Bab 17

1081 Kata
"Oma," Luke memeluk seorang wanita tua berambut putih dan berkacamata yang menjemputnya saat ia tiba di bandara, California. Seorang wanita muda cantik berambut sebahu pirang yang datang bersama neneknya Luke ikut menyunggingkan senyum. "Oma rindu sekali dengan kau, Luke. Bagaimana kabar kau?" wanita itu bertanya sambil mengusap bahu lebar cucu kesayangannya. "Aku sehat, Oma. Bagaimana dengan Oma?" "Oma senang sekali mendengarnya, Oma juga sehat." "Kau tidak tanya aku? Apa kau tidak menyadari kehadiranku?" wanita cantik yang memiliki freckles di pipinya itu akhirnya mengeluarkan suara. Bibirnya mengerucut sambil memasang ekspresi kesal seolah kesal karena diabaikan. Luke terkekeh. "Sorry, jangan marah. Bagaimana kabar kau, Nicole?" "Aku baik dan aku sangat rindu pada kau." Wajah Nicole seketika berubah menjadi ceria. Ia merentangkan kedua tangannya lebar, memeluk Luke erat. Clara, neneknya Luke tersenyum melihatnya. Nicole adalah teman kuliah Luke saat Luke masih kuliah di California, mereka cukup dekat bahkan Nicole sudah kenal dekat dengan Clara karena dulu sering main ke rumah. "Ya udah yuk, ngobrol sambil jalan aja," celetuk Clara. Nicole membawa mobil. Ia sengaja membawa mobil untuk menjemput Luke di bandara. Ia bahkan mengosongkan jadwalnya jauh-jauh hari agar ia bisa menjemput Luke hari ini. "Bagaimana kabar papa kau?" tanya Clara saat di perjalanan. Luke melirik ke spion atas sekilas ketika Omanya yang duduk di belakang berbicara. "Papa juga sehat, Oma." "Katakan pada papa kau, bisnis tetaplah bisnis tapi jangan lupa istirahat dan jaga kesehatan. Orangtua rentan kena penyakit." Luke menyunggingkan senyum kecil. "Oma tidak perlu khawatir. Papa tahu limit tubuhnya." "Dia pasti tidak mau dikasih tahu 'kan? dasar keras kepala." Clara merasa kesal setiap mengingat sikap menantunya yang keras kepala. Luke hanya diam, menyunggingkan senyum tipis. "Hm, Luke. Apa kau sudah makan siang?" tanya Nicole setelah hening beberapa saat, ia melirik orang yang duduk di sebelahnya dengan ekor matanya. "Belum." Nicole melirik jam di pergelangan tangannya yang telah menunjukkan pukul 11 siang. "Apa kita mampir ke restoran dulu sebelum pulang?" Nicole melirik kaca spion atas, berinteraksi dengan Clara lewat kaca spion atas mobil. "Boleh. Oma juga lapar." "Okay." Mereka pergi ke sebuah restoran mewah di California. "Apa kau ingat restoran ini, Luke?" Luke mengangkat kepalanya, matanya berkeliling memperhatikan desain interior restoran yang tampak elegan dan berkelas itu. "Tentu saja aku ingat, kita sering makan di sini dulu." Nicole tersenyum, Luke masih mengingatnya. Luke menggandeng lengan Clara menuntunnya masuk ke dalam restoran, Nicole mengikutinya di belakang. Pencahayaan hangat, agak temaram menyambut mereka di dalam. Ruangan didominasi warna netral yang materialnya sudah pasti berkualitas, terlihat lampu gantung kristal dan lukisan modern yang tergantung di dinding. Dekorasinya minimalis tapi artistik, memanjakan mata dan pikiran pengunjung. Mereka memilih meja yang kosong di pojok. Suasana begitu ramai, hanya ada beberapa meja yang kosong. "Selamat datang, mau pesan apa?" Pelayan tersebut datang menyapa dengan ramah sembari memberikan buku menu. Pelayan tampak mengenakan seragam putih hitam yang rapi dan wangi. Ia juga memberikan free minuman segar untuk pengunjung yang datang sebelum pesanan datang. "Aku pesan 3 BBQ grilled steak, 3 macaroni and cheese, 2 iced tea, 1 lemonade and 2 mashed potato." "Baik. Saya ulangi ya 3 BBQ grilled steak, 3 macaroni and cheese, 2 iced tea, 1 lemonade and 2 mashed potato." "Ya," ucap Luke seraya menutup buku menu lalu memberikannya kembali pada pelayan. "Baik, terima kasih. Mohon ditunggu." "Bagaimana kehidupan di sana? Apa di sana banyak makanan enak juga?" Nicole penasaran dengan kehidupan Luke di Italia. Luke baru meninggalkan California 4 bulan yang lalu, belum terlalu lama namun Nicole merasa Luke sudah lama pergi meninggalkannya. Setiap hari, ia merindukannya, rindu itu sangat menyiksanya. Nicole bertanya dengan bertopang dagu, menatap orang di hadapannya lekat. "Tidak jauh berbeda dengan di sini, makanannya pun enak. Aku tak perlu menyebutkannya satu persatu 'kan? kau pasti tahu apa saja makanan yang terkenal di sana." "Ya, aku tahu. Jadi kau sudah nyaman di sana?" "Aku masih harus beradaptasi dengan bahasa yang mereka gunakan. Mereka dominan berbicara dengan bahasa ibu walaupun ada juga yang berbicara dengan bahasa inggris atau Perancis." Nicole mengangguk paham. "Papa kau tidak memberikan tugas berat untuk kau 'kan?" Clara ikut bergabung dalam pembicaraan. "Aku sudah bilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Oma. Sebaiknya Oma mengunjungi Papa sekali-kali di sana." "Syukurlah. Oma cuma takut bila dia terlalu tegas dan kasar pada kau." Clara berdiri. "Oma ke toilet dulu." "Oma, mau aku antar?" Nicole menawarkan diri, ia hampir berdiri. "Tidak perlu. Oma masih bisa berjalan dengan baik," jawabnya lembut dan penuh senyuman. "Hati-hati Oma," timpal Luke. "Bagaimana keseharian Oma? Apa dia minum obat dengan baik?" tanya Luke pada Nicole. Clara memiliki riwayat penyakit diabetes dan asma, ia harus rutin check up dan mengkonsumsi obat-obatan untuk perawatannya. "Kau tenang saja, aku sering datang ke rumah. Aku merawatnya dengan baik. Aku 'kan sudah janji pada kau." "Terima kasih ya, aku bersyukur punya kau." Mereka berpandangan dan saling melempar senyum. Tak lama kemudian Nicole memutus kontak lebih dulu seolah tidak tahan menatap iris hazel itu lebih lama. "Hm, btw apa di sana kau bertemu dengan seorang perempuan yang lebih cantik dariku?" Luke terkekeh. "Mengapa kau bertanya seperti itu? Di dunia ini tentu banyak wanita cantik." "Ya, aku tahu. Tapi ... Jangan sampai kau tergoda ya," Luke memiringkan kepala, dahinya berkerut. "Kenapa?" "Ya ... Karena aku ...." Nicole tiba-tiba gugup, ia menunduk, meremas ujung blousenya sembari mengigit bibirnya namun sayangnya pelayan tiba-tiba datang membawa pesanan mereka bersamaan dengan Clara yang datang dari arah berlawanan. Nicole pun mengurungkan kalimat yang ingin ia lontarkan. "Makanan sudah datang. Kalau begitu ayo kita makan," ujar Nicole setelah pelayan itu pergi. Luke mencuri pandang ke Nicole sesekali. Ia merasa Nicole menyembunyikan sesuatu padanya namun ia berusaha untuk tak ambil pusing. Di tengah makan, pandangan Luke tiba-tiba terhenti. Matanya tak sengaja menatap ke arah pintu masuk restoran, dan jantungnya serasa berhenti berdetak ketika sosok seorang perempuan melangkah masuk, membelah keramaian ruangan. "Bella," bibirnya tanpa sadar berucap pelan. "Apa?!" Nicole tetap mendengarnya samar. "Oh, tidak. Bukan apa-apa." Luke memaksakan senyum yang terlihat kaku. Nicole memicingkan mata penuh selidik, nalurinya menangkap gelagat aneh yang mencuat dari pria di hadapannya. Mata Luke sesekali mencuri pandang pada Isabella, orang yang baru saja masuk restoran, mengikuti setiap langkah Isabella. 'Jadi dia pergi ke California. Mengapa ini begitu kebetulan?' "Hm, aku mau ke toilet sebentar ya," ucap Luke seraya berdiri, tanpa menunggu respon, ia melesat pergi, langkahnya cepat dan gelisah seolah sedang mengejar seseorang yang diburu. Luke mengejar Isabella sampai ke lorong yang mengarah ke toilet lalu menggapai pergelangan tangannya. "Isabella," Isabella cukup familiar dengan suara itu lantas ia berbalik. Matanya membola setelah mengetahui orang yang menggenggam pergelangan tangannya. "Luke."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN