Felix pergi meninggalkan resto dengan kepala terangkat. Langkah kakinya terasa ringan. Dia benar-benar memberi ultimatum pada mereka agar mematuhi kode etik jurnalis. Sesekali memang perlu memukul rata para wartawan agar tak menguliti keburukan orang lain. Pria itu masih teringat jelas bagaimana wajah muram Fara begitu namanya terseret dalam permainan Stefany. Pastilah hal itu mengganggu pikirannya. Walaupun dia berusaha untuk baik-baik saja. Felix ingin tahu sedang apa wanita incarannya saat ini. Dia mengambil gawai miliknya dan menghubungi Fara. “Halo?” sapa Fara dengan renyah. Mood Felix seketika berubah membaik. Bahkan suaranya mengalahkan syair pujangga. “Hai, apa sudah sampai rumah?” tanya Felix penasaran. “Sudah, Pak. Saya baru saja sampai rumah,” balas Fara sewajarnya. “K

