Tak ada hal baik rasanya menghampiri hidup Ariel Danish dari semenjak ia masih kecil. Ayahnya adalah orang yang begitu berambisi dan sangat ingin berkuasa. Dari kecil Ariel sering mengalami kekerasan fisik yang membuatnya begitu terluka. Robby Danish sering mempermalukan dan menganggap Ariel bukanlah anak yang berharga. Ia diperlakukan tak ada bedanya seperti benda tak bernyawa tanpa perasaan. Sedangkan Ibunya, ia lebih senang bersama teman-teman arisannya daripada mengurus Ariel. Dulu saat-saat sekolah adalah masa paling menyakitkan baginya. Ariel yang memiliki tubuh tambun menjadi bahan ejekan dan bullyan teman-temannya. Hal itu berlangsung hingga masa-masa SMP. Ariel yang tak berani melawan hanya bisa jadi bulan-bulanan senior dan teman-teman sebayanya. Julukan si “bola” adalah kata

