5. Something happen

3157 Kata
Dilo terpaksa bangun dari tidurnya saat mendengar pintu kamarnya di ketok. Siapa sih pagi-pagi buta gini gangguin tidurnya. Dilo mencoba nggak perduli, tapi suara yang nggak asing itu membuatnya terpaksa bangun. “Apa sih, Dan?” tanyanya sedetik setelah membuka pintu. Danola tersenyum manis. “Boleh numpang sebentar nggak?” “Mau ngapain?” seru Dilo lagi sambil menguap lebar. “Bangunin My Princess,” jawab Danola tersenyum manis lalu berjalan menuju jendela. Dilo mengerut bingung. “Lo bangunin gue cuma untuk bangunin si cewek aneh itu?” tanya Dilo nggak percaya. “Namanya Lupin. My princess…,” jawab Danola setelah membuka jendela. “Terserah deh,” kata Dilo tampak sebal lalu kembali tepar. Di balik selimut, Danola bisa dengar Dilo ngedumel ntah karna apa. Tapi dia hanya merespon dengan senyuman. “Pin?” Tok.tok.tok Danola mengetuk jendela kamar Lupin.No respon. Mungkin cewek itu masih tidur. Ini juga masih jam setengah 6 pagi. “My princess, bangun dong. Udah pagi niiih!” panggil Danola lembut. “Lupin? Hei…bangun dong?” …. Dilo membuka selimutnya lalu mengambil posisi duduk. “Lo bangunin orang jangan kayak gitu! Nggak bakalan bangun! Sini, biar gue yang bangunin!” kata Dilo lalu menggeser Danola dari depan jendela. “Biar gue aja.” tolak Danola halus. “Nggak apa-apa, gue aja. Pasti langsung bangun!” Kata Dilo lalu memajukan kepalanya sedikit. “WOI! BANGUN WOI! WOI CEWEK CENGENG, CEWEK MANJA, BANGUN LO!” teriak Dilo sambil menggedor-gedor jendela tetangganya itu dengan kasar. “WOI, BA_” BUAAKKKK! DUG! “AW!” Dilo menjerit saat kepalanya beradu dengan jendela yang baru aja terbuka. "Hfufufu..." disampingnya Danola berusaha menahan tawa. “Lo sengaja ya?” Tanya Dilo galak sambil mengelus keningnya. Dia menatap sebal ke Lupin yang mengucek-ngucek matanya. “Sengaja apa? Lo ngapain sih teriak-teriakin gue pagi-pagi buta gini?” sembur cewek itu galak. “Ya bangunin lo lah!” balas Dilo masih mengelus-elus jidatnya. “Ngapain bangunin gue pagi-pagi?” Tanya Lupin heran. “Tuh… cowok lo.” Jawab Dilo menunjuk Dilo dengan dagunya lalu pergi. “Pagi… my princess?” sapa Danola sambil melambaikan tangannya. My Princess? Celingukan. Danola ngomong ama siapa? “Hey? Kok bengong sih, Pin?” tanya Danola sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan muka gue. “Ekh? Lo ngomong ama gue?” “Iya, mandi sana,” kata Danola lalu pergi. Ada apa sih,nih? “Kalian berdua emang resek ya! BIKIN KERIBUTAN, BIKIN BINGUNG!” kata gue sebal lalu kembali nutup jendela. Setiap pagi, seperti biasa, Danola udah stay dilapangan basketnya dengan bola kesayangannya. Dan seperti biasa juga, Alodia yang rumahnya di seberang jalan akan singgah sebentar untuk menyapa pujaan hatinya sebelum berangkat sekolah. Tentu saja adegan itu nggak luput dari penglihatan Gita. “Pagi Kak Danolaaaaaaaaa?” sapanya sambil bersandar dibalik pagar. “Iya, Alodia, pagi juga. Mau sekolah, ya?” “Maunya sih dihati kakak, tapi_” “Danola, hey!” Gita muncul dengan senyum manis. Alodia menatap sebal. Ah, si cewek jadi-jadian itu ngapain sih deketin calon suamiku. “Danola main basket yuk! Mumpung masih pagi nih, sekalian olahraga!” kata Gita sambil menaikkan alisnya secara bergantian ke arah Alodia. Alodia menggeram. “Kak Danolaaaa tolongiinn kepala Alodia nyangkut niiiiih!” teriaknya heboh. Gita melengos. Dia tau itu taktik si cebol. “Ya ampun, nyangkut mulu kepala kamu.” Kata Danola beranjak menuju Alodia. …. Nggak bisa dibiarkan!!! “Aduh, Danola aku jatuh nih, tolongin dooong.” Teriak Gita saat Danola sedikit lagi menjangkau kepala Alodia. Danola dan Alodia melihat Gita yang sudah terduduk lemas di tanah. Alodia memicing sebal. Gue tau itu pura-pura!!! “Loh?” Danola Nampak bingung. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang nggak gatal. “Kaaaak kepala Alodiaaaa nyangkuuut! Bantuiiiiiiin!!!” teriak Alodia manja. “Aduh, kaki gue patah nih! Aduh, pasti tulangnya keropos nih! Aduh, bahaya nih! Bisa lumpuh gue nih! Aduuh!” teriak Gita nggak kalah heboh. Danola gendong gue dong, gendooooong aaaa! pekik Gita dalam hati. Sementara itu… “Kak Danola, jangan biarkan Alodia menderita begini dong! Masa tega sih sama calon istri 5 tahun mendatang? Huufufuu.” Alodia banjir iler. Tin.Tin.Tin. Sebuah mobil Honda jazz merah berhenti tepat di depan pagar. Tin. Tin.Tin. “Kak Danola asli kali ini beneren kepala Alodia nyangkut kak! Tolongiiin!” teriak Alodia panik. Danola membantu Alodia menarik kepalanya yang terjepit di besi pagar. Setelah pagar terbuka, mobil itu masuk dan berhenti nggak jauh dari mereka. Lalu, seolah angin menyambut kedatangannya, rambut gadis cantik yang baru turun dari mobil itu tampak berkibar indah. Wajahnya yang cerah dan putih membuat mereka bertiga tertegun sesaat. “Cantik banget.” Kata Alodia kagum. Cewek itu menoleh dan tersenyum manis. Bola matanya membesar saat melihat Danola. “Danola?” tanyanya memastikan. “Hay, Ken…welcome…” jawab Danola tersenyum manis. “Danolaaaaaaaaa!” cewek itu menjerit heboh lalu memeluk Danola. Membuat dua gadis di depannya mengeluarkan tanduk. “Ternyata…saingan baru!” kata Alodia melipat tangannya di d**a. “Jangan-jangan mantan Danola!” tebak Gita. “Jangan dooong.” “Lo ngapain masih disini sih cebol? Sana pergi!” kata Gita sebal. “Ah, nggak mau. Alodia harus tau dulu siapa cewek itu! Datang-datang masa langsung peluk Kak Danola!” kata Alodia lalu berjalan mendekati Danola. “Kak, dia siapa?” tanya Alodia penuh selidik. Seolah mendapati pacarnya selingkuh! “Ken, udah…lepasin dulu.” Kata Danola menarik tubuhnya dari pelukan cewek cantik itu.Cewek yang modis abis! “Ah, Danolaaa! Akukan kangen banget ama kamu! Udah lama banget nggak jumpa!” protes bibir merahnya yang berkilau. “Iya, tapi…disini…ada…” Danola menunjuk Alodia dan Gita dengan lirikan matanya. “Oh, baiklah, baiklah! Hay, semua…perkenalkan…aku Kenny Rafanda, sahabat Danola di Jerman.” Sapa Kenny dan tersenyum ramah. “OOOOOOOOOOOOOH!” kata Gita dan Alodia bersamaan. “Aku Alodia, calon pacarnya Kak Danola.” Kata Alodia yang langsung mendapat jitakan dari Gita. “Gue Gita. Tetangganya…” kata Gita ogah-ogahan. “Dilo mana sih? Ih, tuh anak, pacarnya datang malah dicuekin!” kata Kenny yang langsung membuat Gita dan Alodia mangap-mangap kaget. “Apa liat-liat?” tanya gue ke Dilo yang dari tadi memperhatikan gue dari jendela kamarnya. Apa sih, mau marah gara-gara tadi pagi? “Ge-er.” Jawabnya acuh tak acuh. Ih, nyebelin deh. Yaudah diemin aja! “Woi…jidat gue sakit.” Katanya. “Terus?” “Ini gara-gara lo tau.” Kata Dilo sebal. “Kok gue? Salah siapa gedor-gedor jendela orang pagi-pagi?”  “Ya habis lo dibangunin cowok lo nggak bangun-bangun!” “Cowok gue?” kening gue mengerut. Siapa cowok gue? -,- “Iya tuh si Danola…mau banget ya dia manggil lo my princess…my princess…” kata Dilo dengan bibir monyong seksi. “Siapa yang bilang kalo Da_” “DILOOOOOOOO!” tiba-tiba aja pintu kamar Dilo terbuka dramatis dan muncul sesosok bayangan. Seorang cewek cantik dengan balutan dress pink muda berlari dengan gaya slowmotion melompat ke pelukan Dilo. So drama… “Kenny?” Dilo menyambut pelukan cewek itu dengan penuh bahagia. Zzzzzzzzzz. Oke, mungkin terlalu lebay tapi emang gitu yang gue liat. Gue Cuma bisa bengong, melihat kemesraan dia dan SIAPA CEWEK ITU???PACARNYA??? “Kamu gimana sih? Udah tau pacarnya mau datang, bukannya ke bawah ngasih sambutan!” PACAR???? PACARNYA??? Dilo melirik Lupin yang mangap kaget saat Kenny memeluknya mesra. Cewek itu bengong dipinggir jendelanya. Bahkan buku yang dipegangnya terjatuh tanpa dia sadari. Dia melihat Lupin mengalihkan pandangannya bahkan pergi. “Aku kangen sama kamu, padahal baru 3 hari nggak jumpa.” Kata Kenny lalu mencium pipi Dilo mesra. Dilo tersenyum manis dan mengacak-ngacak rambut Kenny dengan lembut. “Makasih ya udah mau datang, Ken,” kata Dilo lalu memeluk Kenny erat-erat. Lupin Pov Kenapa kok rasanya…gue sedih. Ngeliat Dilo dipeluk cewek lain…rasanya…jantung gue ditusuk-tusuk… Nyesek. Kenapa ya, apa karna gue…masih suka sama dia? Apa benar, dari dulu sampe sekarang, gue yang tergila-gila sama dia? “LUPIIIIN! GAWAAAAAAT!” gue dengar langkah Gita berisik di anak tangga. Nggak berapa lama kemudian, pintu kamar gue terbuka dengan ekstrim. Gita muncul dengan muka lebaynya. “Pin! Tau nggak lo? Itu…ada cewek yang baru datang dari Jerman ngaku-ngaku pacarnya Dilo!” katanya setelah duduk di hadapan gue. "....." “Lo udah tau?” tanya Gita. Gue ngangguk malas. “Syukur deh, semoga ini semua bisa membuka mata lo lebar-lebar! Udah saatnya lo menggeser posisi Dilo di hati lo!” kata Gita lalu tiduran di kasur gue. “Ceweknya cantik…” “Banget!” Gita menimpali. Bisa nggak sih dia bilang kalo cantikan gue? “Modis lagi, pinter dandan.” “Iya, makanya Dilo suka sama dia!” “Hmmm hueee. “ Gue manjangin bibir sepuluh senti. “Pin, lo masih suka, kan sama Dilo?” “Nggak tau.” “Gue tau lo masih suka. Tapi, lo liat sendiri, dia udah punya pacar. Dan yang gue dengar, pacarnya itu akan tinggal disini juga! Ngekosnya di rumah gue!” “Hah? Kok di rumah lo?” tanya gue kaget. Hel…loooow? Gue butuh penjelasan soal ini! “Iya, bayarannya mahal loh, pake dollar !” kata Gita berbinar-binar. “Lagian, gue nggak setuju dia tinggal di rumah Dilo. Apalagi ada Danola!” Ekh? “Maksud gue_” “Lo suka ya sama Danola, hayoooooooo?” tebak gue. Habis Gita aneh beberapa hari ini. Setiap ada Danola matanya nggak ngedip-ngedip. Tuh, tuh, tuhkan, nggak salah lagi. Buktinya ditanya Gitu dia nggak bisa jawab. Cuma mangap-mangap nggak jelas. “Ng….nggak! Justru yang suka Danola itu bukannya elo?” tanyanya sambil menaikkan satu alisnya yang tebal. “Huh? Kok gue?” “Emangnya, selama ini…lo nggak pernah apa suka sama Danola?” “Hm? Gue suka sama Danola? WKwkkwkw…nggak mungkinlah! Danola sama gue itu udah kayak…sahabat. Nggak mungkin suka-sukaan gitu!” jelas gue. Bener kok. Gue sama Danola itu udah kayak sahabat. Suka sama Danola? Gue? Oke, Danola emang ganteng, baik, perhatian, juga penyayang, tapi gue nggak ngerasain apa-apa setiap ada didekatnya. Jadi jelas, gue nggak suka sama Danola. “Terus…kalo Danola yang suka sama lo gimana?” “Hah? Wkwkwkw…apalagi Danola! Nggak mungkin dia suka sama cewek kayak gue! Dia tau jeleknya gue luar dalem!” “….” Gita bengong ngeliatin gue. Seolah gue menyepelekan pertanyaannya yang satu itu. “Lo ngapain sih nanya-nanya kayak gitu? Baik gue maupun Danola, nggak mungkin suka-sukaan!” “Lupin kenapa sih lo jadi cewek begok amat?” kata Gita lalu bangun. “Maksud lo?” “Lo harusnya peka sama hal-hal di sekitar lo!  Udah ah, gue pulang!” katanya sebal lalu keluar balkon. Gita kenapa? Aneh deh. “Kok balik lagi?” tanya gue ke Gita yang kembali masuk. “Pinjam majalah ini, ya!” katanya menarik majalah gue yang ada dipinggir jendela. Salah satu cara untuk membuat cowok jatuh cinta, lakukan kontak…fisik! Alias…menyentuhnya! Mata Gita berkedut-kedut saat membaca tips membuat cowok jatuh cinta di majalah yang tadi dipinjamnya dari Lupin. Dia tersenyum malu-malu sambil memeluk guling dan BUG! Kemudian jatuh dari tempat tidur. “Ah, Danola plis berhenti mutar-mutar dikepala gue hueee!" “Guten abend? “…” Gita mendongak. Di depannya, ada Kenny tersenyum manis sambil mengibaskan tangannya. “Guten abend?” Ngomong apa lagi nih anak? Gita buru-buru bangun. “Gue nggak ngerti! Indonesia please?” “Oh. Hahaha, okey. Hmmm, terus…aku tidur dimana, ya?” Tanya Kenny sambil melihat sekeliling. Kamar ini cukup luas dan tampak hidup dengan warna biru langitnya. Tapi sayang, isinya berantakan. “Lo tidur disini! Gue disini!” kata Gita menunjuk lantai dan springbednya secara bergantian. “WHAT? Aku bayar mahal disini tapi kenapa tidur di bawah? Oh mamy!” kata Kenny manyun. “Yaudah kalo nggak mau!” kata Gita sebal lalu tepar di spring bednya. “Yaudah, kalo gitu aku balik aja ke rumah cowok-cowok ganteng itu!” HAAAAP! Gita spontan berdiri dan menghadang jalan Kenny. “Oke, lo diatas gue dibawah!” kata Gita akhirnya. Kenny mengedip lucu. Berhasil menggertak cewek tomboy di depannya ini. ★★★ Minggu pagi yang cerah. Dari pagi buta tadi, Gita udah stay di lapangan basket rumah Danola. Dari tadi dia menunggu dan cowok itu belum juga nongol. Ah, padahal Gita udah pemanasan dari tadi. Jungkir balik, gigitan sepatu, keluar masuk ring basket dan nyakarin tanah. Sampe akhirnya, sinar matahari mulai menerangi separuh lapangan, seseorang melintas di depannya sambil membawa setangkai bunga mawar putih. Bola matanya membesar saat tau siapa orang itu. “CEBOL!” panggilnya. “….” Alodia menoleh dengan malas. “Ngapain lo pagi-pagi kesini?” Tanya Gita nggak suka. Alodia memicing sebal. “Suka-suka Alodia dong. Mau ngapain kek itukan bukan urusan Kagit!” katanya masa bodo. “Pulang sana!” “Siapa sih ngatur-ngatur?” “Gue nggak mau lo merusak rencana gue!” kata Gita geram. “Alodia juga nggak mau kalo Kagit merusak rencana Alodia!” balas Alodia sengit. Kriek. Terdengar pintu dibuka. Danola dan Dilo keluar bersamaan. Mata Gita berkedut-kedut sementara Alodia mulai ileran. “Kak Danolaaaaaaa!” panggilnya berlari kecil mendekati Danola. “For my Prince…” kata Alodia menyodorkan setangkai bunga ditangannya. “Warna putih melambangkan ketulusan dan cinta sejati, kak!” Kata Alodia lagi. “Makasih ya…” kata Danola sambil tersenyum manis. “Macaamaaaaaa hkiikikiki.” “Haaaaaaaaaaaiii?” teriakan dari halaman ketiga membuat mereka semua menoleh bersamaan. Kenny berlari kecil dengan rambut diikat satu. Bahkan tanpa make up pun gadis itu terlihat cantik. Bikin Gita dan Alodia iri. “Sayaaaaaaaang paaaaaagiii!” sapa Kenny lalu mencium pipi Dilo. “Pagi Danolaaa?” katanya lalu mencium pipi Danola. “Harus ya seperti itu?” gumam Gita sebal. “Astaga, mak lampir ini datang-datang main cium aja!” sambung Alodia. “Hay?” sapa Kenny ke Gita. “hay,adik kecil?” sapa Kenny ke Alodia. “Adik kecil ?” gumam Alodia nggak setuju. “Wah, pagi cerah gini enaknya ngapain, ya? Main basket yuk?” ajak Kenny semangat. “Boleh, yuk!” sambut Danola. “Kalo 3 lawan 2 kalah dong yang kurang pemain!” protes Gita. “Terus satu lagi siapa dong?” tanya Alodia melihat wajah-wajah didepannya secara bergantian. Gue disini. Di tengah-tengah antar Dilo dan Danola. Lagi asik-asiknya ngupil si Gita dan Alodia main masuk kamar gue dan narik gue ke lapangan basket. Setan emang! Nggak sopan  Tau-taunya sampe di lapangan, gue  satu team bareng Danola dan DILO? Ayolah, kenapa gue? Kan ada pacarnya! “Alodia maunya sama Kak Danolaaa!” gue dengar protes Alodia yang lagi diseret-seret Gita menuju ring lawan. “Awas ya kalo lo jadi beban!” bisik Dilo ke gue. Gue mendelik kesal. “Ini cuma permainan. Jadi nggak usah serius-serius gitulah!” kata gue sebal. Dilo terkekeh. Heh, lucu? Danola mendekati gue dan tiba-tiba aja tangannya merapikan ikatan rambut gue yang nyaris lepas. Nggak biasanya Danola begini? “Nooooooooo!” teriakan itu keluar dari Alodia yang nampak berapi-api. -,- Ah, anak itu, pasti dia cemburu deh hihihi. Gue tau kalo dari SD, Alodia udah tergila-gila sama Danola. Dan sikap pantang menyerahnya itu bikin gue salut. Sekalipun Danola terkadang cuek, dia terus berusaha menyadarkan Danola kalo dia ADA. Ya, moga aja, suatu hari nanti, Danola menyadarinya. “Ehem…ehem.” Dilo berdehem di belakang gue dan Danola. Dia keliatanya udah siap dan nggak sabaran. Tapi apa itu, kenapa dia ngeliatin gue kayak gitu? Seolah gue melakukan sesuatu yang nggak dia suka…. “Cebol awas ya kalo lo mainnya gak becus!” ancam Gita sambil bertolak pinggang. Alodia melakukan goyang pompa alias naik turun b****g. Bikin Gita mendelik jijik. “Lo ngapain sih? Jijik liatnya!” kata Gita galak. “Ya pemanasanlah Kagit! Jangan galak-galak napa sih?” “Ya yang lain kek gayanya!” “Hey, hey, udah deh. Kalian berdua dari  tadi berisik banget! Awas ya kalo kita sampe kalah!” kata Kenny yang udah siap dengan posisi paling depan. “Kalo ada gue mah aman-aman aja. Ini nih!” kata Gita menunjuk Alodia dengan dagunya. Danola maju ke depan sambil mendrible bola. “Oke, MULAI!” katanya lalu melambungkan bola. Kenny berlari mengejar bola dan DAPAT. Dia mendrible menuju ring lawan. Sementara Dilo mengawasi geraknya dari depan. Saat mencoba melakukan steal dia malah tabrakan dengan Lupin. Cewek itu berdesis kesal dan menjauh. “Tangkap dooong sayaaaaaang!” teriak Kenny sambil memainkan gerak tangannya. Dilo mengangkat bahu cuek. “Yah, Danola!” Jerit Kenny kesal karna Danola berhasil mencuri bola dari tangannya. “Sori…” bisik Dilo ke Lupin yang stay disebelahnya. Cewek itu bengong sebentar dan tersadar saat teriakan dari lawan mereka membahana. “YAH MASUK! LO SIH CEBOL! MAKANYA JADI ORANG JANGAN PENDEK!” teriak Gita kesal. “KOK ALODIA? KAGIT TUH MATANYA NTAH KEMANA-MANA!” “AAAAH KALIAN BERDUA DARI TADI BERISIIIIIKK!” teriak Kenny frustasi. Lagi.Kali ini mereka semua terdiam melihat Alodia bermain sendiri. Ntah apa yang dilakukan anak itu, dia berputar-putar sendiri ditengah lapangan. Mencari-cari bola yang ditendangnya ke semak-semak. “Ya ampun, itu anak siapa sih?” kata Kenny mulai sebal. Setelah bola dapat, permainan dilanjut. Kali ini, Lupin melakukan rebound dari bola yang dilempar Kenny. Kenny terkekeh, merasa lawan didepannya ini cukup seimbang. “Hai…kita belum kenalan, kan?” tanya Kenny ke Lupin di garis pertahanan. Keduanya saling menjaga jarak. Lupin nggak mau tertipu dengan obrolan ini. Bola sedang ditangannya. “Lupin.” Kata Lupin dan mengoper bolanya ke Dilo. “Kenny.” Sahut Kenny dan beralih mengejar Dilo. Lupin diam ditempatnya sambil memperhatikan Dilo dan Kenny yang sedang rebutan bola. Mereka tampak serasi. Dilo mengoper bola ke Danola yang langsung menuju ring lawan. Gita nggak mau ketinggalan, mungkin ini waktunya memberi sentuhan untuk Danola. Alodia nggak mau kalah, dia memburu langkah Gita yang mulai mendekati Danola. Gita melompat senang saat tangannya sebentar lagi akan menjangkau lengan Danola yang berotot. CLEB. Sesuatu terjadi diluar kuasanya. Tangannya malah menyentuh sesuatu yang bulat dan kenyal. Bahkan Gita sempat meremasnya kuat. …. “AAAAAH…KAGIT PORNOOOO!” teriak Alodia histeris saat p******a kanannya ada dalam remasan tangan Gita. …… “AAAA…KAGIT p***o! m***m! AAAAAAA!” teriak Alodia lagi sambil menutupi dadanya. Kampret, kok malah nyentuh barang si cebol sih? “LO SIH NGAPAIN NGALANG-NGALANGIN?” bentak Gita galak. “Huhuhuh, Kagit p***o!” gumamnya lalu kembali ke posisi semula. Strategi bertahan satu lawan satu. Lupin dihadapkan lagi dengan Kenny yang nampak bersemangat. Sementara Dilo berada dibelakangnya mengawasi. Danola sendiri menunggu apa yang akan dilakukan Lupin, mengoper atau malah maju. TAP! Lupin baru aja mau melakukan back door  tapi tiba-tiba kakinya terpeleset dan… DUG. Dia jatuh kepelukan Dilo. ……. ……. Kenny menghentikan gerakannya. Begitupula dengan yang lain. Sial, kenapa jantungan gini gue? Batin Dilo sambil menatap bola mata Lupin dalam-dalam.                                                  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN