Wulan sudah bertemu dengan Bu Winda, dia pun sudah dijelaskan mengenai jobdesknya, sama seperti saat Bu Winda menjelaskan kepada Sekar bulan lalu.
"Hai, Wulan!" Sapa Rara dengan begitu ceria.
"Haii" sapa kembali Wulan dengan tak kalah cerianya pula.
"Gue Rara" ucap Rara memperkenalkan dirinya kepada Wulan.
Rara mengetahui nama Wulan dari Sekar, karena tadi dia menanyakannya kepada Sekar.
"Akhirnya, ruangan ini ramai lagi, ada lo dan juga Sekar. Aah bahagia banget gue!" Seru Rara.
Karena sebelum adanya Sekar dan Wulan, Rara bekerja seorang diri, dan saat ada Sekar, Rara memiliki teman satu departemen, lalu setelah sebulan kedatangan Sekar bertambah kembali oleh Wulan.
"Memang sebelumnya lo sendirian?" Tanya Wulan yang mulai keluar jiwa keponya.
Mereka sudah terlihat nampak begitu dekat, tidak terdapat jarak diantara mereka, apalagi Sekar dan Wulan.
"Sebelum ada Sekar dulu gue sendiri, sebulan kerja seorang diri tanpa teman itu rasanya kaya lagi semedi tahu gak, sepi banget. Terus datang deh Sekar yang dipindah tugaskan dari Bandung kan, setelah itu datang lo juga. Aah pokoknya senang banget gue, jadi punya teman buat ghibah haha!" Seru Rara di akhiri dengan tawanya, ditimpal oleh tawa Sekar juga Rara, membuat ruangan ini kembali hidup dan ramai.
"Ehem, ramai sekali sepertinya disini!" Celetuk Bu Winda yang ternyata sudah berada di luar ruangannya.
Tentu saja, membuat Sekar, Wulan, dan Rara merasa terkejut dan menghentikan tawa renyah mereka. Ketiganya pun lantas berdiri dari duduknya dan memberikan hormat dengan kepala mereka yang ditundukan.
"Maaf, Bu" ucap Sekar, ketiganya pun saling menatap satu sama lain karena merasa seperti tengah terciduk.
"Haha, santai saja, saya senang dengan suasana ramai seperti ini, setelah sebelumnya hanya ada keheningan yang terasa di ruangan ini" ucap Bu Winda.
Tentunya membuat Sekar, Wulan, dan Rara pun merasa terkejut kembali dengan jawaban yang keluar dari mulut PJ (Penanggung Jawab) dari departemen mereka ini.
"Tidak usah tegang begitu, lagi pula saya disini sama sebagai karyawan kan, jadi akan sangat membosankan jika bekerja dengan terlalu serius. Santai saja!" Lanjut Bu Winda membuat ketiga wanita dewasa yang berdiri di depan Bu Winda pun tersenyum seraya menatap Winda.
"Ya sudah, mulai kerja kalau begitu!" Kata Bu Winda.
"Baik, Bu!" Jawab ketiganya bersama.
Mereka pun lantas tersenyum geli satu sama lain, lalu mulai terduduk di atas kursi masing-masing, dan menyalakan layar komputer mereka untuk memulai pekerjaan mereka di hari ini.
Tanpa terasa waktu pun berputar dengan cepat, dan ini sudah waktunya bagi mereka untuk beristirahat dan mengisi perut mereka yang sudah terasa lapar.
"Kantin yuk gais, laper banget nih!" Ucap lemas Wulan yang memang sudah merasakan lapar, karena tadi pagi dia tidak sempat untuk sarapan.
"Ayok, lo harus keluar lagi Kar?" Jawab dan tanya Rara, sebulan bersama dengan Sekar membuat Rara menjadi hafal jika saat jam makan siang Sekar akan selalu keluar dan selalu melewatkan makan siangnya.
Sekar menatap Rara lalu tersenyum. "Gue gak keluar kok, kalian duluan saja ke kantin nanti gue nyusul, gue mau ke toilet dulu sebentar" kata Sekar, lalu memberikan kode kepada Wulan agar mengajak Rara ke kantin lebih dahulu.
"Oh ok deh, ya udah ayo Ra kita duluan saja, seriusan ya perut gue sudah perih banget ini, cacing di perut gue sudah pada demo ini!" Ajak Wulan kepada Rara.
"Kita duluan ya kalau begitu!" Pamit Rara kepada Sekar.
