Benar-Benar Menciptakan Neraka

714 Kata
“Kali ini keluargamu selamat karena kau masih perawan.” Kalimat itu keluar tanpa empati sedikit pun. Seperti fakta bisnis, bukan perihal harga diri seorang manusia. Kayla mengepalkan kedua tangannya di atas selimut yang masih membungkus tubuhnya. Jari-jarinya memucat karena tekanan. Dadanya naik turun, menahan napas yang rasanya begitu sesak. Ia tidak tahu apakah harus percaya atau menolak semua ini. “Kau pasti bohong, kan?” bisiknya, suara itu bergetar. “Aku akan menanyakan langsung pada ayahku. Tidak mungkin dia menjualku. Dia sangat menyayangiku… dia ayahku…” Xavier mendekat sedikit dengan wajah datar yang selalu ia perlihatkan pada Kayla. “Kau sudah menjadi milikku, Kayla. Pergi menemui ayahmu, sama saja dengan mengantarkan nyawamu ke neraka.” Kayla mengangkat wajahnya, menatap Xavier dengan sorot tidak percaya. Kata-kata itu membuatnya membeku. Ada ancaman tersembunyi di dalamnya, halus namun sangat jelas. Ketakutan yang selama ini menempel di dinding hatinya kini turun dan menghantamnya dengan keras. “Apa maksudmu, Xavier? Kau melarangku bertemu orang tuaku?” ucapnya dengan nada lirihnya. “Tapi itu tidak ada di surat perjanjian pernikahan itu. Aku membacanya dari awal sampai akhir!” Xavier tidak menjawab. Ia hanya menghela napas pelan, lalu membalikkan badan dan menarik selimutnya. Dalam hitungan detik, pria itu memejamkan mata dan berpura-pura tidur, seolah percakapan barusan hanyalah hal sepele yang tidak perlu dilanjutkan. Kayla memandang punggungnya dengan campuran amarah dan kepasrahan. Jantungnya masih berdetak tak karuan, pikirannya kacau. Ia merasa seperti dikurung dalam jeruji tak kasat mata—diikat, dibungkam, dan dipaksa bertahan dalam sebuah kehidupan yang bukan pilihannya. ** “Nona, Anda dilarang pergi oleh Tuan Xavier.” Suara berat dan dingin itu menghentikan langkah Kayla tepat di ambang pintu depan, di mana dua penjaga berseragam hitam berdiri seperti patung tak bernyawa. Kayla membeku sejenak. Kedua matanya menatap pintu gerbang besi hitam yang menjulang tinggi di kejauhan, seolah itu adalah satu-satunya jalan keluar dari penjara mewah yang disebut rumah. “Aku harus pergi ke rumah orang tuaku. Ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan mereka. Aku mohon, bukakan pintu untukku.” Namun dua penjaga itu tetap diam, ekspresi mereka tidak berubah, seperti patung batu yang tidak mengenal belas kasihan. “Tuan Xavier sudah memerintahkan kepada kami agar tidak membiarkan Anda keluar dari rumah ini tanpa seizin beliau,” jawab salah satu dari mereka dengan nada tegas dan kaku. Kalimat itu bagaikan cambuk lain yang mendarat di hati Kayla. Ia mengepalkan tangannya, mencoba menahan rasa sesak di d**a yang terus bergemuruh. Kepalanya menunduk sesaat, lalu mengangkat wajahnya dengan sorot mata yang berapi-api. “Aku hanya pergi ke rumah ayahku! Bukan kabur! Apa dia pikir aku akan melarikan diri?” suaranya meninggi, napasnya memburu karena amarah yang tertahan. “Astaga, pria itu benar-benar—!” Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Telepon di tangannya bergetar—nama Xavier muncul di layar. Kayla menekan tombol hijau dengan cepat. “Xavier. Aku harus pergi ke rumah—” “Aku tidak mengizinkanmu,” potong Xavier dengan suara dingin dan mengintimidasi. “Kembali ke dalam jika tidak ingin kuhukum.” Tanpa memberi kesempatan bicara, suara itu menghilang begitu saja. Sambungan terputus. “Ha—halo?! Xavier! Aku belum selesai bicara!” teriak Kayla ke ponselnya. Kakinya lemas. Ia menatap gerbang sekali lagi, lalu berbalik perlahan dengan mata yang mulai memerah. Setiap langkah kembali ke dalam rumah terasa berat, seolah kedua kakinya menginjak pasir basah yang menahan dan menjerat. Begitu masuk kembali ke ruang utama rumah megah itu, Kayla berdiri terpaku. Ia memandang ke sekeliling—langit-langit tinggi dengan lampu kristal bergantungan, marmer mengilap di bawah kakinya, dan tangga melengkung yang anggun—semuanya megah, indah, dan… kosong. Kosong dari kebebasan. Kosong dari kasih. “Apa ini…?” bisiknya lirih. Suaranya nyaris tak terdengar. Ia berjalan perlahan ke arah jendela besar yang menghadap taman belakang. Matanya memandangi halaman luas yang hijau dan tertata rapi, tapi tak pernah terasa seperti rumah. Di balik keindahan itu, tersembunyi belenggu yang tak tampak oleh mata orang luar. “Aku akan menjadi burung dalam sangkar,” katanya dengan suara lirihnya. “Tidak akan bisa ke mana-mana kecuali pemilik sangkar mengizinkanku terbang.” Tangannya menyentuh kaca jendela. Dingin. Sama seperti hatinya saat ini. “Xavier benar-benar menciptakan neraka di hidupku,” gumamnya dan butir air mata pertama jatuh, membasahi pipinya tanpa izin. “Mampukah aku bertahan hidup seperti ini?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN