Jadi Arkha merendahkan dirinya untuk menemui Kafeel. Meskipun sebenernya enggan, tetapi... ini demi kebaikan Amara, demi cepatnya tertangkap pada dua laki-laki berengsek itu. Satu lagi, dan untuk mengetahui siapa yang telah memerintah mereka. Pasti ada seseorang, bisa jadi karena orang yang memiliki dendam padanya. "Amara bilang, sebelum menghampirinya, dua orang itu menelepon seseorang. Gua yakin, pasti ada yang suruh mereka. Ini bukan kejadian kebetulan." Arkha, Kafeel dan Wildani berunding di halaman rumah Kafeel. Ketiganya duduk bersandar di kap mobil sambil menikmati rokok di temani minuman soda kaleng. "Jadi kedua mukanya orang itu sama seperti ini?" Wildani menunjukkan sketsa foto hitam putih di hadapan Kafeel. "Iya. Sembilan puluh persen, ini sangat mirip dengan mereka." Ka

