Bab 14

1091 Kata
Mereka sekarang sudah berada di ruang utama. Alex sudah mendengar semuanya. Isabella tampak duduk di sofa menunduk dalam, sementara Alex berdiri dengan wajah dingin dan sorot mata tajam yang mengarah lurus ke depan. “Ayah sangat kecewa dengan kau Isabella,” Alex menggeleng-gelengkan kepalanya, suaranya parau menahan tangis, memendam rasa kecewa teramat dalam pada putri satu-satunya itu. Isabella masih terisak, merasa menyesal bahkan takut untuk menatap mata sang Ayah. “Ayah sudah gagal mendidik kau. Ayah nggak bisa menepati janji Ayah ke Ibu untuk menjaga kau dengan baik.” Mata Alex berkaca-kaca, mengingat mendiang istrinya yang berpesan untuk menjaga Isabella dengan baik sebelum kepergiannya untuk selamanya. “Maafkan aku Ayah, aku sangat menyesal. Tolong jangan salahkan diri Ayah sendiri. Semua ini salahku.” Isabella masih menunduk dalam. Setetes kristal bening menetes di pipinya namun Alex segera menghapusnya dan mengambil napas dalam. Ia kemudian menoleh. “Ayah ingin kau menggugurkan kandungan kau.” Isabella mendongak, menggeleng dengan cepat. “Tidak Ayah, aku tidak mau mengugurkan kandunganku. Anak dalam kandunganku ini tidak bersalah, tidak seharusnya kita hukum dia.” “Tapi anak itu bukan anak yang dikehendaki. Itu anak dari putra Alonzo, musuh Ayah! Kalian tidak akan mungkin bersatu! ingat itu!” bentak Alex, urat-urat di lehernya muncul, wajahnya memerah. Isabella seketika bersimpuh di depan ayahnya, memeluk kaki ayahnya. “Aku tahu Ayah. A-aku ... aku akan melahirkan dan merawat anak dalam kandunganku ini sendiri. Aku akan membesarkannya dengan baik tapi tolong jangan suruh aku menggugurkannya.” Alex tak bergeming, ia mengambil napas dalam lalu mengeluarkannya kasar. “Kau tidak akan aman selama kau masih mengandung anak dari putra Alonzo, apalagi jika Bill sampai tahu.” Isabella masih memeluk kaki ayahnya, tubuhnya gemetar. Air matanya membasahi celana panjang hitam yang dikenakan Alex. Namun pria itu tetap berdiri kaku, matanya menatap nanar ke langit-langit seolah menahan sesak di dadanya. “Ayah .…” isak Isabella. “Aku mohon … aku tidak punya siapa-siapa lagi selain Ayah. Jangan paksa aku melakukan itu.” Alex menunduk, menatap anak perempuannya dengan mata yang mulai berair. Rahangnya mengeras. “Isabella, kau tidak mengerti betapa berbahayanya ini. Alonzo tidak akan tinggal diam. Kau akan terus diburu. Bahkan anak kau, mungkin akan menjadi sasaran di kemudian hari. Apa kau ingin anak kau lahir hanya untuk dibunuh?” Isabella menggeleng kuat, suaranya tercekat. “Tidak, justru itu alasannya kenapa aku harus melindungi dia. Aku akan pergi jauh, Ayah. Aku ... Aku akan menghilang kalau perlu. Aku tidak mau menjadi pembunuh anakku sendiri.” Alex mengusap wajahnya, seolah menyingkirkan segala rasa lelah dan putus asa, ia pun bersimpuh, merengkuh tubuh putri kesayangannya itu. “Kalau kau tetap keras kepala, Ayah hanya bisa membantu kau untuk mengasingkan diri dari Italia untuk sementara waktu, sampai kau melahirkan anak itu.” *** Sementara itu di kediaman Alonzo. Dor! Bill menembak penjaga tahanan yang bertugas menjaga Isabella tepat di kepala hingga membuatnya meregang nyawa seketika setelah ia mengetahui Isabella berhasil melarikan diri. “Urus mayatnya dan sterilkan tempat ini,” ujar Bill pada kaki tangannya yang berdiri di belakangnya. “Baik Don.” Bill keluar dari ruang tahanan bawah tanah dengan tangan terkepal dan wajah memerah, alisnya menukik tajam menahan amarah. Di ruang utama Luke dan Lucas sudah berkumpul di sana. Bill melangkah cepat ke ruang utama. Suara sepatunya menghentak lantai marmer, menunjukkan amarah yang sedang membara di dadanya. Begitu memasuki ruangan, pandangannya langsung terkunci pada Luke dan Lucas yang berdiri menunggu, wajah mereka sama-sama tegang. “Apa kalian tahu apa yang baru saja terjadi?” suara Bill dalam dan mencekam. Luke hanya menatap ayahnya tanpa berkedip, rahangnya mengeras. “Aku sudah dengar, Ayah. Isabella melarikan diri.” Bill menghantam meja di depannya dengan kepalan tangan, membuat vas kristal di atasnya terguncang, nyaris jatuh. “Penjaga tahanan sialan! Aku yakin keluarga Lancaster tidak akan tinggal diam begitu saja setelah anak perempuannya kembali?!” Luke mengalihkan wajahnya acuh, seolah dia tidak terlibat dalam proses melarikan diri Isabella. Ia bahkan tidak merasa bersalah telah membuat satu nyawa yang tak bersalah pergi. “Dan kau Luke, habis sudah penyamaran kau kali ini. Kau pasti akan ikut diburu oleh mereka.” Bill menunjuk Luke namun Luke tidak menunjukkan wajah takut. “Apa tidak lebih baik jika Luke pergi mengasingkan diri dari sini? Kalau dia tetap di sini, sangat berbahaya baginya sedangkan dia belum terbiasa dengan lingkungan mafia.” Lucas ikut menimpali. Bill menatap Lucas yang berbicara fakta. “Kau benar Lucas. Kita harus mengasingkan Luke dari sini.” Luke menatap keduanya dalam diam. Apapun rencana ayahnya, ia akan lakukan selama itu tidak menyakiti Isabella dan calon anaknya. Setelah pembicaraan panjang keluarga, Luke pergi ke kamarnya untuk mengemas barang-barangnya. Ia akan pergi ke California untuk mengasingkan diri sementara waktu, setidaknya sampai keadaan lebih baik namun tiba-tiba sebuah memori terlintas di pikirannya, saat Isabella mengatakan bila dirinya tengah mengandung. Hati dan pikiran Luke benar-benar terbuka setelah mendengarnya. Ia bertekad untuk melindungi anak dalam kandungan Isabella bagaimanapun caranya sampai ia kepikiran nasib Isabella ke depannya, sang ibu yang mengandung anaknya. ‘Bagaimana bisa aku melindunginya? kalau dia sendiri membenciku?’ pikirnya. Ia teringat bagaimana Isabella menatapnya dengan mata penuh benci terakhir kali mereka bicara. Isabella bahkan bersumpah akan membunuh Luke suatu hari nanti. Sementara itu tak jauh berbeda dengan Luke, Isabella di kamarnya tengah mengemas pakaiannya. Ia akan berangkat ke California sore ini, diantar dengan Anton. Ia meletakkan jaket dan topi milik Luke yang sempat ia kenakan di atas kasur, menatapnya lama. “Aku sangat membenci kau. Aku bersumpah akan membunuh kau dan tak membiarkan kau menyentuh anak darah daging kau sendiri,” ujarnya bengis. Isabella menghapus air mata yang tak terasa mengalir di pipinya. Tangannya gemetar saat meraih koper dan menarik resletingnya. Namun sebelum ia sempat memasukkan pakaian, ponselnya bergetar di atas meja. ‘Luke’ nama kontak yang tertera di layar ponselnya. Ia menatap ponsel itu namun membiarkannya tetap menyala, enggan untuk menjawabnya. Panggilan demi panggilan terus masuk hingga membuat Isabella kesal. Akhirnya dengan terpaksa ia menjawab panggilan tersebut. “Apa lagi yang kau inginkan? stop menghubungiku.” Suara Isabella terdengar muak. “Apa kau sudah sampai di rumah? bagaimana keadaan kau?” sedangkan suara Luke terdengar tenang. “Tidak usah berpura-pura perhatian padaku. Katakan apa lagi yang kau inginkan?!” “Aku tidak menginginkan apapun. Aku hanya ingin tahu keadaan kau. Mungkin setelah ini, kau tidak lagi aman maka dari itu—“ “Kau tak perlu menasehatiku. Sudah dari awal hidupku tidak aman dan semakin tidak aman setelah kedatangan kau ke hidupku, jadi menjauhlah dari kehidupanku mulai sekarang.” Isabella memutuskan sambungan sepihak lalu memblokir nomor Luke seraya menghela napas kasar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN