Debbina memegang pipi bekas tamparan Irish. Tidak seberapa sih sakitnya. Sebab dia pernah lebih dari ini. Ibaratnya bumbu sedikit di pipi bukan sesuatu yang besar. Tapi.... “Kenapa Bu Irish menampar saya?” Wajah Irish condong ke depan, sembari menyilangkan kedua tangannya di d**a. “Kamu masih bertanya kenapa? Jangan pura-pura bodoh, Debbina. Apa saya belum memperingatkan kamu soal jangan dekati Axel? Kamu sudah tahu dia calon tunangan saya, bukan? Apa kamu budeg?” Ucapan Irish pelan berupa bisikan, tapi menyakitkan hati. Tidak peduli lawan bicaranya sangat terdampar. Belum lagi dengan tamparan tadi. “Maaf, Bu Irish, saya datang ke sini sebagai seorang sekretaris menemani atasannya,” jawab Debbina. Dia berusaha tegar dan tenang di depan gadis cantik itu. Irish terkekeh mencemooh, la

