5. Lubang Hitam

2579 Kata
Dari kejauhan, terdengar pelan suara tepukan tangan diiringi dengan suara langkah kaki dan semakin terdengar keras sampai terlihat laki-laki dengan mengenakan jubah bertudung kepala yang berwarna hitam, dari kejauhan tampak matanya yang memancarkan cahaya berwarna merah darah. Alio menengok kebelakang. "Tuanku," ucapnya seketika bertekuk lutut dan juga diikuti oleh laki-laki misterius yang juga bertekuk lutut kepada laki-laki berjubah hitam tersebut. "Bangunlah, Neru," ucap laki-laki berjubah ketika melintas di hadapan laki-laki misterius tersebut. "Neru?" ucap Tion. "Baik, terima kasih, Tuanku," sahut Neru berdiri. "Bangunlah, Alio," ucap laki-laki berjubah ketika melintas di hadapan Alio. "Baik, Tuanku," sahut Alio berdiri, "Sambutlah, Raja kami telah tiba, Raja dari segala Raja, Penguasa dari segala Penguasa yang menguasai seluruh dunia dan jagat raya, dia adalah Tuanku, Sang Penguasa Rieghart..." sambungnya menyerukan. "Benarkah dia Rieghart..." bisik Tion dalam hati. "Sepertinya begitu," sahut Naken. "Selamat datang..." ucap Rieghart, "Hanya untuk kalian, aku persilahkan kalian untuk mengatakan maksud kedatangan kalian kemari," sambungnya. "Tion, tolong kita bertukar sebentar," ucap Nim. "Naken," ucap Luiji. "Baiklah," sahut Tion dan Naken bersamaan. Kemudian Tion dan Naken bertukar kembali dengan Nim dan Luiji. "Terima kasih atas sambutan kalian yang begitu ramah." Nim tersenyum, "Kami datang kemari hanya ingin menjemput kembali teman kami yang bernama Juno yang telah dibawa oleh Alio," "Hhhmm... Juno...." Rieghart tersenyum. "Maaf, Aku tidak kenal dengan teman kalian yang bernama Juno," sambungnya. "Jangan bohong kau!" teriak Luiji. "Tunggu sebentar," pungkas Rieghart, "Alio, apa Juno itu adalah makhluk sejenis kelinci atau serangga?" tanya Rieghart tersenyum ke arah Alio. "Maaf Tuanku, dia adalah kelinci Tuanku," jawab Alio. "Ooh benar, benar, sekarang aku ingat," ucap Rieghart, "Apakah ini teman kalian?" sambungnya bertanya seketika dari jauh mengangkat tangannya kemudian tampak dari belakang tubuhnya sebuah sangkar besar yang terbang tepat dari dalam istana menuju ke arahnya. "Juno!" teriak Nim dan Luiji bersamaan ketika melihat temannya yang terkulai lemah berada dalam sangkar besar tersebut. "Sabar, sabar, kalian jangan berteriak," ucap Rieghart, "Nanti dia terbangun," sambungnya dengan tertawa kecil. "Cepat kembalikan teman kami!" teriak Nim. "Mengembalikannya?" tanya Rieghart dengan nada heran, "Sebenarnya aku ingin melepaskannya, tapi aku masih memerlukan tubuhnya," sambungnya. "Akan kau jadikan apa teman kami!" teriak Nim. "Aku tidak akan menyakitinya, aku hanya memerlukan tubuhnya sebagai wadah dari pecahan Hashfer yang sudah ku temukan, dan setelah semua pecahan terkumpul, teman kalian akan aku lepaskan," jelas Rieghart. "Maaf Tuanku," ucap Alio. Rieghart mengangguk, "Silahkan, Alio," ucap Rieghart. "Sangat beruntung nasib teman kalian ini, tubuhnya bisa berguna untuk membantu tujuan Tuan kami," ucap Alio, "Dan posisinya akan kami muliakan..." sambungnya sembari tertawa. "Sial, tidak akan aku biarkan kalian bertindak sesuka hati kalian!" teriak Nim, "Tion, ayo kita habisi mereka dan menyelamatkan Juno," bisiknya dalam hati. "SWICH!" Seketika Tion berlari ke arah Rieghart lalu melancarkan sebuah pukulan ke arahnya, namun dihalau oleh Alio, kemudian tangan Tion digenggam erat oleh Alio dan dilemparkannya sampai terpental jauh ke dinding istana. "Nim!" teriak Luiji berlari ke arah Nim. "Ternyata hanya segitu kemampuan kalian," ucap Rieghart ketika melihat tubuh Nim yang terlempar dan kemudian Rieghart berbalik melangkah kembali ke dalam istana menuju singgasananya, "Hhhmmm...." Langkah Rieghart terhenti ketika melihat tubuh Nim yang tampak aura putih keluar dari tubuhnya "Aku... Aku tidak akan membiarkan kalian berbuat sesuka hati kalian!" teriak Tion yang tampak aura putih berbentuk harimau menyelimuti tubuh Nim kemudian dengan cepat ia berlari ke arah Alio. "Naken, ayo... Kita tidak bisa diam saja melihat Nim yang dengan sekuat tenaga menyelamatkan Juno," ucap Luiji. "Baiklah," sahut Naken. "SWICH!" Di saat Luiji bertukar dengan Naken, seketika tubuhnya mengeluarkan aura putih kemudian membentuk wujud gurita yang menyelimuti tubuhnya. Kemudian juga berlari ke arah Alio. Tampak Tion dengan wujud harimau menyerang Alio namun dengan mudah dihalau oleh Alio, seketika dari belakang tampak sebuah tentakel melesat dengan cepat ke arah tubuh Alio, namun seketika tentakel itu digenggam oleh Neru. "Apa kalian melupakan aku?" ucap Neru. "Sial, Lepaskan tentakel ku," teriak Naken. "Baik, akan ku lepaskan," sahut Neru seketika dengan kuat melemparkan tentakel milik Naken sehingga membuat Naken terpental jauh. "Naken!" teriak Tion seketika berlari ke arah Naken, "Kau tidak apa-apa?" sambungnya bertanya. "Iya, aku tidak apa-apa," jawab Naken perlahan berdiri. "Nim, aku memerlukanmu untuk mengeluarkan seluruh kemampuan yang ku miliki," ucap Tion. "Bagaimana caranya?" tanya Nim. "Sama seperti latihan, lakukanlah meditasi dan di saat beberapa bintik kecil yang kau lihat bergerak menyatu, saat itu aku dapat mengeluarkan seluruh kemampuan," jawab Tion menjelaskan. "Baik," sahut Nim. "Luiji, lakukan seperti yang dikatakan Tion," ucap Naken. "Baik," sahut Luiji. Nim dan Luiji pun melakukan apa yang diarahkan oleh Tion. Dari luar, tampak aura biru keluar dari tubuh Nim dan Luiji sehingga aura putih yang awalnya menyelimuti tubuh mereka berubah warna menjadi biru. "Aku merasakan seperti terlahir kembali," ucap Tion tersenyum seketika dengan cepat melesat menyerang Alio sehingga serangan tersebut membuat pipi Alio terluka. "Dasar kau serangga!" teriak Alio yang kemudian melihat ke arah Naken lalu melemparkan tongkat di tangannya ke arah Naken. Dengan mudah Naken menangkap tongkat milik Alio. "Bodoh." Alio tertawa ketika melihat tongkatnya digenggam oleh Naken dengan tentakelnya. "Panaaass!" teriak Naken seketika melihat tongkat milik Alio yang digenggamnya yang menyala dengan warna merah. "Naken!" Tion berteriak. "Aku baik-baik saja, Tion," sahut Naken, "Ayo kita serang mereka bersama," sambungnya. Dengan seluruh kemampuan Tion dan Naken menyerang Alio, dan Alio pun kewalahan menghalau serangan dari Tion dan Naken, namun tanpa disadari oleh Tion dan Naken seketika serangan mereka dihalau dengan mudah oleh Neru. "Apa kalian melupakan aku!" teriak Neru, "SWICH!" Seketika tubuh Neru mengeluarkan aura berwarna hitam pekat, "Aku Ryuto." "Ryuto?" ucap Tion heran. "Apa dia juga Beaster sama seperti kita?" tanya Naken yang juga heran. "Benar, aku juga Beaster, sama seperti kalian," ucap Ryuto, "Dan Neru adalah seorang Caster," sambungnya menjelaskan. "Apa!!" ucap Tion terkejut dengan penjelasan yang dikatakan oleh Ryuto. "Tapi aku tidak pernah melihat kalian," sahut Tion. Tampak Ryuto dengan tubuh Neru yang tersenyum jahat. "Sepertinya banyak hal yang tidak kalian ketahui," ucap Ryuto, "Dasar serangga lemah," sambungnya. "Jaga omongan mu!" teriak Naken seketika dengan cepat melancarkan serangan ke arah Ryuto dengan menggunakan tentakelnya, namun dengan sekejap Ryuto berada tepat di samping Naken. "Sial!" ucap Naken. "Tolong kalian biasakan, jangan besar mulut," bisik Ryuto kemudian menjentikkan jarinya ke arah Naken sehingga membuat Naken terpental jauh ke dinding