33 | Dua Pria

1925 Kata

Hari masih terlalu gelap untuk Rega memaksakan diri bangun dari tidurnya. Hanya dengan sedikit menyipitkan mata saja ia sudah tau bahwa langit Bali masih hitam pekat, menandakan hari masih jauh dari kata pagi. Tapi satu suara tangisan yang tak asing bagi telinganya begitu mengusik, hingga mau tak mau membuat pria yang masih mengenakan kaos singlet dan celana panjang kain itu untuk duduk tegak bersandar pada sandaran tempat tidur. Mencoba mengumpulkan kesadaran yang belum terkumpul sempurna dari angan mimpinya. “Suara siapa?” gumamnya sendiri sambil mengucek beberapa kali kelopak matanya yang masih berat untuk sekedar membuka. Begitu mengusap wajahnya beberapa kali, Rega memutuskan keluar kamar dan mencari asal suara yang mengusik paginya. Setelah tak menemukan apa yang ia cari, Rega me

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN