Keyakinan Kamila kemudian memang benar adanya. Minggu pagi itu, sewaktu dia menyampaikan kemungkinan dirinya bekerja, dahi Arzan langsung berkerut. “Siapa nanti yang ngurus dan jaga Naura kalau kamu kerja?” Arzan memandangnya sambil mengaduk kopinya. Pertanyaan itu sesuai dengan prediksinya, tetap saja dia kecewa. Kamila menyilangkan kedua tangannya di d**a. “Tapi, aku harus kerja, Kak.” “Kenapa harus?” tanya Arzan. “Supaya punya penghasilan sendiri. Nanti, kalau waktunya tiba aku tinggal cuma berdua sama Naura, aku sudah siap mandiri. Aku nggak mau jadi beban siapapun.” Arzan menghela nafasnya panjang. Alasan Kamila tidak bisa disalahkan. Salahnya yang telah memberikan ketidakpastian. “Aku juga kepikiran mau beli mobil sendiri. Buat antar jemput Naura sekolah dan buat kegiatan

