Malam harinya, Ama sangat bingung bagaimana harus tidur. Xin sudah terlebih dahulu tidur dan ia juga tak bisa tidur di lantai karena fisiknya yang lemah dan gampang sakit. Ama hanya berdiri diam di depan ranjang menatap Xin yang tidur nyenyak. Namun, rupanya Xin mulai terganggu dengan tatapan Ama yang seperti laser. Perlahan Xin membuka matanya dan langsung menegur Ama. "Ngapain berdiri di situ, dah cepet tidur." "Aku tidur dimana?" tanya Ama. "Di kasurlah, masa dimana ...." "Kasur kamu?" "Ya iya, masa kasur kamu." "Em, oke." Ama berjalan mendekat, ia naik ke atas ranjang di sebelah Xin dan mulai berbaring. Ia mengangkat sebuah pena berisi rekaman tentang apa yang dikatakan Yela. "Nih, rekaman dari Mama." Xin mengambilnya kemudian meletakkannya di atas nakas sambil disetel. Pe

