“Ben, apa yang tadi kamu obrolkan sama Umar,” tanya Nessa, matanya membengkak akibat terlalu banyak menangis. “Hanya obrolan biasa, tidak terlalu penting,” jawab Ben sekenanya. Ia tahu Nessa curiga, tapi apa yang harus Ben katakan? Ia tak mungkin menjelaskan bahwa ia penasaran dengan perasaan Umar terhadap istri mendiang sahabatnya itu. “Jangan bohong, Ben. Apa itu tentang Sam?” “Bukan, Ness. Lebih tepatnya tentangmu.” “Apa?” Ben menarik napasnya dalam-dalam, matanya mengarah pada perut Nessa yang semakin membesar. Wanita itu butuh sandaran, dan tentu saja bayi yang dikandungnya butuh figur seorang ayah. Tapi Ben enggan membahasnya, semua itu di luar tanggung jawabnya. Biarlah Nessa sendiri yang menentukan pilihan ingin menjalani hidup seperti apa dan bagaimana. “Kamu tahu saya