istana. "Naken!" teriak Tion menatap Naken yang terpental seketika dengan kecepatan penuh Tion menyerang Ryuto, namun kecepatan yang dimiliki oleh Tion masih tidak sebanding dengan kecepatan Ryuto sehingga semua serangan dari Tion dengan mudah dihalau oleh Ryuto. "Hentikan!" Terdengar suara teriakan menggelegar dari arah Rieghart yang sejak tadi hanya berdiri menonton dan kemudian berkata, "Alio, Ryuto, aku bosan!" "Maaf Tuanku," ucap Alio seketika melihat Rieghart yang melangkah kembali ke singgasananya. Kemudian Rieghart berhenti. "Suruh saja mereka berdua pulang," ucap Rieghart. "Baik Tuanku," sahut Alio kemudian menatap ke arah Tion dan Naken, "Baiklah, tampaknya cukup sampai disini dulu pertempuran kita," ucapnya kemudian Alio mengulurkan tangannya ke arah Tion dan Naken, seketika sebuah lubang hitam muncul di dekat Tion dan Naken berada dan lubang hitam itu menghisap tubuh Nim dan Luiji sehingga mereka masuk ke dalam lubang hitam tersebut dan menghilang. "Dadaah...." Tampak Ryuto melambaikan tangannya. "Aaaaa," teriak Tion. "Kita dimana?" tanya Naken. "Aku juga tidak tahu," jawab Tion. "Tion, Naken, Apa kalian tidak apa-apa?" tanya Nim. "Kita terhisap ke dalam lubang hitam, Nim," jawab Tion. "Tion, ayo kita gunakan teleportasi," sahut Naken. "Benar, baiklah," sahut Tion. Kemudian mereka memejamkan mata, namun mereka tidak dapat berpindah tempat. "Kenapa aku tidak bisa menggunakan teleportasi!" ucap Tion. "Benar, aku juga tidak bisa menggunakannya," sahut Naken, "Tempat apa-apaan ini!" teriaknya. Cukup lama mereka terombang-ambing dalam lubang hitam karena tidak dapat keluar dari sana, namun seketika muncul sebuah lorong dengan cahaya emas yang kemudian menghisap mereka. "Apa-apaan ini!" teriak Naken. Kemudian dari kejauhan tampak ujung dari lorong tersebut dan seketika setelah mereka sampai di ujung lorong, mereka jatuh di dunia yang belum pernah mereka lihat. Mereka jatuh di sebuah hutan yang langitnya tidak tampak seperti bumi, dunia tempat Nim dan Luiji tinggal. "Dimana kita, Tion?" tanya Naken. "Aku juga tidak tahu kita dimana, aku tidak pernah melihat tempat ini," jawab Tion. "Mungkin untuk sekarang kita harus menghemat kekuatan kita," ucap Naken, dan Tion mengangguk. "Nim, kita bertukar," ucap Tion dan seketika tubuh mereka yang masih diselimuti oleh aura biru kembali meresap ke dalam tubuh mereka. "Badan ku terasa sangat sakit," rintih Nim kesakitan setelah tubuhnya digunakan untuk bertempur. "Benar, aku juga," sahut Luiji. "Apa kita sudah kembali ke bumi?" tanya Nim menyandarkan tubuhnya pada salah satu pohon besar di dekatnya. "Aku tidak yakin, Nim," jawab Tion. "Tapi tempat ini sama seperti bumi," sahut Nim. "Nim, coba kau lihat ke atas," ucap Luiji yang berdiri sembari menatap ke langit. "Benar, ini bukan bumi," sahut Nim yang juga menatap ke langit, "Lalu kita berada dimana?" sambungnya bertanya. "Ayo kita coba teleportasi, Nim," ucap Luiji, "Pegang tanganku," sambungnya mengulurkan tangan. "Baik," sahut Nim seketika memegang tangan Luiji. Kemudian Luiji memejakan matanya seketika mereka berdua menghilang, namun ternyata mereka tetap muncul di tempat yang sama. "Kenapa kita masih disini?" tanya Nim. "Percuma kalian melakukannya, hanya akan membuang tenaga kalian," ucap Naken. "Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Luiji. "Kalian beristirahatlah disini sebentar, lalu kita lanjutkan lagi agar keluar dari hutan ini," jawab Tion. Terdengar suara perut Nim yang menandakan ia merasa lapar, "Hhhmm, aku lapar," ucapnya menggaruk kepala. "Ayo kita berkeliling, siapa tahu di hutan ini kita menemukan sesuatu yang dapat kita makan," sahut Luiji seketika melangkah dan mencoba mematahkan salah satu ranting pohon yang ukurannya seperti tongkat. "Ayo, Luiji," sahut Nim semangat. Nim dan Luiji kemudian memutuskan berkeliling hutan mencari sesuatu yang dapat mereka makan, lalu ketika di tengah hutan mereka menemukan sebuah semak dan di semak tersebut terdapat buah berry yang ukurannya lumayan besar. "Waaah, besar sekali buahnya," ucap Nim seketika memetik buah berry besar tersebut. "Hati-hati, Nim," sahut Tion memperingatkan Nim. "Benar, hati-hati, Nim!" teriak Luiji, "Jangan sembarangan memakan, bagaimana kalau buah itu beracun," sambungnya memperingatkan. "Tenang, Luiji," sahut Nim sembari menyantap buah raksasa tersebut, "Buah ini enak sekali," sambungnya mengucapkan dengan mulut penuh. "Dasar kau, Nim," sahut Tion. "Naken, apa ini tidak apa-apa?" bisik Luiji. "Sebaiknya kita periksa dahulu," sahut Naken. "Lalu bagaimana caranya memeriksa buah itu?" tanya Luiji. "Peganglah buah itu, Luiji," ucap Naken mengarahkan. "Baik, sudah," sahut Luiji memegang buah raksasa tersebut. "Pusatkan pikiranmu, lalu rasakanlah dari telapak tanganmu," ucap Naken, "Apakah buah itu terasa panas atau sebaliknya?" sambungnya. "Semakin dingin, Naken," jawab Luiji. "Baiklah, kau boleh memakannya," sahut Naken. Setelah Luiji memeriksanya dan ternyata buah raksasa tersebut dapat dimakan, kemudian ia pun dengan segera menyantap buah raksasa tersebut. "Benarkan, apa kataku," sahut Nim yang sudah kekenyangan menyantap beberapa biji buah berry raksasa, "Nah, sekarang aku dapat beristirahat," sambungnya. "Benar, untuk malam ini kita terpaksa beristirahat disini dulu," sahut Luiji. "Baiklah," sahut Nim yang kemudian menyandarkan lagi tubuhnya pada sebuah pohon yang ada di dekatnya, "Aahhh, aku sangat kekenyangan...." Nim meregangkan tangannya dan kemudian ia merebahkan tubuhnya. "Baik, sepertinya kita harus menunggu sampai hari sudah terang," sahut Luiji kemudian duduk dan menyandarkan tubuhnya pada sebuah pohon tepat di dekat Nim merebahkan tubuhnya dan kemudian mereka berdua tertidur. Hari mulai gelap, terdengar suara yang mengganggu Luiji, kemudan ia membuka matanya karena mendengar suara dari dalam semak-semak. "Siapa itu!" teriak Luiji seketika berdiri. Seketika dari semak-semak muncul seekor laba-laba yang tubuhnya sangat besar dan berjalan ke arah Nim dan Luiji. "Nim, cepat bangun!" teriak Luiji, "Nim!" teriaknya lagi karena Nim yang masih tertidur pulas akibat kekenyangan. "Naken!" ucap Luiji. "Ya," sahut Naken. "Apa dia Beaster?" tanya Luiji. "Bukan, makhluk raksasa itu bukan Beaster," jawab Naken, "Sepertinya itu hanya hewan biasa," sambungnya. "Ayo kita bereskan makhluk ini," ucap Luiji, "SWICH!" Dengan sekuat tenaga Naken memukul laba-laba raksasa tersebut, namun tak berpengaruh sama sekali sehingga membuat laba-laba raksasa itu semakin marah dan dengan cepat bejalan ke arah Luiji. "Kuat sekali mahkluk ini," ucap Naken. "Ayo bawa Nim pergi dari sini," ucap Luiji. "Baik," sahut Naken kemudian mengangkat tubuh Nim dan berlari menjauh dari laba-laba raksasa tersebut, namun laba-laba raksasa tersebut tetap mengejarnya. "Oy, Oy, ada apa Luiji, kenapa kau berlari membawaku?" tanya Nim yang seketika terbangun dari tidurnya. "Aku sudah berusaha membangunkan mu sejak tadi!" teriak Naken tetap berlari kemudian melepaskan dan menjatuhkan tubuh Nim. "Aduuh!" jerit Nim ketika tubuhnya terjatuh, namun Nim dikejutkan ketika ia menengok ke belakang dan tampak seekor laba-laba raksasa tepat berdiri di belakang tubuh Nim. "Hanya laba-laba raksasa..." ucap Nim dengan wajah santai, "Tion," bisiknya. "Ya," sahut Tion. "SWICH!" Dengan sekuat tenaga Tion memukul laba-laba raksasa tersebut namun laba-laba raksasa itu tak bergeming. "Makhluk apa ini!" ucap Tion, "Kuat sekali." Dengan perlahan Tion melangkah mundur kemudian dengan cepat ia berlari menyusul Naken yang sudah jauh meninggalkan dia. "Tunggu aku, Naken!" terian Tion. "Kalau aku bisa melawannya, aku tidak akan menggendong mu dan lari, Nim!" teriak Naken. "Iya, maaf, maaf," sahut Nim. Cukup jauh mereka berlari, namun laba-laba raksasa itu tetap mengejar mereka. Sampai mereka berlari dan keluar dari hutan tersebut, dan laba-laba raksasa itu pun menghentikan langkahnya lalu kembali masuk ke dalam hutan. "Dia sudah tidak mengejar kita lagi," ucap Naken menatap ke arah laba-laba raksasa yang kembali masuk ke dalam gelapnya hutan. "Tapi aku merasa sangat aneh," sahut Tion, "Makhluk itu terlihat seperti ketakutan ketika keluar dari hutan," sambungnya. "Kau benar," sahut Naken. "Nim, kita bertukar lagi," ucap Tion. "Baiklah," sahut Nim. "Nim, coba lihat ke sana, sepertinya kita bisa istirahat di tempat itu," ucap Luiji menunjuk ke sebuah bangunan. "Ayo kita coba kesana," sahut Nim seketika melangkah menuju bangunan tersebut. "Tempat ini seperti bekas sebuah pos penjaga yang ditinggalkan," ucap Luiji ketika masuk ke dalam bangunan tersebut, "Lihat kursi dan meja ini," sambungnya. "Mungkin kita dapat beristirahat malam ini disini," ucap Nim seketika merebahkan tubuhnya di atas salah satu meja. "Baiklah, semoga saja kita tidak bertemu makhluk seperti tadi," sahut Luiji yang juga merebahkan tubuhnya di atas salah satu meja tepat di samping Nim. Hari mulai terang, tampak cahaya menyilaukan sehingga membuat Nim terbangun dari tidurnya. "Sudah pagi ternyata," ucap Nim kemudian beranjak duduk, "Dimana Luiji," sambungnya ketika tidak melihat temannya tersebut. Kemudian Nim segera berdiri dan pergi mencari Luiji. "Luiji!" Nim berteriak ketika ia mengelilingi bagunan tersebut, dan ternyata ketika Nim tiba di belakang bangunan, ia melihat Luiji yang sedang dengan serius melakukan meditasi. "Luiji?" bisik Nim. Kemudian Nim perlahan melangkah mendekati Luiji, dan perlahan duduk di samping Luiji dengan maksud ikut meditasi. Tak berapa lama ketika Nim dan Luiji melakukan meditasi, mereka mendengar suara gemuruh seperti langkah kuda berlari yang semakin mendekat ke arah mereka, namun Nim dan Luiji masih tetap melakukan meditasi. "Siapa kalian!" Terdengar seru seseorang. Kemudian Nim dan Luiji membuka mata mereka, dan dilihatnya segerombol prajurit berkuda dengan mengenakan baju zirah berwarna perak. "Aku adalah kepala prajurit, dan namaku adalah Grazel," ucap salah satu prajurit yang mengenakan baju zirah kristal berwarna biru. "Maafkan kami," jawab Luiji, "Kami bukan berasal dari sini, dan sekarang kami tersesat" sambungnya menjelaskan kepada Grazel, kepala prajurit tersebut. "Jangan bohong kalian!" teriak salah satu prajurit yang lain. "Benar, kami tidak bohong," sahut Nim. "Tion, bagaimana ini?" tanya Nim dalam hati. "Jangan melawan mereka lebih dulu," jawab Tion, "Nanti mereka akan menganggap kita sebagai orang jahat," sambungnya. "Kalian harus ikut bersama kami ke istana!" ucap Grazel dengan tegas, "Prajurit! Ikat mereka, dan bawa mereka ke istana!" serunya kemudian. "Baik!" seru beberapa prajurit yang lain. "Hei, hei, sakit," ucap Nim ketika tangannya diikat oleh salah satu prajurit. "Nim!" ucap Tion, "Jangan melawan dulu, kita ikuti saja mereka," sambungnya. "Benar, Nim," lanjut Naken, "Sebaiknya kita ikut saja ke istana mereka, dengan begitu kita bisa mengetahui kita sekarang berada dimana," sambung Naken. "Baiklah," ucap Nim dalam hati seketika pasrah saat tangannya diikat oleh prajurit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN