… Dia klepek-klepek dan akhirnya bekerja sama lah dengan si sialan Kenneth?
Astaga, licik sekali.
Iris pun membusungkan d**a. Sekarang nyali Iris sudah setinggi gedung di Dubai. Mencakar langit. "Ya, nggak bisa!" Iris kini bahkan mengomel padanya. "Aku nggak pernah punya tanggung jawab buat bikin kamu senang! Membalas dendammu pun juga bukan urusanku!"
"Tapi, kamu sudah kubeli!"
Iris menegaskan, "Sudah dibeli dan dipaksa jadi calon!" ralat Iris keras-keras. "Lain kali, ya, Mas, kalau mau mengeja orang pake title itu yang bener! Jangan begini! Malu-maluin!"
Dia mengernyih. Ada hal yang sepertinya membuatnya sangat marah sepertinya. "Temanmu itu ..." katanya, menggamnung. Tangannya kini diletakkan menyilang tepat depan d**a. "Harvey atau siapa lah yang wajahnya sepaket karena kembar..."
Langsung, mata Iris bangun 900 watt. "Gwen dan Harvey?"
Pikiran Iris pun melayang.
Mereka? Ada apa dengannya?
Kalau mereka mengatakan ingin menguasaiku dan membawaku ke banyak tempat seru serba banyak cowok seperti waktu itu fix, mereka harus diruqyah dan dibawa ke penangkaran buaya juga kelinci.
Mereka yang suka terkoneksi suka error itu harus dicabik sesamanya karena gunanya hikin orang marah dan sesat seluruh umat manusia!
"Jawab!" Iris pun mendesaknya. "Apa yang mereka mau lakukan?"
Dia menaikkan alis. Menatap Iris bingung yang sebenarnya bisa kuterjemahkan. "Kamu begini ... apa karena mereka adalah orang yang penting bagimu?"
"Oh, cmon. Sama sahabatku pun kamu mau kekang aku? Astaga … Kamu kenapa, sih?!" Iris mengentaknya. Tangan gadis itu berkacak pinggang. "Sumpah, ya, kamu sangat meguras emosiku!"
"Heh! Akulah yang seharusnya memgatakan itu, bodoh!"
"Berani mengatakan aku bodoh? Sini kepalamu! Sini!"
Iris pun beranjak, mau maju. Kepalanya sudah siap aku goreng dan akan kucincang sampai aku puas.
Tapi ... kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya?
Iris Livansha justru ngefreeze karena ternyata tubuh miliknya tak memiliki keseimbangan bagus. Kini ... Iris sendiri duduk di atasnya. Dengan posisi dirinya terlentang di kursi taman halaman belakang tapi Iris berada dalam posisi menindihnya.
“Ya ampun!” kejutnya.
***
Maksudnya, tapi satu yang Iris pahami, pria ini meski memang menyukai dirinya.
Meski entah karena apa, mending ia kacang ijo kan. Dia nggak mau banget kali terjebak lebih dalam hanya karena merasa intens dari awal dengan insiden … dijual?
Gila! Itu ngawur sekali!
“Enggak akan pernah terjadi,” klaim Iris penuh semangat 45 sebagai tekad.
"Tolong, ya, Iris Livansha, saya minta tolong dengan sangat. Tolong jaga barang milik perusahaan sekecil apa pun itu. Jangan pernah meremehkan pekerjaan sekecil apa pun itu. Bahkan sekecil menjaga dokumen penting milikmu sendiri. Ingat, anak akuntasi, pasti lebih teliti, itu mutlaknya"
Iris Livansha pun terperangah. la dipanggil sesore ini hanya untuk mendengar lagi ceramah tentang dokumen yang bahkan cadangannya sudah ada di google drive bahkan ada lima lampiran buat jaga-jaga? Astaga ... ia hanya tak sengaja lupa membawa dokumennya, bukan berlian!
Namun keterkejutan Iris Livansha bertambah, saat tangah Nathan Sanjaya mengulurkan barang yang seharian ini menjadi sumber masalah harinya.
"Kok. kok ... bisa?" Iris mengerjap menatap Nathan Sanjaya—sang investor langganan setan Kenneth, tak percaya.
“Tidak usah banyak tanya! Cepat ambil dan ucapkan terima kasih pada Nathan!" perintah Kenneth dari pean ponsel yang rupanya tengah mengawasinya dari jauh, di lift lebih tepatnya dengan gaya bikin Iris makin emosi, padahal Iris sendiri masih dilanda penasaran.
Nathan Sanjaya, yang tersenyum bak pahlawan kesiangan sore ini, menatap Iris lembut yang memang punya wajah menenangkan seraya menahan senyum bak pelangi itu begitu melihat raut wajah lugu kekasih nista yang dibayar sang temannya itu, Kenneth, itu.
Namun senyum dan tawa yang ia tahan, seketika lenyap berganti kebingungan dan prasangka buruk saat dua tangan Iris terulur untuk menerima dokumen penting milik gadis itu.
***
Yang kemudian, berlanjut lah pembicaraan dua cowok penting itu, di ruangan berbeda, tadi memang kebetulan ada janji temu dengan pemilik perusahaan tempat Iris bekerja.
"Nath," panggil Kenneth Eldo Veransyah tanpa melepas tatapannya pada salah satu tangan Nathan. Yang sibuk dengan banyaknya data riset padahal itu kerjaan bawahan. "Gue penasaran, kenapa lo begitu perduli sama tanggung jawab mereka, heh?”
Beberapa pengunjung kafe yang sedikitnya tahu siapa dua orang penting itu, jadi ikutan menunggu kalimat seorang Nathan Sanjaya yang tertahan.
Agaknya mereka tak paham, mengapa dari dokumen penting milik Iris yang memang ceroboh dan itu bukan karakter yang bagus, justru Kenneth mendadak menanyakan privasi pemikiran sang Tuan Muda Nathan Sanjaya?
“Apa?” tanya balik Kenneth penasaran. Untuk kedua kalinya.
Dia pun perlahan mengikuti ke mana bola mata Nathan terpaku memandang. Pergelangan tangan kirinya. Gugup, Nathan pun buru-buru kena clongan merebut kartu employee card yang ternyata milik Iris Livansha. Namun di tangan Kenneth, ia, menggenggam kartu itu kuat dan menahan agar sang sohibnya itu tak segera mendapatkan miliknya.
Nathan Sanjaya pun menatap Kenneth Eldo Veransyah. "Sampai salah satu dari mereka bisa turun dari rooftop hotel bintang lima semalam dan memiliki jam tangan seharga dua ratus juta, makanya, gue sangat perduli. Nanti mereka kaya, nama gue diagungin."
“Wuhh, matrelialistis.” Dia mengangguk-angguk. Ya, siapa lagi kalau bukan Tuan Kenneth Eldo Veransyah?
Pandangan Kenneth kini mengarah pada Iris Livansha yang mendadak di matanya kelihatan pucat di foto resmi itu. "Kecuali … jika mereka memiliki sampingan setelah jam kerja dan merampas benda yang bukan miliknya, bukan kah begitu? Penyelesaiannya?"
Nathan senyum, dia minum americanonya sekarang.
Namun, di sana, Iris yang melihat mereka juga jadi ikutan mendadak gemetar. Otak cerdasnya menangkap kemungkinan di mana saat Tuan Nathan Sanjaya menemukan dokumen penting miliknya.
Jangan sampai orang-orang di sini tahu apa yang ia lakukan untuk mencari tahu siapa yang korupsi di perusahaan ini setiap malam. Yang sebenarnya, memang ia catat secara acak di dalam dokumen tersebut, makanya, datanya sendiri, memang terkesan cukup banyak tergandakan.
Tak lain dan tak bukan, untuk mengungkap.
Iris Livansha. Jangan sampai orang-orang mengendus nama itu dan menyadari dia ada dalam hidupnya. Jangan sampai. Dirinya sendiri adalah pelanginya dan harus ia jaga sebaik mungkin. Jangan sampai ada yang merusak keinginan mulianya dengan ambisinya. Dia bisa hancur dan kena marah jika kedekatan mereka terendus dan terbongkar. Iris jelas tak mau itu terjadi.
"Maaf," cicit Iris yang terpaksa dengan sedikit keras menarik kartu miliknya. Foto dirinya sendiri ia blur dan berakhir ia menuliskan sesuatu di web khusus pengaduan korupsi. Dia bahkan menyebutkan, "Tak apa jika hidupku hancur, yang penting ..."