kataku sambil bercermin.
Kemeja panjang, blazer panjang dan rok sudah cocok ku pakai. Kemeja polos bewarna piece dilipat kedalam sebatas pinggang yang kemudian di tambah dengan rok panjang bewarna biru muda dan dipadupadankan dengan blazer panajang dengan model hampir menyerupai abaya bewarna senada dengan rok. Dan terkahir khimar syar’i yang tak terlalu panjang. Meskipun anak kuliah tapi pakaianku pun harus tetap memenuhi syariat islam. Semuanya sudah pas dan lengkap. Kini hanya tinggal berangkat ke kampus.
***
Pukul 07.30 WIB
Memang masih 2,5 jam lagi aku ada kelas. Tapi berhubung aku ada janji dengan teman sekelasku jadi aku berangkat lebih awal. Aku ada janji dengan Rara dan Fitri. Ya mereka teman baruku, ah tidak-tidak mereka sahabat baruku. Hari ini dan pagi ini kami sudah janji untuk mengerjakan tugas yang diberikan dosen bersama-sama.
Aku tutrun dari lantai dua rumahku. Ku lihat di bawah abi masih belum berangkat kerja.
“Kak mau kuliah ?” tanya Abi.
“inggih Abi.” Jawabku.
“Ya udah bareng Abi aja, Pak Mardi endak bisa dateng hari ini soalnya lagi sakit. Tadi istrinya telpon Abi.” Kata abi menjelaskan.
“Innalillahi, .oh ya sudah kalau begitu, Ziya bareng ya Bi.” kataku.
“Iya sayang..udah pamit dulu sana sama bunda.” Perintahnya. Aku melenggang menuju bunda untuk berpamitan.
“Bunda.....kakak berangkat kuliah ya.”
“Iya sayang, berangkat sama Abi ?”
“Inggih.” jawabku sambil mengangguk.
“Ya udah hati-hati ya,”
“siap bunda. Assalamu’alaikum bundaku sayang.” Kataku sambil mencium punggung tangannya.
“Wa’alaikumussalam sayang.” katanya kemudian menciumku.
Hari ini aku berangkat bersama Abi. Aku duduk di sebelah Abi. Abi menekan klaksonnya dan kemudian menginjak gas meninggalkan rumah. Di mobil Abi menanyakan jadwalku.
“kak....nanti ada jadwal sampek jam berapa..?” tanya abi.
“Sampek jam tiga Bi.” jawabku.
“Jam tiga, kayaknya abi endak bisa jemput. Abi ada meeting sama customer restoran mau booking. Kamu endak papa pulang sendiri ??”
“Endak papa kok Bi, Kakak nanti bisa naik angkot atau taksi.”
“Hem ya udah kalo gitu...Mm apa kalo endak kamu dijemput bunda atau adikmu aja..?”
“Eh..endak Bi kakak naik transportasi umum aja, kalo enggak ya nanti nebeng Rara atau Fitri aja hehe.” kataku.
“Hem ya udah hati-hati ya.”
“Siap abi bos.” jawabku sambil tersenyum semangat. Abi mengusap kepalaku. Oh ya aku belum cerita abi sekarang sudah memiliki yayasan pendidikan. Mungkin sekitar ada tiga yayasan pendidikan, semuanya jenis sekolah agama. Ya bisa dibilang yayasan sejak madrasah ibtida’iyah sampai madrasah aliyah. Abi tidak mau menjadi kepala sekolah. Beliau hanya ingin menjadi pemilik sekolah. Abi lebih suka menjadi pengajar di pesantren milik eyang dan juga menjadi pemilik restoran yang sekarang cabangnya sudah dimana-mana. Paginya abi bekerja sebagai pengajar dan sebagian waktunya untuk mengwasi restoran dan yayasannya. Hanya Alhamdulillah yang dapat keluargaku ucap.
Tak lama setelahnya aku sampai di kampus. Segera ku berpamitan pada abi.
“Abi, kakak kuliah dulu ya assalamu’alaikum.” Kataku sambil mencium tangannya.
“Wa’alaikumussalam sayang.” Jawabnya. Setelahnya aku keluar mobil dan mobil abi pun pergi.
***
Di kampus.
“Assalamu’alaikum ukhty-ukhty yang cantik...maaf ya telat.” kataku.
“Wa’alaikum salam ukhty Ziya, endak kok endak telat. Kita juga baru nyampek.” Kata Fitri. Fitri ini sahabatku yang memiliki sifat lembut, penyayang dan tentunya baik hati satu lagi enggak tegaan.
“Hehe ya udah ayok ngerjain tugas sekarang.” Kataku. Kami mengerjakan tugas di taman kampus sambil menungu jam masuk kelas. Kami mengerjakan tugas sambil menikmati suasana pagi di kampus. Kami mengerjakan dengan diselingi senda gurau biar tidak borring. Memang tugas ini tak terlalu banyak dan sulit. Jadi bisa diselingi dengan gurauan kecil.
“Eh, aku kok merasa dari tadi ada yang mandangin kita yah.” kata Rara. Rara sahabatku yang satu ini paling peka, kutu buku, baik, kadang humoris, kadang juga jutek tapi wajahnya cantik.
“Ih apaan sih Ra, perasaanmu aja kali !!” kata Fitri.
“Endak, kakak itu dari tadi ngeliatin kesini terus.” Katanya sambil menunjuk ke arah depan namun tak secara gamblang. Ku ikuti apa yang ditunjuknya. “Kayaknya aku pernah tau dia” batinku. Benar laki-laki yang di tunjuk Rara itu sedang melihat ke arahku dan teman-temanku. Langsung saja kusunggingkan senyumanku. Setelahnya dia pun tesenyum. Ku teruskan kembali pekerjaanku. Setelah berseda gurau dan bergelut dengan tugas kami pun masuk kelas memenuhi panggilan jam kuliah.
***
Pukul 14.00 WIB.
Saat ini giliran mapel ke tiga jadwal kuliahku. Menunggu dosen yang tak kunjung datang. Akhirnya salah satu temanku bilang kalau kuliah di tunda, dosen yang bersangkutan berhalangan hadir. Ada temanku yang bersungut-sungut karena sudah capek-capek nunggu eh malah endak dateng.
“Yah endak jadi mapel, perpus aja yuk!!” ajak Rara.
“Mm boleh, ayo kalo gitu.” jawabku.
“Eh aku endak ikut ya, aku disuruh jemput mama nih.” kata Fitri.
“Yah, ya udah deh, endak papa!!” kata Rara.
“jangan pada sedih gitu dong mukanya ukhty-ukhtyku, maaf ya.” kata Fitri.
“Iya udah sana, kasian mamamu nunggu lama.” Kataku.
“ya udah deh...aku pulang ya...Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam.” Jawabku dan Rara. Sepeninggal Fitri, aku dan Rara pun menuju perpustakaan.
Membaca halaman per halaman. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kini waktu telah menunjukkan jamnya pada pukul 16.30 WIB. Waktu ashar pun sudah lama terlewat. Kebetulan aku dan Rara sama-sama berhalangan. Jadi kami tidak risau ketika tertinggal sholat. kulihat jam tanganku.
‘Astaugfirullah’ pekiku.
“Ada apa Zi?”
“eh endak Ra ini kayaknya udah sore.” Kataku Rara melihat jam tangannya.
“Ah....iya..., ya udah yuk pulang.” Katanya dan kemudian handphonenya berbunyi. Dia mengangkat telpon. Setelahnya,
“Zi, maaf ya kayaknya kita endak bisa pulang bareng. Aku harus jemput adikku di satsiun. Mm atau kamu mau ikut aku jemput adikku? nanti aku anterin sekalian kamu pulang.” Katanya.
“Mm endak usah deh ra..udah jam segini juga. Bunda pasti khawatir aku belum pulang. Lagian kasian kamunya kalo harus nganterin aku dulu kan muter lebih jauh jadinya. Aku pulang naik transportasi umum aja.”
“Mm maaf ya Zi”
“Iya Rara sayang..endak papa kok, ya udah ayo!!” kataku. Rara menuju mobilnya dan aku menuju gerbang menunggu transportasi umum. Rara membunyikan klaksonnya dan aku menggangguk.
♥♥♥♥