Kalau sebelumnya Amara merasa kepalanya sakit, kini berganti area perut bahkan sekujur tubuhnya. Tadi saat dirinya dan Arkha tengah terbakar oleh hasrat ia tak merasakan sakit di mana pun. Tapi kini, Amara sungguh merasa tubuhnya seperti setelah dipukuli orang sekampung. Bahkan menggerakkan tangan saja seperti tidak bisa. Maka dari itu, ia memilih diam di atas ranjang sambil meringkuk tak ingin bergerak sedikit saja. Memejamkan mata, hampir terhanyut ke alam bawah sadar. "Mas, tunggu... aku mau masuk." "Nggak bisa, Mir, Amara lagi istirahat jangan diganggu." Suara Arkha dan Amira membuat Amara membuka matanya kembali setelah hampir saja tadi tertidur. Ia mengerutkan dahi sambil melihat ke arah pintu yang seperempatnya terbuka. "Biarin aja mbak Mara istirahat. Aku cuma pengen lihat

