Ranjang Ajang Pahala

1551 Kata

Kedua alis tebal saling bertaut, hanya rasa bingung saja yang sejak tadi menghiasi wajah Arkha, tanpa bicara atau pun menyela kata-kata Amara untuk berhenti. Setiap untaian yang keluar dari bibir Amara seperti sebuah tamparan yang langsung menembus hati Arkha. Lelaki itu menghela napas dalam-dalam hingga wajahnya mendongak ke atas sampai beberapa detik. Bersandar ke headboard sejajar dengan Amara di sampingnya. “Kebahagiaan bukan melulu soal anak, Re. kita pasangan baru, sangat nggak pantes kalau menjadikan anak sebagai bahan pertengkaran.” Amara berdecak, ia pun tidak akan meributkan hal ini kalau bukan karena mami Sita yang terus saja mendesaknya. “Bahkan kita baru saja saling dekat, mengungkapkan perasaan, kita ada posisi yang sedang hangat-hangatnya, Ra. Nggak mungkin belum a

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN