Bab 19

1281 Kata
Pagi ini Lucas dan rombongan telah kembali ke rumah. Mereka tetap kembali berempat namun dengan satu anggota yang berbeda. Louis telah gugur. Rocco, orang yang dibicarakan Carlo sebelumnya berada di antara mereka, ikut sampai ke basecamp Alonzo. Di ambang pintu rumah, Bill Alonzo sudah menanti. Wajahnya dingin, Ia menatap rombongan itu dengan tatapan tajam, matanya bergerak seolah mencari sesuatu. “Louis mana?” tanyanya, suaranya pelan tapi mencekam. Lucas hanya diam. Carlo yang maju menjawab. “Dia gugur saat di pelabuhan, Don.” Bill mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. “Kubilang hati-hati. Kenapa bisa jatuh korban?!” bentaknya tiba-tiba. "Kami tidak menyadari bila ada lawan di pelabuhan saat itu, Pa," jawab Lucas. Bill melirik Lucas tajam membuat Lucas ciut seketika. "Setelah ini, kau ikut ke ruanganku." "Baik, Pa." Rocco menunduk semakin dalam. Carlo mencoba menenangkan situasi. “Kami kehilangan Louis. Tapi kami berhasil mengamankan informasi yang kau mau, Don.” ia melirik ke arah Rocco. Bill memandang Rocco, matanya menyipit selidik. “Jadi ini orangnya?” Bill mengangkat sebelah alisnya. Carlo kembali bicara. “Dia Rocco, orang yang aku maksud. Dia akan bergabung dengan kita.” Bill mengamati Rocco dari ujung kepala hingga kaki. “Aku tidak peduli siapapun orangnya. Namun bila kau memutuskan untuk bergabung, kau harus mengikuti semua peraturan di sini. Jika kau berkhianat, kau pasti tahu betul risikonya 'kan?” Rocco mengangguk patuh. “Saya mengerti, Don.” Bill menghela napas berat, seolah menyingkirkan kemarahan yang membara. “Bawa dia ke ruang samping. Ajari dia cara kerja kita di sini. Setelah itu, kalian semua masuk ke ruang rapat. Kita susun ulang rencana.” Lucas dan Carlo bertukar pandang. Rocco ditarik oleh salah seorang anak buah ke dalam rumah, wajahnya menegang namun tak melawan. Lucas pun mengikuti Bill ke ruangan Papanya, sesuai permintaan Papanya tadi. "Siapa yang telah membunuh Louis?" tanya Bill sesaat mereka sampai di ruangan pribadinya. Lucas menatap langsung ke mata papanya kemudian membasahi bibirnya gugup. "Dia melakukannya saat kami lengah. Aku memang tidak melihatnya langsung tapi aku yakin itu adalah orang dari Lancaster." "Kau yakin?" "Ya, Louis terbunuh setelah kami menghabisi nyawa salah satu anak buahnya. Sudah pasti Lancaster tidak terima dan mereka membalasnya." Bill sontak melipat tangan di depan d**a, mengusap dagunya seraya memicingkan mata. "Jadi dia ingin memulai perang kembali rupanya." Setelah kematian istrinya, mereka sempat perang besar hingga menewaskan beberapa anak buah masing-masing namun berhenti sesaat setelah kedua pihak sepakat melakukan gencatan senjata demi stabilitas wilayah dan bisnis mereka. Bill berdiri, berjalan pelan ke belakang kursi kerjanya, menatap keluar jendela dengan pandangan nanar. Cuaca hari ini kelihatan cerah dan berangin namun tidak seperti suasana hatinya yang terasa panas dan gelap. “Padahal aku sudah memberi peringatan pada Lancaster. Tapi nampaknya dia tidak memperdulikannya. Jika dia ingin memulai lagi, aku takkan segan menumpasnya sampai ke akar,” gumam Bill, suaranya berat menahan amarah. “Apa kau ingin aku mengatur orang-orang untuk menyerangnya segera, Pa?” tanya Lucas pelan. Bill menoleh cepat. “Belum. Kita tidak bisa gegabah. Kita harus pantau dulu pergerakan Lancaster selanjutnya.” “Tapi, Pa—” Bill mengangkat tangan, memotong ucapan Lucas. “Aku tak mau mengulang kesalahan dulu. Saat itu aku terbakar dendam, menyerang membabi buta sampai akhirnya banyak orang kita yang tewas sia-sia.” Lucas menghela napas, menunduk. Ada bara dendam di matanya. Tangannya mengepal kuat “Jadi, apa langkah kita selanjutnya?” Bill berbalik, menatap putranya lekat-lekat. “Kita akan bahas di rapat nanti." Bill kembali duduk. "Dan sekarang, aku ingin membicarakan tentang perusahaan pada kau. Duduk lah!" Perintah Bill pada Lucas yang masih berdiri. Selain mengoperasikan bisnis ilegal yang tersembunyi, keluarga Alonzo juga memiliki bisnis legal untuk pemutaran uangnya, salah satunya perusahaan yang bergerak di bidang properti. "Sebelumnya aku sudah berencana untuk menempatkan Luke sebagai CEO di Alonzo corp setelah dia kembali dari California namun nampaknya akan sulit untuknya sekarang mengemban posisi itu." Lucas menyimak dengan baik. "Jadi, selama Luke di California, aku ingin kau mengawasi perusahaan." "Apa?! Aku??" Lucas kaget sambil menunjuk dirinya sendiri. Bill mengangguk. "Tapi, aku tidak mengerti dengan bisnis properti, Pa. Aku 'kan sudah pernah bilang kalau aku tidak mau ditempatkan di perusahaan." "Aku tahu, ini juga hanya sebentar Lucas. Sudah saatnya kau belajar bisnis properti agar kau bisa menggantikanku suatu saat nanti, mengurus semua bisnis keluarga Alonzo bersama Luke." Lucas menghela napas, melirik ke arah lain dengan sorot mata sinis seraya mengacak rambutnya yang ikal seperti orang frustasi. "Jangan hanya mengandalkan abang kau. Kau juga harus serba bisa. Apa kau tidak lihat Luke? dia belajar bisnis di California namun dia juga pandai berkelahi dan menembak. Itu semua karena apa? karena dia gigih dan mau belajar," tutur Bill. Lucas diam seribu bahasa, menunduk. "Apa kau mengerti?" Bill menatap Lucas lekat-lekat." Lucas menatap mata papanya yang tegas dan serius cukup lama sebelum akhirnya mengangguk. "Ok. Kau boleh keluar sekarang. Beritahu yang lain untuk segera berkumpul di ruang rapat sekarang. Sebentar lagi papa akan menyusul ke sana," ujar Bill tanpa melihat Lucas karena ia sibuk menyusun map yang berserakan di atas meja. "Baik, Pa." *** Ting! "Biar aku saja yang membuka pintu." Luke mencegah neneknya yang hendak berdiri dari duduknya. Clara menyunggingkan senyum, kembali duduk tenang sambil merajut sebuah selimut. Ceklek! "Nicole," Luke mengernyitkan dahinya ketika Nicole sudah berada di depan rumah neneknya saja hari ini. "Surprise! hai~ Aku datang lagi hari ini." Nicole menyapa dengan ceria, senyum cerah seperti matahari pagi tercetak jelas di wajahnya. Outfitnya yang serba kuning itu juga mendukung penampilan manis dan cerianya. "Aku membawakan kamu dan Oma kue. Aku membuatnya sendiri loh." Belum disuruh masuk, namun Nicole sudah menerobos masuk serasa pemilik rumah. "Oma, aku datang. Oma lagi ngapain?" Ia mengambil duduk di sebelah Clara, mencium tangan wanita tua itu sopan. Luke menutup pintu kembali, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkahnya teman satunya itu. Ia kembali duduk di tempat awal, sofa single size. "Nicole, kau ke sini lagi. Apa kau meninggalkan pekerjaan kau lagi?" tanya Clara. "Tidak, Oma. Aku ada jadwal nanti sore. Aku hanya mampir sebentar untuk mengantar ini." Nicole mengangkat bungkusan yang ia bawa. "Kau bawa apa?" Clara menyingkirkan kerjaan tangannya dan memilih fokus pada tamu yang datang. "Aku bawa brownies spesial buatanku. Ta-da~" "Wah, kelihatannya enak." Mata Clara berbinar ketika melihat brownies yang Nicole bawa. "Ini spesial buat Oma atau buat Luke?" Clara sengaja menggoda, ia melirik Luke seraya menyunggingkan senyum menggoda seolah tahu tentang perasaan Nicole pada Luke. Luke memasang tampang bingung namun Nicole kelihatan menarik sudut bibirnya ragu-ragu, pipinya bersemu. "Ini spesial buat Oma dan Luke dong." "Ohh kirain buat Luke doang." Clara terkekeh, Nicole hanya tersenyum malu. "Sebentar ya, aku ambil piring dulu." Luke izin ke belakang. Nicole melirik punggung lebar Luke yang semakin menjauh lalu ia menyentuh tangan Clara. "Oma, aku ke belakang sebentar ya." Clara mengangguk. Nicole berlari kecil menuju dapur. Ia mendapati Luke sedang membuka lemari untuk mengambil piring. Lelaki itu tampak serius, alisnya sedikit berkerut. “Ada yang perlu dibantu, Mas?” goda Nicole sambil menyandarkan diri pada dinding. Luke menoleh, sedikit terkejut, "Nicole, kenapa kau menyusul kemari?” "Aku mau bantu, biar cepat.” Nicole melangkah mendekat, lalu menepuk ringan bahu Luke. “Sini, biar aku aja yang ambil.” Luke tak bergerak menjauh, menahan pintu lemari terbuka. “Biar aku saja. Kau duduk saja. Kau 'kan tamu.” Nicole mendengus manja. “Aku ini bukan tamu, kayak sama siapa aja." "Baiklah kalau kau memaksa." Luke mundur beberapa langkah. Ia tampak menyunggingkan senyumnya ketika Nicole mengurus semuanya. "Kenapa kamu senyum-senyum?" Sudut bibirnya seketika turun ketika tertangkap basah, kemudian menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Hm, tidak. Memangnya aku senyum tadi?" berusaha mengelak. Nicole terkekeh seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau ini lucu sekali, Luke." kata Nicole lalu kembali ke depan seraya membawa piring dan garpu. Sementara Luke mengangkat sudut bibirnya sedikit lalu mengikuti Nicole.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN