Enjoy reading.
***
Pete sampai di rumah dengan ngos-ngosan karena kembali berlari, kali ini lebih kencang daripada saat jogging tadi, semua itu terjadi gara-gara memikirkan Xia yang pasti belum makan. Pete tidak mau Xia mati kelaparan sebelum dia jadi istrinya. Bisa-bisa tubuhnya yang sekecil kacang polong jadi makin mengkerut jadi kacang kedelai. Kan nggak seru kalau dia dikira nikahin anak Tk, bisa dibully Paul ribuan tahun dia.
Pete memeriksa seluruh ruangan dan rautan pensil itu tidak terlihat di manapun, dia bahkan sudah mencarinya di lemari, laci kolong tempat tidur bahkan bantal guling dia acak-acak, siapa tahu Xia ngumpet di balik bantalnya.
Lalu Pete melihat sesuatu di meja yang biasanya kosong. Sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi yang menyambutnya, seperti inikah jika nanti dia menikah? Selalu tersedia makanan di meja dan tentu saja ada yang menyambutnya pulang. Tapi kenapa hening? Kemana perginya si kacang kapri itu? Dia tidak sedang hibernasi kan? Kenapa Hanya dia yang ada di rumah ini?
Apa rencananya terancam gagal, karena gadis yang harusnya jadi istrinya tiba-tiba menghilang?padahal dia belum memperkosanya. 'Kenapa Pete bodoh sekali? seharusnya dia memperkosanya dulu tadi malam kenapa malah ketiduran?' Rutuknya dalam hati.
Sekarang bagaimana? Masak mau mencari gadis lain? Dia kan sudah terlanjur senang dengan keberadaan kurcaci itu.
Pete memandang nasi goreng dengan malas dan karena Pete orang yang selalu waspada maka Pete tidak berani memakan masakan buatan Xia sebelum melihat CCTV dan memastikan makanan itu aman.
Benar sekali CCTV, Pete bisa mencari info kemana potongan kuku itu pergi.
Pete memandangi CCTV dengan sedikit senyum di wajahnya, melihat tingkah Xia yang sibuk di dapur saat memasak membuat hatinya menghangat. Pete sekarang yakin bahwa dia akan memperkosa Xia dan menjadikannya Istri. Tapi sebelum itu dia harus menemukannya, tenang saja mencari keberadaan orang adalah hal mudah bagi anggota keluarga Cohza. Saat sudah di temukan nanti, Pete bersumpah Xia tidak akan pernah dilepaskannya.
****
Xia menyuruh sopir taksi menunggunya karena dia harus masuk mengambil uang di kamarnya, untung Xia tahu tempat kunci cadangan rumahnya sehingga tidak perlu merepotkan kakaknya.
Xia baru masuk saat dilihatnya sang kakak duduk di ruang tamu dan memandangnya tajam.
"Kakak? Kakak nggak kerja?" tanya Xia heran.
"Dari mana saja kamu?" tanya Lin Mey tajam.
"Aku bisa jelasin kak, Tapi aku harus—"
"Alasan ... Anton sudah cerita semuanya," potong Lin Mey.
"Anton?" tanya Xia heran.
"Kamu itu benar-benar nggak tahu terimakasih ya, Masih baik kakak mau nampung kamu di sini, kamu malah kegatelan ngegodain tunangan kakak," ucap Lin Mey mulai marah.
"Kak, aku sama sekali—"
"Apa? Mau bilang kalau Anton yang godain kamu? Basi tahu nggak, aku itu udah tunangan sama Anton selama 2 tahun dan dia itu bukan cowok nakal, kamu baru di sini beberapa bulan udah
kegatelan, kamu iri sama kakak karena punya tunangan ganteng dan kaya? Pengen rebut gitu?" kata Lin Mey semakin marah.
"Tapi emang itu kenyataannya kak, aku nggak pernah godain Anton, justru dia yang selalu gangguin aku." Xia berusaha menjelaskan.
Lin Mey mendengus. "Mana ada maling ngaku, ternyata apa yang di katakan Anton benar, Aku punya adik s****l," ucap Mey dengan pandangan jijik ke arah Xia.
"Lihat penampilanmu benar-benar mirip wanita jalang, pasti kamu habis nginep di tempat Om-Om m***m kan?" lanjut Lin Mey.
Xia menangis tidak percaya kakaknya mengatainya seperti itu. "Aku memang nginep di tempat Om-Om tapi dia nggak m***m, dia yang udah selametin aku dari tunangan kakak yang c***l itu!" teriak Xia tidak terima.
Plakkk.
Lin Mey menampar pipi Xia dengan keras hingga gambar telapak tangan langsung tecetak jelas di pipi adiknya itu. Xia menangis kecewa, tidak percaya bahwa kakaknya lebih percaya pada laki-laki b***t itu dari pada adiknya sendiri.
"Kakak memukulku demi b******n itu?"
Plakkkk.
Sekali lagi tamparan mendarat di pipi Xia, hingga wajahnya terlempar kesamping dan terasa sangat panas. Xia shock dan benar-benar sakit hati.
"Sekali lagi kamu jelekin tunangan kakak, kamu angkat kaki dari rumah ini!" teriak Lin Mey dengan wajah merah karena emosi.
"Kakak mengusirku?"
"Iya, kenapa? Toh papa pasti nggak akan keberatan kehilangan anak murahan macam kamu. Kamu nyadar nggak sih kamu itu cuma beban buat kami, udah g****k nyusahin dan sekarang tanpa tahu malu malah ngegodain Anton, udah di kasih hati masih mau ngambil jantung, dasar nggak tahu malu!" Teriak Mey makin keras.
"Xia nggak nyangka kakak bisa termakan omongan tunangan kakak yang brengsek."
Plakkkk.
"KELUAR! Aku nggak sudi lihat kamu lagi, dan jangan kembali, anggap kita nggak pernah kenal!" teriak Lin Mey lalu menyeret tangan Xia menuju pintu.
"Kak," Xia menangis sesenggukan dan hanya bisa pasrahsaat kakaknya menyeretnya keluar dari rumah.
Brakkk.
Lin Mey menutup pintu kasar dan langsung menguncinya.
Tok ... Tok ... Tok.
"Kak, buka pintunya, Kak, kalau kakak mengusirku aku harus tinggal di mana?"
"Kakak!"
"Kaaaaakkkkk!"
Hiks ... hiks ... hiks ... Tubuh Xia merosot turun dan menangis sambil menyembunyikan wajahnya di lutut. kenapa kakaknya tidak percaya padanya? Padahal Xia berkata jujur. Hati Xia begitu terluka dengan perlakuan kakaknya.
Sekarang apa yang harus dia lakukan? Kemana dia akan pergi? Mau pulang ke Bandung dengan ongkos apa? Bahkan seluruh barangnya masih di dalam rumah kakaknya. Entah berap lama Xia diam dan menangis di depan rumah kakaknya, dia hampir tertidur saat seseorang menyentuh bahunya dan mengguncangnya pelan.
"Neng?" Panggil seorang bapak-bapak yang ternyata sopirtaksi yang mengantarnya tadi.
"Maaf Neng bukan bermaksud apa, tapi saya butuh ongkos taksinya," kata sopir itu merasa tidak enak karena menagih uang pada orang yang sepertinya kesusahan, apalagi nona imut ini terlihat sedih, tapi mau gimana lagi dia kan butuh setoran juga.
Xia berpikir sebentar, dari mana dia dapat ongkos buat bayar taksi, sedang dia sekarang saja terlantar, jangankan uang, baju gantipun dia tidak punya. 'Memangnya siapa yang sudi menolongnya?' Batin Xia.
"Neng," panggil sopir taksi tadi.
Xia mengerjap tidak enak, air mata sudah mengering di pipinya, baru saja dia akan mengucapkan permintaan maafnya karena tidak bisa membayar ongkos taksi, tiba-tiba Xia ingat dengan Pete dan dengan harapan penuh Xia akan meminta tolong padanya lagi. Xia tidak apa-apa jadi pembantu Pete sekalipun, asal dia memiliki tempat tinggal sementara dan ongkos pulang ke rumah papanya, Xia
akan melakukannya dengan ikhlas.
"Neng," sopir taksi mulai tidak sabar karena Xia bengong lagi.
"Antar saya ke tempat tadi pak," Kata Xia langsung bangundari duduknya.
Sopir taksi itu ingin menolak tapi melihat jalan nona kecil itu yang terlihat gontai itu kok jadi kasihan, apalagi dia jadi teringat dengan anak perempuannya yang umurnya tidak jauh beda, dia jadi membayangkan bagaimana jika anaknya membutuhkan bantuan tapi tidak ada yang menolong gara-gara karma dari bapaknya yang nggak mau nolongin gadis mungil yang sedang kesusahan itu.
Akhirnya dengan pemikiran tersebut sopir taksi itu mengantar Xia ke tempat dimana tadi dia mencegatnya.
Setelah hampir 2 jam karena macet pulang kantor, Xia sampai di jalan di mana dia naik taksi tadi.
"Neng mau turun di sini?" tanya sopir taksi itu.
"Masuk ke jalan itu, Pak," ucap Xia lesu.
Sopir taksi itu segera menuruti keinginan Xia, dia ingin segera pergi dari hadapan penumpangnya yang sedang sedih itu, semakin lama ia di dekat Xia ia akan semakin tidak tega.
"Berhenti di rumah itu, Pak," kata Xia menunjuk rumah Peteyang tersembunyi dari jalan dan tertutup pohon.
"Sebentar ya, Pak," ujar Xia pada si sopir.
"Eh, nggak apa-ap,a Neng, kalau sekarang neng belum punya uang bisa neng bayar kapan-kapan saja," tukas sopir taksi yang sekarang benar-benar sudah luluh melihat wajah sendu Xia.
"Saya bayar, Pak, bapak tunggu di sini," ujar Xia pasti danlangsung membuka pagar rumah Pete.
Pete baru mendapat alamat dan data lengkap Xia saat matanya melihat sebuah Taksi masuk ke dalam area perumahan miliknya, hanya sedikit orang yang tahu tempat tinggalnya dan masuknya sebuah taksi umum membuat Pete langsung siaga.
Tapi alangkah senangnya dia saat yang keluar dari dalam taksi adalah gadis masa depannya, maka tanpa menunggu Xia, Pete langsung berlari ke arah pintu bertepatan dengan Xia yang mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu.
"Kamu kembali?" Tanya Pete tidak pernah merasa sesenang ini.
Xia memandang Pete terharu, bahkan orang lain lebihterlihat bahagia saat bertemu dengannya daripada keluargannya sendiri, tanpa sadar air mata Xia kembali turun, membuat Pete gelagapan karena bingung.
"Om, hiks ..." Tanpa di duga Xia langsung memeluk Pete dan menangis meluapkan seluruh bebannya.
Jantung Pete kembali berdegup kencang. 'Oh, jantung bertahanlah...' batin Pete saat merasa Xia semakin membenamkan wajahnya di dadanya. Pete tidak berani bergerak, dia tidak pernah menghibur orang yang menangis.
Apa yang harus dia katakan?
Pete memandang Xia yang masih memeluknya, dan pelan tapi pasti Pete mengelus rambut dan punggung Xia berusaha menenangkan. Tapi sial, saat Xia mulai berhenti menangis justru sesuatu di bawah sana mulai berkedut dan berteriak ingin dikeluarkan dari kurungannya.
Xia melepas pelukannya, membuat Pete mendesah kecewa,Xia memandang Pete malu.
"Om ...."
"Hmm?" Pete memandang bahu telanjang Xia dan berusaha menahan tangannya yang ingin mengelusnya.
"Taksinya belum dibayar," ucap Xia merusak suasana.
"Hah?" Pete gagal paham karena terlalu fokus dengan tubuh mulus Xia yang seolah memanggilnya untuk disentuh.
"Itu ... taksinya belum di bayar," kata Xia menunjuk arahtaksi yang menunggu di balik pagar.
Pete yang baru sadar langsung keluar menemui sopir taksi yang sudah berjasa membawa calon istrinya kembali. Pete menyerahkan lembaran uang 100 rban sebanyak 10 lembar kepada sopir taksi, membuat sang sopir melongo heran.
"Eh, Pak ongkosnya cuma 150 ribu," kata si sopir taksi memberitahu, siapa tahu orang itu salah kasih.
Pete yang sudah mau masuk, berbalik lagi dan memandang sopir taksi datar. "Hadiah karena membawanya kembali," ujar Pete dan langsung masuk ke dalam rumah. Sedang si sopir yang baru mendapat rejeki nomplok langsung sujud sukur.
'Ya Allah nggak sia-sia dia nolongin si eneng kecil, mungkin ini balasan karena ikhlas menolong orang yang kesusahan. Bapak pulang, Buk, bawa uang kontrakan,' batin si sopir taksi melajukan
taksinya riang.
Pete masuk dan mendapati Xia yang sudah masuk tapimasih berdiri dan malah bengong.
"Ada apa?" tanya Pete.
Xia memandang Pete sendu."Maaf Om, Xia selalu ngerepotin, tapi Xia janji nanti uang Om pasti Xia ganti, tapi untuk sekarang Xia belum punya uang karena Xia habis diusir dari rumah, jadi untuk sementara boleh nggak Xia tinggal disini? Xia janji akan masak, bersih-bersih, ngerjain pekerjaan apa aja deh yang penting Xia boleh tinggal disini," pinta Xia memelas.
Pete tidak suka dengan kata-kata Xia, karena Pete ingin Xiajadi istri bukan pembantu.
"Kamu memang akan tinggal denganku selamanya," ujar Pete, tegas. Mendengar itu Xia mendongak dan langsung memeluk Pete lagi.
"Makasih Om," ucap Xia terharu karena merasa beruntung bertemu Pete yang berkali-kali menyelamatkannya.
Pete berusaha menetralkan detak jantungnya yang semakin cepat, ditambah sensasi benda kecil empuk yang menempel erat di tubuhnya, membuat Pete on fire seketika.
"Xia," bisik Pete serak. Xia mendongak dan tertegun oleh tatapan Pete yang seperti ingin melahapnya hidup-hidup.
"Aku ingin memperkosamu," geram Pete membuat Xia terkesiap saat tubuhnya menempel erat ke arah Pete dan bibirnya dicium dengan cara yang belum pernah dia bayangkan sebelumnya.
***
TBC