Setelah kepergian Rara dan Wulan, Sekar pun segera bergegas menuju toilet wanita, dia memasuki salah satu bilik toilet tersebut.
Sekar mendudukan dirinya di atas kloset duduk yang tertutup, lalu membuka ponsel lipat miliknya, dan mendial nomor Anrez. Ya, Sekar hanya beralibi saja pergi ke toilet, dia ingin memghubungi Anrez, memastikan jika pria itu jadi menjemput Galaxy dan mengajaknya berjalan-jalan seperti yang sudah pria itu janjikan.
"Hallo, Anrez. Kamu sudah berada di sekolah Galaxy?" Tanya Sekar lansung to the point pada Anrez begitu panggilannya di angkat oleh Anrez.
Karena seperti yang kita ketahui jika Sekar sangat menyayangi Galaxy, dia akan selalu mengusahakan yang terbaik untuk putra semata wayangnya itu.
"Ini aku baru saja tiba di sekolah Galaxy. Kamu sedang jam istirahat?" Jawab dan tanya balik Anrez.
"Syukurlah. Em, ya aku sedang jam istirahat"
"Sebentar, aku akan bertemu menghampiri Galaxy lebih dahulu. Jangan kamu tutup teleponnya!" Pesan Anrez dan Sekar pun mengikuti apa yang Anrez katakan.
"Ayaaah!" Terdengar suara Galaxy dari sambungan telepon antara dirinya dengan Anrez.
Galaxy nampak begitu bahagia jika terdengar dari suaranya. Sepertinya bocah laki-laki itu senang dijemput oleh Anrez.
Sekar pun ikut merasakan kebahagian Galaxy, dia tersenyum sendiri. Sekar pun mendengar percakapan antara Anrez dan juga guru Galaxy, sepertinya itu adalah Bu Dina, wali kelasnya Galaxy.
Nampaknya kini Anrez dan Galaxy sedang berjalan menuju mobil, karena terdengar suara Galaxy yang tengah mengoceh. Dan tak lama pun terdnegar suara pintu mobil tertutup.
"Aku alihkan ke video call ya" ucap lembut Anrez dan Senja pun menjauhkan ponselnya dari rungunya, lalu mengangkat panggilan video call yang dilakukan oleh Anrez.
Nampaklah wajah polos Galaxy di layar handphone Sekar.
"Mama!" Seru Galaxy dengan senyum lebarnya.
"Bagaimana sekolahnya hari ini, nak?" Tanya Sekar.
"Seru Ma, aku belajar banyak hal baru hari ini" seru Galaxy.
"Wah, benarkah. Baiklah, Mama ingin mendengar ceritanya nanti ketika kita sudah di rumah, bagaimana?"
"Ok Mama!" Jawabnya kembali dnegan begitu bahagia.
"Satu hal lagi, jangan buat Ayah repot ya!" Pesan Sekar kepada Galaxy.
"Siap, Mama!"
"Baiklah, boleh berikan kembali ponselnya kepada Ayah"
Galaxy pun menganggukkan kepalanya dan memberikan ponselnya kepada Anrez. Dan membuat layar ponsel dipenuhi dengan wajah Anrez.
"Maaf merepotkan kamu lagi!" Ucap Sekar tidak enak.
"Siapa yang merepotkan siapa?" Sahut Anrez tak santai.
Sekar pun hanya tersenyum menanggapainya, karena Sekar tahu, Anrez tidak menyukai jika dirinya selalu mengatakan hal itu padanya. Namun sungguh, Sekar tidak memiliki kata-kata lain lagi.
"Baiklah, kalau begitu. Selamat bersenang-senang, aku tutup teleponnya" ucap Sekar mengakhiri panggilan ini.
Sekar pun menenkan icon berlambang ponsel lalu menekannya, membuat panggilan berakhir. Setelahnya Sekar keluar dari toilet, lalu berdiri di sebuah cermin besar dan memcuci tangan juga mukanya fi wastaflle, agar wajahnya menjadi sedikit fresh.
Setelahnya Sekar pun keluar dari toilet dan berjalan menuju lift, untuk menuju lantai 1 dimana kantin berada. Namun, pintu lift kembali terbuka menandakan adanya seseorang yang akan masuk ke dalam lift.
Betapa terkejutnya Sekar kala melihat sosok tersebut, membuat Sekar diam terpaku di dalam lift, tanpa bisa melakukan apa pun.