Jari-jemari Kenzo bergetar saat ia mendorong pelan pintu pagar kayu yang tidak terkunci. Langkah kakinya yang menginjak rerumputan basah terasa begitu berat, sarat akan beban rasa bersalah dan kerinduan yang telah menumpuk selama bertahun-tahun. Hatinya bergemuruh hebat, siap bersimpuh dan menyerahkan seluruh harga dirinya di hadapan wanita yang pernah ia hancurkan hidupnya. "Freya..." bisik Kenzo parau, suaranya nyaris tenggelam oleh desir angin pagi Kaliurang. Namun anehnya, tidak ada sahutan. Tidak ada suara dari dalam rumah kayu itu dan hanya ada kicau burung yang bersaut-sautan. "Freya..." panggil Kenzo lagi dan lebih lirih. Suasana halaman rumah kayu itu terasa begitu sunyi. Kenzo menaiki anak tangga teras dengan jantung yang berdegup kencang hingga meremukkan dadanya. Ia menget

