Bab 12

1219 Kata
Dokter memberikan obat untuk Isabella. Setelah dokter pergi, Luke datang membawakan makanan untuknya. Isabella tampak duduk bersender di dinding dengan mata terpejam. Ia tidak benar tidur, ia masih bisa mendengar suara langkah kaki mendekat. “Ini makan malam untuk kau, kau pasti lapar.” Isabella hanya diam. Luke meletakkan nampan berisi makanan di lantai dan duduk bersandar di dinding seperti yang Isabella lakukan. Hanya pembatas besi tahanan yang memisahkan mereka. “Jadi kau hamil? Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?” tanya Luke setelah beberapa saat. Perlahan Isabella membuka mata, berkedip pelan membiaskan cahaya masuk ke retina matanya. “Percuma, kau pasti tidak akan menerimanya ‘kan? kau pasti ingin aku menggugurkannya ‘kan?” Isabella berbicara dengan suara lemah, tatapannya kosong. “Aku tidak pernah menyuruh kau untuk menggugurkannya. Aku ingin kau melahirkan anak itu.” Isabella sontak menoleh, menatap Luke dengan alis berkerut. “Bagaimana aku bisa melahirkan anak ini, kalau sebentar lagi aku akan mati di sini.” Isabella membuang wajahnya seraya menggelengkan kepalanya. Dadanya serasa kembali diremas “Aku akan bantu kau untuk keluar dari sini.” Isabella terkejut mendengarnya. “Jangan bermain-main denganku. Aku tahu ini hanya akal-akalan kau saja.” “Sudah aku bilang aku ingin kau melahirkan anak itu. Aku tidak mau kau menggugurkannya.” Isabella terdiam, ia terpaku dengan tatapan mata tajam yang penuh keseriusan itu. “Aku akan pikirkan cara untuk membuat kau keluar dari sini,” sambungnya seraya mengedarkan pandangan sekeliling seolah sedang mengamati tempat. Tiba-tiba seseorang masuk membuat Luke berdiri. “Selamat malam Tuan Luke.” “Malam.” “Saya yang bertugas menjaga tahanan nona Isabella,” pria itu memperkenalkan diri. “Ok. Jaga dia dengan baik. Jangan sampai dia kabur atau kau akan terima akibatnya.” “Baik Tuan.” Luke mengangguk, matanya melirik sekilas ke arah kantong celana si penjaga tahanan, kunci sel tahanan tampak mencuat keluar dari saku celananya. *** Pukul 12 malam, Isabella belum juga terlelap. Perutnya terus berbunyi. Ia menekan perutnya dengan wajah meringis, wajahnya pucat sampai ke bibirnya. Makanan yang Luke bawa sama sekali tak disentuhnya, ia ragu untuk menyantapnya, ia takut bila makanan itu sudah dicampur dengan racun. Ia sudah tidak bisa percaya pada Luke. Isabella mendongakkan kepalanya ketika ada orang datang dan orang itu adalah Luke. Sang penjaga tahanan sontak berdiri, menyapanya. “Malam Tuan, ada yang bisa saya bantu?” “Oh, tidak. Aku hanya ingin memberi kau ini.” Luke ternyata datang membawa kopi untuk penjaga tahanan. “Agar kau semangat berjaga.” “Wah, ini benar untuk saya? Apa tidak merepotkan?” “Tidak. Aku yang mau melakukannya jadi itu tidak merepotkan sama sekali. Silakan diminum.” Pria itu mengangguk, “Terima kasih Tuan,” Sorot mata Luke tak lepas dari penjaga tahanan yang sedang meneguk kopi buatannya itu. Ia sontak mengulas senyum tipis ketika kopi yang diberikannya telah habis. “Sekali lagi terima kasih Tuan, kopinya enak sekali.” Luke hanya mengangguk lalu pandangannya beralih ke Isabella yang masih duduk memejamkan mata sekilas lalu berpindah ke makanan yang dibawanya tadi masih utuh, tak tersentuh. ‘Kenapa dia tidak makan?’ batin Luke. Ada sedikit rasa khawatir yang tercipta di dadanya namun ia segera menangkisnya. “Maaf Tuan, saya kok ngantuk banget ya.” Penjaga tahanan itu duduk di kursinya, matanya terasa berat, hampir menutup sempurna namun ia berusaha untuk membuka matanya seraya menampar-nampar kecil pipinya agar tidak kebablasan tidur. Luke hanya diam memperhatikan sampai akhirnya wajah penjaga tahanan itu membentur meja dan terlelap. Luke bergerak mendekat, melambaikan tangannya ke depan wajah penjaga tahanan. Sekiranya sudah aman, ia pun mengambil kunci sel tahanan dengan mudah. Dengan cepat, ia langsung membuka sel tahanan hingga menimbulkan suara keras yang membuat Isabella membuka matanya. “Cepat berdiri, kita tidak punya banyak waktu.” Isabella langsung berdiri dengan kaki gemetar. Ia tidak percaya, Luke benar membebaskannya. “Kau benar membebaskanku atau kau hanya—“ “Sshh ... Jangan banyak bicara dulu, cepat pakai ini.” Luke melepas jaket hitam dan topi yang ia kenakan, memberikannya pada Isabella. “Kita akan keluar diam-diam, pakai ini agar orang-orang tidak mengenali kau.” Luke juga mengeluarkan masker hitam dari kantong jaketnya. Isabella menurutinya dan langsung melakukan apa yang Luke suruh. Isabella mengedipkan-ngedipkan matanya gugup ketika Luke dengan tiba-tiba membenarkan letak masker yang Isabella kenakan, ia juga memasang tudung jaket yang menutup kepala Isabella. Isabella membasahi bibirnya seraya mengalihkan pandangannya setelahnya. “Apa kau siap?” Isabella mengangguk ragu. “Saat di luar, tetap bersamaku. Jangan bicara atau menatap mata orang lain. Kau mengerti?” Isabella mengangguk. Luke pun meraih pergelangan tangan Isabella, membawanya keluar dari sel tahanan bawah tanah. Mereka berjalan mengendap-endap di sebuah ruangan yang hanya diterangi cahaya remang-remang dari lampu meja di setiap meja. Ruangan utama menuju pintu keluar kelihatan sepi namun saat Luke menggapai gagang pintu keluar, seseorang memanggilnya. “Luke!” Luke berdecih seraya menutup matanya rapat, mau tak mau mereka pun berbalik. Lucas, orang yang memanggilnya berjalan mendekat seraya memicingkan mata. “Kau mau pergi ke mana? Daaann dengan siapa?” Lucas sampai membungkuk dan memiringkan kepalanya untuk melihat orang yang sedang menundukkan kepalanya itu. Luke menghela napas, berusaha tetap tenang. Ia menggeser tubuhnya sedikit ke depan, setengah menutupi Isabella yang terbungkus jaket hitamnya. “Ini bukan urusan kau.” “Oohhh aku tahu.” Suara besar Lucas mengagetkan Luke. d**a Luke berdebar, takut ketahuan adiknya. “Kau pasti ingin pergi ke motel dengan seorang pelayan ‘kan? Kau tidak mau jujur karena kau malu aku memergoki kau ‘kan?” Lucas menaik-turunkan alisnya, berniat menggoda. Sudut bibir Luke bergerak sedikit, hanya sedikit. Ia tidak menyangka bila kalimat itu yang akan keluar dari mulut adiknya. “Kau memang cerdas.” Lucas menyunggingkan senyum lebar seraya memasang pose cool. Ia menepuk-nepuk pundak Luke. “Pergilah bersenang-senang bro, kau sudah bekerja sangat keras membawa anak Lancaster ke sini. Kau perlu dapat reward.” Luke hanya mendengus kemudian melanjutkan langkahnya keluar dari rumah. Tak disangka Lucas begitu mudah dikelabui. Mereka sekarang sudah berada di dalam mobil Isabella. Isabella membuka maskernya. “Kau mau bawa aku ke mana?” “Aku akan membawa kau jauh dari sini dulu,” jawab Luke tanpa menatap Isabella karena ia sedang sibuk mengoperasikan mesin mobil hingga bergerak meninggalkan pekarangan rumah mewah milik keluarga Alonzo. Di perjalanan, mereka hanya diam. Isabella tampak bersandar sambil memegangi perutnya yang keroncongan. Luke melirik Isabella sekilas ketika perut Isabella berbunyi. “Kenapa kau tidak makan makanan yang aku bawa?” “Aku takut kau meracuniku,” jawab Isabella frontal. Luke mendengus seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kalau aku ingin membunuh kau, aku tinggal menarik pelatuk dan mengarahkannya ke kepala kau dan saat itu juga kau akan mati. Mengapa harus repot menggunakan racun.” "Mungkin kau ingin lihat aku tersiksa sebelum mati." Luke hanya diam. Tak lama kemudian Luke berhenti di sebuah halte yang berjarak sekitar 20 km dari rumah keluarganya. “Aku hanya bisa mengantar kau sampai sini.” Luke lalu melepaskan seatbeltnya dan hendak keluar dari mobil namun Isabella menahan tangannya membuat Luke menoleh. “Pertolongan kau ini tidak akan membuat tujuanku goyah. Suatu saat nanti aku pasti akan membunuh kau.” Luke menatap iris amber yang menawan itu lama sebelum menyunggingkan senyum miring. “Kalau begitu makan lah yang banyak agar kau punya tenaga untuk membunuhku. Kau harus membunuhku dengan tangan kau sendiri,” balas Luke santai lalu keluar dari mobil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN