3. Asing Tapi Menikah

1567 Kata
Pernikahan sejatinya harus dilakukan atas dasar dua orang saling mencintai. Kalaupun belum, setidaknya keduanya telah saling mengenal dengan baik. Siap menerima kekurangan masing-masing dan melengkapinya. Namun hal berbeda justru terjadi pada Mona dan Galih. Mereka menikah tanpa perasaan cinta atau telah saling mengenal. Mona telah menunggu di dalam kamar. Ia telah memakai gaun pengantin yang begitu indah, berwarna putih seolah dirinya akan kembali suci sebagai pengantin baru. Meski bukan pertama kali memakainya, tetapi tetap saja Mona merasa gugup. Saat ini rumah Mona hanya dipadati oleh kaum perempuan, karena sebagian besar para pria telah menuju masjid untuk melangsungkan akad nikah yang akan dijalani oleh Galih di sana. Barulah setelah akad nikah dilakukan, maka Galih akan menuju rumah Mona untuk menjemput istrinya itu. Masita memandang wajah putrinya yang telah dihias dengan baik. "Sayang, sebentar lagi kamu akan menjadi milik Galih." Mona tersenyum tipis. "Aku masih tetap milik Ibu juga." Masita tidak dapat menahan rasa harunya. Ia langsung memeluk lembut Mona. Pada satu sisi dirinya merasa sedih harus melepas Mona setelah apa yang terjadi pada wanita itu, tetapi ia juga bahagia bahwa Mona bisa menikah lagi. "Meski kau masih tinggal di Tembagau, tetapi jarak rumah kita akan cukup jauh," ujar Masita melepas pelukannya. "Aku akan berkunjung setiap akhir pekan," balas Mona tidak mau membuat ibunya merasa sedih. Kepala Masita mengangguk pelan. "Tentu saja." Ia kemudian bangkit dari tempat tidur. "Kalau begitu Ibu keluar dulu. Sepertinya ... akad nikahnya sudah selesai dan mereka dalam perjalanan ke sini." Mona hanya mengulum senyum mendengarnya. Ia kemudian melihat ibunya mulai keluar dari kamar. Sudah banyak anggota keluarga dan teman-temannya, khususnya tetua wanita yang mendatanginya sejak pagi. Memberi nasihat akan kehidupan pernikahan serta ucapan doa dan harapan. Masita adalah orang terakhir yang mengunjungi Mona, sebelum Galih dan rombongan akan segera datang. Setelah itu, acara pesta pernikahan akan segera digelar di salah satu hotel pada malam harinya. Mona menarik napasnya. Ia bangkit dan menuju salah satu laci dekat tempat tidurnya. Membuka isi laci tersebut dan mengambil sebuah buku berjudul Laut Bercerita yang di bawahnya terdapat buku berjudul Madilog. Tangan Mona perlahan membuka buku Laut Bercerita. Pada bagian sebuah halaman yang ia berikan tanda pada kalimat "ketidaktahuan dan ketidakpastian kadang-kadang jauh lebih membunuh daripada pembunuhan," ada sebuah amplop yang terselip di sana. Napas Mona menjadi berat, kala tangannya mulai membuka isi amplop tersebut. Sebuah surat yang ditulis tangan oleh Angga kemudian mulai dibacanya. Sebenarnya Mona telah menerima surat itu sejak jasad Angga dipulangkan, tetapi dirinya tak pernah sanggup membukanya. Lebih tepatnya Mona belum bisa menerima kematian lelaki itu. ••• Kepada Mona, istriku tercinta. Umur memang tidak ada yang tahu, ketika aku menuliskan surat seperti ini, berarti aku akan menjalani tugas yang berat. Menaruh surat ini dalam loker, berharap bisa kembali dan merobeknya. Namun jika pada akhirnya surat ini sampai di tanganmu dan dibaca olehmu, berarti aku telah tiada. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan, tetapi tebalnya buku-buku sejarahmu mungkin tak akan sebanding dengan ceritaku. Oleh karena itu, biarkan aku mencoba sepatah kata saja. Bahwa betapa bahagia dan beruntungnya aku bertemu denganmu. Bisa menerima cintamu dan akhirnya menikahimu. Terima kasih kepada Ayahanda yang telah mempertemukan kita. Salam kepada Ibu yang selalu menganggapku sebagai putranya sendiri dan ... aku untukmu sendiri, cintaku padamu tak akan lekang oleh waktu bahkan mungkin akan abadi. Jika memang umurku panjang, maka jangan biarkan kisah kelam ini menenggelamkanmu ke dalam jurang kesedihan dan kehilangan tak berujung. Jika ada lelaki yang bersedia menikah denganmu, rela menerimamu sebagai istrinya, maka terima lah dia. Maafkan aku tidak bisa menepati janji untuk pulang dan mendengar cerita sejarah yang senang kau tuturkan. Suamimu, Angga. ••• Hancur sudah perasaan Mona setelah membaca surat tersebut. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan lagi. Ia berpikir isi surat itu hanya untaian kalimat romantis yang dikutip oleh Angga pada sebuah buku. Namun nyatanya jauh lebih mendalam. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Buru-buru Mona memasukkan kembali surat tersebut ke dalam amplop. Tetapi ia tidak sempat menaruhnya ke dalam buku jadi Mona langsung menyelipkannya ke bawah bantal. Pintu mulai terbuka dan rombongan keluarga Galih masuk, termasuk sang mempelai pria. Tampak Rahayu berada paling depan dan langsung menuntun putranya untuk melangkah lebih dekat kepada Mona. Suara riuh yang sebagian besar menyerukan nama Mona dalam sukacita menjadikan wanita itu mengulas senyuman tipis. Meski di hadapannya kini telah ada suami sahnya, tetapi dalam pikirannya ia masih mengingat surat dari Angga. Hatinya bergejolak merasakan kebahagiaan semu dan kesedihan yang belum memudar. Galih selalu tenang, bahkan ketika ijab kabul yang dilakukannya di hadapan ayah Mona tadi. Baginya pernikahan ini sudah terjadi dan tidak ada jalan lagi untuk lari darinya. Namun samar ia bisa melihat bekas tanda menangis pada mata Mona. Galih belum sempat bicara dengan Mona, karena langsung diarahkan oleh Ibu dan keluarganya dari pihak wanita untuk segera membawa Mona keluar dari kamar. Keduanya kemudian menuju ruangan yang telah disiapkan untuk menandatangani buku nikah. Namun sebelum itu mereka melakukan doa nikah. "Silakan kedua mempelai saling bertukar cincin." Darah Mona berdesir kala mengulurkan tangannya. Apalagi melihat Galih seolah tanpa ragu menyematkan sebuah cincin emas padanya. Ketika ia mendongak, mata Galih menatapnya dalam. Alis Galih terangkat melihat Mona hanya menatapnya dalam diam. Ia kemudian memicingkan mata agar wanita itu balik memasangkan cincin padanya. Mona yang tersadar langsung meraih cincin yang terbuat dari titanium yang ada dalam kotak cincin. Ia menarik napas panjang sebelum merasakan jemarinya menyentuh jari Galih. Ketika cincin berhasil lolos ke dalam lingkar jari Galih, suara sorakan dari para tamu mulai terdengar. Menjadikan pasangan pengantin baru tersebut hanya mengulas senyuman tipis. "Kedua mempelai, hadap sini," ujar fotographer yang jasanya telah disewa. Galih dan Mona kemudian menghadap menuju kamera sambil memamerkan cincin di jari mereka. Jepretan demi jepretan foto mulai diambil entah dari lensa kamera secara langsung atau kamera ponsel para tamu dari pihak keluarga kedua belah pihak. Dalam pikiran Mona adalah dirinya benar-benar telah menjadi istri dari Galih, bukan lagi janda dari Angga. Ia berdebar memikirkan status terbarunya, tidak bisa menebak bagaimana kehidupan rumah tangganya dengan Galih. ♡♡♡ Enam jam berlalu sejak acara akad nikah. Anggota keluarga kedua mempelai mulai menyiapkan diri ke acara selanjutnya, yaitu pesta pernikahan. Begitupula Mona dan Galih diberi kesempatan untuk beristirahat sejenak dalam kamar Mona. "Mona, satu jam lagi kau akan dihias jadi cepatlah bersihkan dirimu," ujar Masita begitu mendapati Mona keluar dari kamar untuk mengambil minum. "Baik Ibu," balas Mona kemudian masuk kembali ke dalam kamar. Di sana telah ada Galih berbaring di atas tempat tidur. Memakai baju kaus yang digantinya sejak acara akad nikah selesai. "Kau tidak bersiap?" tanya Mona melihat Galih mana fokus menatap layar ponselnya. Mata Galih melirik Mona sekilas. "Kau mau mandi bukan? Duluan saja. Jika aku yang selesai duluan ... kau mungkin masih akan malu berganti pakaian di hadapanku." Ia memperhitungkan apabila Mona telah selesai mandi, maka selanjutnya dirinya bisa nelakukannya dan sementara itu Mona bisa berpakaian. Mona terkesiap mendengarnya. "Kau kan bisa keluar dari kamar." "Tidak. Aku merasa sangat lelah sejak tadi pagi bersiap. Jika aku keluar, maka mereka akan mulai mengajakku mengobrol," balas Galih tidak berusaha bersikap ramah, seolah dalam keadaan apapun bahkan kelelahan sekalipun dirinya akan meladeni orang-orang. Mona hanya terdiam. Ia kemudian mulai beranjak menuju kamar mandi yang berada dalam kamarnya. Mengambil baju mandi dan berharap guyuran air bisa menghilangkan rasa pegal dan lelah dalam dirinya. Setelah mendengar pintu kamar mandi tertutup. Galih ikut mematikan ponselnya untuk mengisi baterainya. Ia kemudian mulai mengedarkan pandangannya, memandang kamar Mona secara saksama. Entah hanya pikirannya atau memang indra penciumannya dapat merasakan setiap jejak aroma Mona pada kamar tersebut. Galih kemudian beralih melihat jas tuksedo yabg telah disiapkan oleh ibunya. Tergantung pada pintu lemari Mona. Ia menghela napas pendek, lalu mulai bangkit meraih dan membuka plastiknya. Tanda bahwa pakaian pesta pernikahan dirinya masih lah baru. Namun ketika membukanya, Galih terlalu keras melakukannya, sehingga dasi kupu-kupu yang hanya menempel seadanya di kantung depan tuksedo tersebut menjadi jatuh. Galih berusaha meraih dasi kupu-kupu itu yang berada dekat ranjang. Ia menunduk mencoba mengambilnya, namun sesuatu menarik perhatiannya. Amplop putih yang berada tak jauh dari dasinya itu. Galih melirik sekilas ke arah kamar mandi dan masih mendengar suara keran shower masih dinyalakan, artinya Mona masih mambasuh dirinya. Tangan Galih kemudian ikut meraih amplop bersama dasinya. Perhatian Galih lebih tertuju kepada amplop tersebut. Ia kemudian membukanya dan menemukan sebuah surat di dalamnya. Perlahan matanya menatap isi surat tersebut. Setiap kata demi kata dibacanya dalam hati secara cepat dan membuatnya sadar bahwa inilah mungkin penyebab kenapa Mona seperti habis menangis tadi. Galih meneguk salivanya sambil memejamkan matanya sekilas. Dengan cepat ia memasukkan amplop itu ke dalam saku jas tuksedo yang akan dipakainya nanti. Ia kemudian mendengar pintu kamar mandi telah terbuka. Awalnya Galih ingin langsung masuk ke dalam setelah menggantung kembali jas tuksedonya, tetapi ia terpaku melihat Mona dalam balutan baju mandi. Rambut wanita itu masih basah dan samar ia bisa nelihat wajah Mona merona. "Masuklah. Sebentar lagi penata riasku akan datang," ujar Mona mencoba menghindari kontak mata dengan Galih. Galih menahan napasnya untuk sesaat dan mulai melangkah, namun ketika berada sejajar dengan Mona, kakinya berhenti bergerak. "Aku mandi dengan cepat. Jadi kau harus juga cepat berpakaian jika tidak mau ... aku melihatnya." Galih kemudian menyeringai pelan. "Meski pada akhirnya aku akan tetap melihatnya bukan?" Ucapan ambigu Galih semakin membuat Mona merasa wajahnya memerah. "Tapi tidak akan terjadi malam ini." "Tentu saja. Karena malam ini akan terlalu singkat untuk malam pertama kita." ♡♡♡ Cerita ini lebih relate sama kehidupan sehari-hari. Semoga suka ^^ Komentar ya ♡♡♡
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN