Mengatakannya pun percuma. Bukankah Nayla tidak menginginkannya lagi? Seandainya rindu itu ada, Ben lebih memilih menyimpannya dalam diam. Ben diam. Ia hanya menatap wajah Nayla lekat. Digenggamnya tangan Nayla erat. “Kapan kamu menikah?” tanya Ben, mengalihkan pembicaraan. Ditanya begitu, Nayla membuang muka. Suasana di kamar itu hening. Ben dan Nayla sama-sama terdiam. Lalu tiba-tiba Nayla kembali ingin muntah. “Ada apa?” Ben bernada cemas. “Aku mual,” jawab Nayla terburu-buru menyingkirkan selimut dan turun dari ranjang menuju westafel. “Hoek, hooeek!” Ben mendekat, diusapnya punggung Nayla pelan-pelan. Nayla mengusap mulutnya dengan tisu. “Aku baik-baik aja, jangan khawatir,” kata Nayla saat melihat wajah cemas Ben. “Mana mungkin saya tidak mencemaskanmu, Nay. Kondisi kesehata

