2. Kemunculan Oldeus

2376 Kata
'Aaaaarrrgghhh' Luiji berteriak ketika ia merasakan sebuah bola yang memancarkan cahaya berwarna kuning melesat masuk ke dalam tubuhnya melalui mulutnya. Luiji terduduk lemas takjub dan terheran dengan apa yang telah terjadi pada dirinya. "Ka-kau tidak apa-apa?" ucap Nim. "Tadi itu apa?" ucap Luiji yang masih terduduk lemas. "Halo, salam kenal." Luiji mendengar seseorang berbicara dari dalam telinganya, "Aku Naken." "A-a-apaan ini!!" ucap Luiji menengok ke kiri dan kanan, "Dari mana asal suara ini." "Lu-Luiji, kau tenang dulu," ucap Juno. "Juno, apa Kau mendengarnya juga?" tanya Luiji kebingungan. "Tidak, Aku tidak mendengar apa yang telah kau dengar, Luiji," ucap Juno, "Tapi, aku bisa menjelaskan tentang apa yang telah terjadi sekarang," sambungnya. "Apa maksudmu, Juno?" tanya Luiji. "Baik, pertama-tama coba kau tanya siapa nama dari seseorang yang berbicara di telingamu itu, Luiji," ucap Juno. "Ma-maksudmu, caranya ba-bagaimana?" sahut Luiji, "Nim?" ucap Luiji menatap Nim. "Benar kata Juno," sahut Nim, "Kau ikuti arahan dari Juno," sambungnya. "Kau tenangkan dulu pikiranmu itu, Luiji," ucap Juno. "Apanya yang tenang!!" sahut Luiji. "Pejamkan matamu, Juno," ucap Nim. Kemudian Luiji menghela nafas panjang lalu mencoba perlahan menutup matanya. Tak disangka ketika Luiji memejamkan matanya, dia melihat sesosok gurita raksasa dan gurita raksasa tersebut berbicara. "Luiji," ucap gurita raksasa tersebut. "Aaaahh," teriak Luiji terkejut ketika melihat sosok gurita raksasa dalam pandangannya, kemudian seketika membuka kembali matanya. "Kau harus tenang, Luiji." Juno mencoba menenangkan Luiji, "Ayo coba lagi pejamkan matamu." "Ba-baiklah," ucap Luiji kemudian memejamkan matanya kembali dan dilihatnya lagi sosok gurita raksasa dalam pandangannya, "Si-siapa namamu?" tanyanya kepada gurita raksasa tersebut. "Namaku adalah Naken," Gurita tersebut menjawab, "Mulai sekarang kau dan aku akan berjuang bersama, Luiji," sambungnya. "Na-naken?" ucap Luiji. "Ya, Naken," balasnya, "Bukalah matamu kembali, kau tetap bisa mendengar suaraku," ucap Naken yaitu gurita raksasa tersebut. Luiji membuka matanya. "Gimana, Luiji?" tanya Nim, "Sudah mendingan?" sambungnya. Luiji mengangguk pelan. "Baik, aku akan menjelaskannya padamu," ucap Juno, "Lihat ini," sambungnya sembari menunjukkan gelang yang ada di tanggannya. "Dalam gelang ini terdapat sebuah makhluk yang mereka biasa menyebut diri mereka adalah Beaster," jelas Juno sembari mengusap gelang yang ada di tangannya, "Sama seperti milik Nim, hanya saja setiap Beaster berbeda setiap wujudnya," sambungnya menjelaskan. "Benar, awalnya aku juga sama seperti kau, Luiji," pungkas Nim, "Bahkan aku bersama Tion sempat bertemu dan bertarung dengan makhluk bertanduk, namanya Alio," sambungnya. "Apa benar kau bertarung dengan Alio, Nim?" tanya Juno terkejut. "Iya, aku sudah bertemu dan sempat bertarung dengan Alio," jawab Nim. "Tapi, Alio lah yang memberi gelang ini kepadaku," ucap Juno mengerutkan keningnya. "Siapa itu Alio?" tanya Luiji. .... Nim dan Juno terdiam sebentar. .... "Luiji, kau masih ingat dengan suara terompet yang kau dengar kemarin?" tanya Nim. "I-iya, aku masih ingat," jawab Luiji mengangguk. "Alio lah yang bertanggung jawab dengan kejadian kemarin yang sudah menghacurkan sebagian kota kita," jelas Nim. "A-a-apa!!" sahut Luiji, "Tapi aku lihat berita di televisi bukannya itu serangan dari negara tetangga," sambungnya. "Begitulah, bukan hanya akan menimbulkan perselisihan dengan negara tetangga, dunia kita dihadapkan dengan takdir yang berat, yaitu Rieghart yang berusaha menyatukan seluruh dunia dan menguasainya," jelas Nim. "Rieghart?" ucap Juno terkejut, "Apa kau juga sudah bertemu dengan Rieghart?" sambungnya bertanya. "Tidak, aku tidak bertemu dengannya, mendengar suaranya saja aku sudah gemetar," sahut Nim. "Alio? Rieghart? Beaster? Aku masih tidak mengerti... Lalu kedatangan Beaster ke bumi?" tanya Luiji. "Beaster akan membantu kita menggagalkan rencana Rieghart dan anak buahnya," jelas Nim, "Benar, kan? Tion?" sambungnya sembari tersenyum ke arah gelang yang ada di tangannya. "Tion?" ucap Luiji heran. "Iya, nama Beaster yang ada di gelangku ini adalah Tion," jawab Nim. "Dan Beaster yang ada dalam gelangku ini adalah Fyuri," sambung Juno. "Oh iya, apa wujud Beastermu, Juno?" tanya Nim. "Bagaimana caranya aku menunjukkannya kepadamu, Nim?" tanya Juno. "Juno, suruh Nim menyentuh gelangmu," ucap Fyuri dalam telinga Juno, "Dengan begitu, Nim bisa melihat wujudku," sambungnya. "Baik." Juno mengangguk, "Nim, sentuh gelang ini," ucap Juno kemudian Nim pun menyentuh gelang yang ada di tangan Juno. Nim menyentuh gelang Juno, dan memejamkan matanya. Banteng merah raksasa dengan delapan tanduk muncul pada pandangan Nim. "Besar sekali," ucap Nim terkejut ketika melihat wujud asli Fyuri. "Sebentar, lalu bagaimana kita bisa menghentikan Rieghart yang ingin menaklukkan dunia?" pungkas Luiji. "Kita harus mengumpulkan Hashfer," jawab Juno. "Hashfer?" tanya Luiji. "Benar, kita harus mengumpulkan Hashfer sebelum Rieghart dan anak buahnya lebih dahulu mendapatkannya," jawab Nim, "Tapi, Rieghart sudah menemukan dua pecahan Hashfer," sambungnya. "Terus, kemana kita bisa mendapatkan Hasfer yang tersisa?" tanya Luiji. "Aku sudah mendapatkan informasi dimana kit bisa mendapatkan salah satu bagian dari Hashfer itu," sahut Juno, "Makanya aku izin, sudah seminggu aku tidak masuk kerja," sambungnya. "Aku mengira ada di dalam pabrik tempat kalian bekerja," ucap Nim menggaruk kepala. "Awalnya aku juga mengira begitu, Nim," ucap Juno, "Aku sudah mencari setiap sudut dalam pabrik itu, tapi tidak ada," sambungnya. "Lalu? Dimana tempat yang kau maksud, Juno?" tanya Luiji. "Apa kalian mau sekarang juga kesana?" tanya Juno. "Ayo," ucap Nim dengan semangat. "Ayo, mungkin aku bisa bertemu dengan Alio, dan apa maksud dia memberikan gelang ini kepadaku," ucap Juno, "Kalian pegang tanganku, jangan sampai terlepas, lalu pejamkan mata kalian," sambungnya. "Baik," seru Nim dan Luiji. Dalam sekejap, mereka bertiga telah berpindah ke suatu tempat dari rumah Juno. "Ki-kita dimana?" tanya Nim menengok ke kanan dan kiri ketika dia membuka matanya dan dilihatnya mereka sedang berada di tengah hutan entah dimana. "Ini adalah hutan di bukit tepat di belakang sekolah ku dulu," jawab Juno. "Lalu, dimana kita bisa menemukan pecahan Hashfernya?" tanya Luiji dengan tatapan yang serius. "Baik, kalian ikuti aku," seru Juno seketika berlari menerobos ke dalam hutan. "Baik," sahut Luiji seketika mengiringi langkah Juno. "Hei hei, tunggu aku," teriak Nim yang juga seketika berlari menyusul Juno dan Luiji. Setelah beberapa puluh menit mereka berlari, tampak sebuah reruntuhan candi kuno yang kelihatan tak terawat. Mereka bertiga berlari ke arah candi tersebut. Setibanya mereka tepat di depan gerbang candi, tiba-tiba muncul seekor beruang hutan yang siap untuk menerkam mereka. "Aaaaaaa." Nim dan Luiji sentak berteriak. "SWICH," bisik Juno dari dalam hati. Nim dan Juno melihat aura merah yang keluar dari tubuh Juno. "Aku Fyuri, bersiaplah!" seru Juno yang kesadarannya diambil alih oleh Fyuri. Dengan satu kali hantaman dari Fyuri, seketika beruang yang tubuhnya besar itu pun terpental jauh ke tengah hutan. "Waaaaah," seru Nim takjub melihat kekuatan yang dimiliki oleh Juno dan Fyuri. "Kau benar-benar hebat, Juno," ucap Luiji takjub. "Kalian harus banyak berlatih, Nim, Luiji," sahut Juno yang kesadarannya masih diambil alih oleh Fyuri, "Ayo kita masuk ke dalam," sambungnya mengajak ketika melangkah masuk ke dalam candi dan diikuti oleh Nim dan Luiji. "Fyuri," ucap Tion yang berada pada gelang milik Nim. "Ya, Tion," sahut Fyuri. "Itu suara siapa lagi?" ucap Luiji yang ternyata mendengar suara dari gelang yang berada di tangan Nim. "Luiji, kau bisa mendengar suara Tion?" tanya Nim terkejut. "Ternyata, dengan cara itu kau bisa mendengar kami," ucap Tion, "Naken?" sambungnya. "Oyaya! Aku juga baru sekarang mengetahuinya, Oyaya!" ucap Naken yang terdengar dari dalam tubuh Luiji, "Mungkin dengan cara aku bersemayam dalam tubuh Luiji, sebagian kekuatan ku juga telah diserap oleh tubuh Luiji," sambungnya. "Benar, dan gelang ini sejak dulu hanyalah sebagai pembatas hubungan kita para Beaster dengan Caster lain," ucap Tion. "Tidak," pugkas Fyuri, "Ada satu orang Caster yang aku tahu bisa mendengar dan juga bisa berbicara," sambungnya. "Siapa?" tanya Naken. Fyuri hanya tersenyum, "Kita sudah sampai," ucapnya ketika tepat di depannya tampak sebuah kuil yang tepat berada di tengah-tengah candi, dan kuil tersebut masih kelihatan berpenghuni. "Apa ini tempatnya?" ucap Nim. "Aku merasakan kekuatan yang lumayan besar di tempat ini," ucap Tion. "Ya benar, aku juga merasakannya," sahut Naken. Tiba-tiba mereka bertiga dikejutkan oleh energi biru gelap yang dengan cepat melesat terlihat hendak menyerang dan beruntung mereka sempat menghindar, Nim dan Luiji terlempar kecuali Juno yang sudah siaga dengan serangan tersebut. "Kenapa baru sampai?" Terdengar suara dari energi biru gelap itu. "Maaf, guru," ucap Juno yang kesadarannya masih pada Fyuri. "Namaku Oldeus," ucap seserong dari energi biru gelap itu. "Apa! Oldeus!" sentak Naken terkejut. "Ya, aku Oldeus, Caster tertua dari seluruh Caster, dan akulah yang memasukkan kalian ke dalam cangkang yang berbentuk gelang," ucap Oldeus, "Sebentar, kau Beaster bicara dari mana?" tanya Oldeus kepad Naken. "Gelang yang kau maksud telah hancur akibat benturan dari Hashfer, dan aku terkena dampak terbesar dari benturan itu," jelas Naken. "Apa kau mau aku buatkan lagi, Naken?" ucap Oldeus. "Ah! Tidak, tidak usah repot-repot," sahut Naken. "Dasar gurita," ucap Oldeus tersenyum, "Fyuri, kenapa kau membawa mereka ke sini?" sambung Oldeus bertanya. "Seperti yang kau tahu, Hashfer telah pecah, dan kami mencari pecahan-pecahan dari Hashfer itu sebelum Rieghart menemukanya," ucap Fyuri. "Apakah ini yang kalian cari?" tanya Oldeus menunjukkan sebuah bongkahan kristal berwarna putih yang menampakkan aura kuat di tangannya. "Be-benar," ucap Naken. Tiba-tiba terdengar suara entah berasal dari mana. "Serahkan Hashfer itu kepada ku!" ucap Alio yang sekejap muncul di tengah-tengah mereka. "Alio!" sentak Nim terkejut, "SWICH," bisik Nim dalam hati dan kemudian Tion mengambil alih kesadaran Nim. "Kalian lagi, urusan kita yang kemarin belum selesai, kan?" ucap Alio tersenyum. "Ayo," ucap Tion yang menggunakan tubuh Nim. "Fyuri, kita bertemu lagi," ucap Alio tersenyum ke arah Juno. "Kau, apa maksud dari semua ini!" teriak Fyuri. "Apakah aku bisa berbicara dengan Juno?" tanya Alio dengan senyum jahatnya. "Juno," bisik Fyuri yang kemudian kesadaran Juno kembali. "Alio, apa maksud mu memberi aku ini?!" teriak Juno menunjukkan gelang di tangannya. Alio tersenyum licik, "Kau adalah kelinci percobaan ku yang sangat berharga," ucapnya tersenyum. "Kelinci percobaan?" ucap Juno, "Sialan kau!" sambungnya, "SWICH!!" Seketika berlari menyerang Alio dan serangan dari Juno dan Fyuri dihalau oleh Alio hanya dengan satu jari. "Cih, serangga lemah," ucap Alio seketika menggenggam tangan Juno kemudian melemparkannya sehingga membuat Juno tak sadarkan diri. Melihat Juno yang terlempar, Tion kemudian menyerang Alio, dan dengan mudahnya Alio menangkis semua serangan dari Tion. "Naken, apa kita bisa membantu mereka?" ucap Luiji. "Katakan 'SWICH' dari dalam hati mu, Luiji," ucap Naken, "Kemudian aku akan mengambil alih kesadaranmu dan bertarung melawan Alio," sambungnya. Luiji mengangguk, "SWICH!" Terlihat aura berwarna kuning keluar dari tubuh Luiji. "Aku Naken," ucapnya seketika berlari menyerang Alio. Tubuh Nim terlempar oleh pukulan Alio, dan Naken sempat menangkap tubuh Nim yang terlempar itu. "Kau tidak apa-apa, Tion," ucap Naken yang menggunakan tubuh Luiji. "Ayo kita gunakan kemampuan kita, Naken," seru Tion. Naken mengangguk. Tion berancang-ancang dan kemudian berlari dengan sangat cepat seperti harimau yang memburu mangsa, diikuti oleh Naken yang gerakan tangannya sangat cepat sehingga terlihat seperti gurita yang memiliki tentakel yang sangat banyak. Tion dan Naken menyerang Alio bersamaan. "Lumayan juga," ucap Alio tersenyum ketika menghalau serangan dari Tion dan Naken. "Kalian melupakan aku!" teriak Oldeus yang bersiap menyerang, dan dengan satu pukulan, Alio terlempar oleh hantaman dari Oldeus. "Oldeus?" sentak Alio kemudian dengan sigap Alio menyerang Juno yang tergeletak tak sadarkan diri sehingga membuat tubuh Juno menghilang lenyap, seketika diikuti oleh Alio yang juga menghilang. "Nim, giliranmu," ucap Tion berbisik seketika kesadaran Nim kembali. "Juno!" teriak Nim. "Berhenti," ucap Oldeus menghalau, "Kau tak akan mampu mengejarnya dengan kekuatan yang sekarang," sambungnya. "Tapi, bagaimana dengan Juno," sahut Luiji tertunduk. "Memangnya kemana kalian akan mencari teman kalian itu?" tanya Oldeus kemudian Nim dan Luiji tertunduk diam, "Aku akan melatih kalian berdua," sambung Oldeus dengan tatapan serius. "Me-melatih kami?" sahut Nim, "Baik, aku siap!" sambungnya. "Aku juga siap," sambung Luiji, "Kita akan menyelamatkan Juno." "Baiklah, besok kalian kembali lagi kesini, aku akan mempersiapkan latihan untuk kalian," ucap Oldeus. "Kenapa tidak sekarang saja?" tanya Nim. "Istirahatkanlah tubuh kalian," jawab Oldeus, "Kalian hanya manusia biasa, akan berdampak buruk jika kalian terlalu memaksakan diri," sambungnya menjelaskan. "Ba-baiklah," ucap Nim dengan nada kecewa, "Ta-tapi, bagaimana kami pulang?" sambungnya bingung. "Sama seperti dengan cara kalian kemari," jawab Oldeus. "Tapi, Juno yang membawa kami kemari," sahut Luiji. Oldeus mengarahkan Nim dan Luiji, "Pejamkan mata kalian." Nim dan Luiji memejamkan mata mereka, "Dan bayangkan kemana kalian akan pergi." Seketika Nim dan Luiji menghilang dan muncul di rumah mereka masing-masing. "Kakaaak," ucap Michi adiknya Nim berlari ke arah Nim, "Kakak muncul dari mana?" sambungnya bertanya. "Hah, baik kakak ceritakan," jawab Nim. Di waktu yang sama ketika Nim menceritakannya kepada Michi. Luiji yang masih tak percaya dengan apa yang telah terjadi, ia mencoba membaringkan badannya di atas kasurnya. "Naken?" ucap Luiji. "Ya, Luiji," sahut Naken. "Apa ini nyata?" ucap Luiji, "Aku masih tidak percaya," sambungnya. "Percaya atau tidak, yang jelas dunia kalian ini akan hancur jika kalian hanya berdiam diri," ucap Naken, "Ini sudah takdir kalian," sambungnya. "Kenapa harus kami?" tanya Luiji. "Sudah aku katakan, kan?" sahut Naken, "Ini su...." "Sudah takdir?" pungkas Luiji, "Lalu, apakah kehancuran dunia ini juga sudah takdir?" sambungnya. "Kalianlah jembatan antara takdir itu," sahut Naken. Luiji hanya terdiam kemudian karena kelelahan dia tertidur. Di saat yang sama ketika Nim selesai menceritakan kepada Michi.... "Kakak berdongeng ya?" goda Michi. Sentak Nim terdiam, kemudian dia tersenyum menatap adiknya. "Iya, kakak hanya mendongeng," ucapnya sembari mengusap-usap kepala Michi sehingga membuat Michi tertidur di pangkuan Nim kakaknya. Nim tak mampu menjelaskan yang sebenarnya kepada adiknya yang masih anak-anak berusia empat belas tahun. Kemudian Nim menggendong Michi menuju ke kamarnya, diletakkannya tubuh Michi yang tertidur ke atas kasurnya. Kemudian Nim keluar dari kamar Michi dan berjalan ke arah kamar nya. "Tion," ucap Nim ketika membuka pintu kamar. "Ya, Nim?" sahut Tion. "Bagaimana cara ku memberitahu semua orang?" tanya Nim. "Kau hanya akan ditertawakan orang-orang kalau kau memberitahukan semuanya sekarang," jawab Nim. Nim terdiam, "Kau benar..." bisiknya, seketika Nim membaringkan badannya lalu tertidur karena kelelahan. Di lain tempat disaat yang sama, tampak sebuah istana megah. Terlihat gerbang istana terbuka, dan tampak Alio yang membawa tubuh Juno masuk ke dalam istana itu. "Tuan Ku," Alio bertekuk lutut di hadapan seseorang berjubah hitam. "Dimana Hashfer ku!" teriaknya. "Ma-ma-maaf Tuan ku," sahut Alio gemetar, "Oldeus menghalangi ku, Tuan," sambungnya. "Oldeus? Si tua bangka itu ternyata," ucapnya, "Hahahaha," lanjutnya tertawa dengan nadanya yang jahat. "Benar, dan dia memiliki salah satu pecaha Hashfer, Tuan ku," ucap Alio. "Benarkah?" sahutnya tersenyum, "Lalu, siapa anak yang kau bawa itu?" sambungnya. "Ini adalah kelinci percobaan saya, Tuan ku," jawab Alio menyerahkan tubuh Juno. "Percobaan?" sahutnya. "Benar, Tuan ku," ucap Alio, "Dia akan saya jadikan sebagai wadah untuk Hashfer yang sudah kita dapatkan, Tuan ku," sambungnya. "Bagus," sahutnya, "Sekarang masukan dia ke dalam kurungan itu," ucapnya menunjuk sebuah sangkar yang menggantung di atas istana. "Ba-baik, Tuan ku," ucap Alio kemudan dengan kekuatannya, Alio seketika memindahkan tubuh Juno masuk ke dalam sangkar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN