Bab. 43

1888 Kata

Ben menyuruh Nayla mengikutinya masuk ke sebuah hutan kecil. Sepanjang mengikuti Ben, Nayla terus menangis. Ia merasa takut luar biasa, dan berharap Ben hanya mengarang cerita. Nayla mengingat apa hari itu ulang tahunnya? Tidak, ulang tahunnya bahkan masih sangat lama. Lalu, apa semua ini nyata? Langkah Ben terhenti, di dekat gundukan tanah yang dikelilingi bebatuan. Salah satu batu paling besar bertuliskan nama Raditya Putra. Tungkai kaki Nayla terasa lemas, tak berdaya. Ia mendekati kuburan itu tak percaya. “Enggak mungkin. Ini pasti bukan Kak Raditya. Bener kan, Dave?” Suara Nayla nyaris nyilang, kedua matanya menatap tajam wajah Ben meminta penjelasan. “Ini makan Raditya.” Ben berjongkok di seberang Nayla. “Bohong!” bentak gadis itu. “ Kamu pasti ngarang cerita. Kak Radit bukan pe

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN