Willona terdengar bisik-bisik dengan seseorang. Apa itu Nayla? Ben menerka-nerka apa yang mereka lakukan sampai ia menertawakan diri sendiri mengapa bertingkah konyol seperti perempuan. Harusnya ia tak peduli, tapi Ben mulai dihantui rasa takut kehilangan Nayla. Telepon terputus. Ben mengumpat sambil meninju angin. *** “Jadi, kapan kamu ikut aku ke Jakarta?” tanya Willona, ia berharap Nayla ikut dengannya sesegera mungkin. Nayla masih berpikir, satu sisi, ia ingin sekali ikut bersama Willona dan bekerja sebagai model majalah. Menjadi model adalah mimpinya sejak dulu, bahkan impian Raditya juga. Tapi melihat kondisi Utie, wanita itu terlihat agak kurang sehat. “Kayaknya gak bisa waktu dekat ini, Will. Seenggaknya, aku nggak ninggalin Bibi dalam kondisi sakit.” Nayla melirik kamar

