Kamal menatap Kamila heran. “Emmm, mau ada perlu aja, Pak.” Kamila tidak bisa menjawab apa adanya. Meski penasaran, Kamal juga tidak mendesaknya. Dia mundur selangkah mempersilahkan Kamila berjalan melewatinya. Kamila berbicara dengan Bu Ayu, hampir selama satu jam, dengan air mata yang terus merembes. Pada dasarnya, pengacara berusia empat puluhan itu bersedia membantu proses perceraiannya. Pada pertemuan berikutnya, dia akan memberikan Kamila pilihan-pilihan konsep materi gugatan. Seusai berjanji temu dua minggu lagi, Kamila berpamitan. Begitu keluar lift di lobi, Kamal yang rupanya tidak langsung pergi dan sengaja menanti di ruang tunggu, bergegas menghampirinya. “Kamila!” Dia menoleh dan menghentikan langkahnya. “Sudah selesai pertemuannya?” Kamila mengangguk. Dia tersenyum me

