Bab 3. Menolak Bantuan

1097 Kata
“Kita bicara di luar saja,” jawab Amanda. Amanda beranjak dari duduknya, sebelum meninggalkan sang anak. Ia menaikkan selimut Alana terlebih dahulu agar anaknya tidak kedinginan. Amanda keluar lebih dulu yang diikuti oleh Pandu. Ia sengaja berbicara di luar supaya Alana tidak mendengarnya jika sewaktu-waktu dia terbangun. Alana tidak boleh mendengar pembicaraannya dengan Pandu, apalagi masalah yang dibicarakan adalah tentang Alana. Ibu muda itu tidak mau kalau sampai Pandu mengetahui kebenaran tentang kedua anak kembarnya. Amanda dan Pandu menuju ke sebuah taman rumah sakit yang berada tepat di belakang ruang rawat Alana. Wanita yang baru berusia dua puluh lima tahun itu duduk di salah satu kursi taman. Pandu ingin duduk satu kursi, tapi ia sadar diri kalau mantan istrinya itu sudah pasti akan menolaknya duduk berdekatan dengannya. “Manda, tolong kali ini jawab pertanyaanku dengan jujur!” pinta Pandu, "apa Alana anakku?” tanya pria itu lagi. Berkali-kali Pandu bertanya dengan pertanyaan yang sama kepada Amanda. Ia berharap mantan istrinya itu memberi jawaban yang berbeda dengan sebelumnya. Amanda terdiam sesaat setelah mendengar pertanyaan Pandu yang sudah lebih dari dua kali ditanyakan padanya. Ia mengembuskan napasnya dengan kasar, lalu menjawabnya dengan tegas. “Dia bukan anak kamu!” Amanda menegaskan sekali lagi. "Dia anakku!" "Dia anak aku dan kamu. Alana anak kita 'kan?" Pandu sangat berharap kalau Alana itu anaknya. "Mas, apa kamu tidak bisa mengerti apa yang aku bicarakan? Alana bukan anakmu!" Dengan kesal Amanda menegaskan sekali lagi. “Tapi golongan darahnya dan golongan darahku sama, Manda. Kamu jangan membohongiku!” “Aku tidak membohongimu, aku mengatakan yang sebenarnya. Dia bukan anak kamu!” tekan Amanda sekali lagi. Ia tidak akan bosan mengatakan kalau Alana bukan anak mantan suaminya. “Kalau dia bukan anakku, kenapa golongan darahnya sama?” Pandu tidak yakin dengan ucapan mantan istrinya itu, ia terus mendesak Amanda untuk jujur. Ia sangat berharap Amanda jujur dengan kenyataan yang ada. Dalam hati kecil Pandu, ia sangat yakin kalau Alana adalah darah dagingnya. "Memangnya cuma kamu yang mempunyai golongan darah AB?" balas Amanda sinis, "tapi, aku tetap bersyukur dan aku ucapkan terima kasih banyak padamu karena sudah menolong Alana.” “Kalau dia bukan anakku, lalu anak siapa? Kita berpisah belum genap enam tahun, tapi kamu sudah mempunyai anak yang usianya lima tahun. Besar kemungkinan kalau dia anakku, Manda!” tekan Pandu. “Kalau aku jawab bukan, ya itu artinya bukan, Mas!” jawab Manda dengan tegas, tapi tidak berani menatap mata Pandu yang berdiri di hadapannya. “Tatap mataku dan katakan kalau dia bukan anakku!” perintah Pandu. Amanda terdiam, bukannya menatap mata mantan suaminya, tapi Amanda malah menundukkan kepalanya. “Kamu tidak berani?” tanya Pandu sedikit sinis. Mendapat pertanyaan itu membuat Amanda sedikit marah. Amanda menatap Pandu lekat. “Kamu mau jawaban yang sebenarnya, kan? Oke, aku jawab. Dia bukan anak kamu!” Amanda berucap seraya menatap mata mantan suaminya. Meski Amanda sudah menatap matanya, tapi Pandu tidak percaya begitu saja. Pria itu masih mendesak mantan istrinya untuk mengiyakan pertanyaannya. “Lana anakku dengan suami baruku,” ujar Amanda. “Kamu sudah menikah lagi?” tanya Pandu tidak percaya. “Setelah bercerai dengan kamu, tidak lama kemudian aku menikah dan hamil Alana. Sekarang usianya baru empat tahun, bukan lima tahun,” jelas Manda mematahkan keyakinan Pandu. “Setelah bercerai, kamu langsung menikah? Hebat kamu.” Suara Pandu terdengar sinis. Pria itu pun memberanikan diri untuk duduk di samping mantan istrinya. Amanda sedikit menggeser tubuhnya. "Iya, aku memang hebat. Tidak sulit bagiku untuk mencari suami pengganti setelah kita bercerai." Amanda terpaksa berbicara demikian supaya Pandu tidak lagi mempertanyakan tentang anaknya. "Apa dia anak selingkuhanmu?" Pandu menoleh pada Amanda. “Kamu sangat benar, Mas. Alana adalah anakku dan selingkuhanku dulu. Jadi, jangan bertanya lagi tentang Lana karena dia bukan anak kamu!” ucap Amanda penuh penekanan. Dalam hati, Amanda merasa bersalah karena sudah menyembunyikan fakta, tetapi ia tidak bisa melakukan apapun selain hal itu. Pandu dan Amanda masih duduk bersama di bangku taman. Kedua orang itu sama-sama terdiam dengan pikiran yang berkecamuk. Pikiran Pandu dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang masih mengganjal tentang Alana. “Aku akan tetap bertanggung jawab untuk membayar administrasi rumah sakit." Akhirnya Pandu bersuara setelah sekian lama terdiam. Pria itu juga berdiri untuk bersiap pergi. “Kamu tidak perlu melakukannya!” balas Amanda dengan spontan. Perempuan itu ikut berdiri menghalangi Pandu yang akan melangkah. Pria itu mengerutkan dahinya menatap mantan istrinya. “Aku harus melakukannya?” Pandu tetap ngotot untuk bertanggung jawab supaya bisa lebih dekat lagi dengan Alana karena ia ingin mencari tahu sendiri tentang kebenarannya. "Dia tanggung jawabku." “Tapi dia bukan anak kamu,” balas Amanda. “Ya, dia memang bukan anakku, tapi aku yang sudah menabraknya. Jadi, aku yang bertanggung jawab mengurus seluruh administrasi Alana.” Hanya itu yang bisa Pandu gunakan sebagai alasan untuk tetap bertemu dengan Alana dan menyelidiki kebenaran tentang anak perempuan yang ditabraknya itu. “Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri. Lebih baik kamu pulang!” ujar Amanda beranjak pergi. Namun, tangannya dicekal oleh mantan suaminya. “Manda, aku hanya berniat baik padamu. Aku minta maaf kalau sudah membuatmu tidak nyaman, tapi aku perlu melakukan ini. Biaya rumah sakit sangat mahal, kamu—” “Apa kamu pikir aku tidak mampu? Kamu mengira kalau aku ini masih miskin?” tanya Amanda menyela ucapan mantan suaminya sambil menyunggingkan satu sudut bibirnya. "Jangan lupa! Aku ini sudah punya suami, dia yang akan bertanggung jawab kepadaku dan Alana." Ingatan kejadian beberapa tahun lalu merasuki otak Amanda, di mana mertuanya sangat tidak menyukai keberadaannya karena dirinya adalah gadis miskin. Sekarang Pandu menghinanya, mengatakan seolah-olah dia tidak sanggup membayar biaya rumah sakit. “Manda, bukan itu maksudku. Aku hanya—” “Meski aku wanita miskin, aku bisa bekerja keras demi anakku. Terlebih aku juga punya suami, jadi kamu tidak perlu melakukannya,” jelas Amanda kembali menyela ucapan Pandu. “Apa salahnya kalau aku yang membayar? Kamu jangan keras kepala, Amanda.” Pandu sedikit meninggikan suaranya. “Alana anakku, dia tanggung jawabku,” ujar Amanda penuh penekanan. Amanda mengempaskan cekalan tangan mantan suaminya, Amanda bukan tidak mau mantan suaminya bertanggung jawab. Hanya saja ia tidak ingin identitas anaknya terungkap. Ia tidak ingin Pandu mengetahui kenyataan kalau Alana anak kandungnya. Selama ini Amanda yang sudah membesarkan anaknya. Dalam keadaan apa pun ia memperjuangkan kebahagiaan untuk Alana dan Alan. Sekarang Pandu datang lagi saat Alana sudah berusia lima tahun, Amanda tidak rela bila Pandu merebut anak-anaknya. Amanda berlari menuju ke pusat administrasi untuk membayar semua pengobatan putrinya. Air mata wanita itu mendesak keluar ketika melihat tagihan rumah sakit yang begitu besar. “Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak ini?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN