HF [2]

1026 Kata
Langsung saja, Iris beranjak ke depan pintu untuk menggedor-gedornya minta dibuka. "TOLONG!!! BUKA PINTUNYA! TOLONG!!" Dan, begitu matanya memandang ke arah jendela yang agak berukuran besar disamping kamar yang nampak mencolok itu, Iris pun memutuskan untuk segera menghambur ke sana. Yang anehnya, itu justru membuat tawa menggelegak di mulut Saidan. Dengan mudah, ia menyeret kembali pinggang Eris untuk diletakkan di ranjang dengan kasar. Sekarang, gaun mini Iris telah jadi tempatnya untuk bermain, sulit sebetulnya untuk membuatnya naik, yang entah apakah ini nada membujuk atau tidak, namun, jelasnya, Kenneth berbisik pelan, "Aku tidak bisa melepasmu begitu saja, makan malam yang lezat. Sekarang. Mari kita beri pengaman agar kamu tak sembarangan melawanku, Iris sayang." Tangis Iris tumpah, menggelegak dalam bara ketidakmampuan. "Aku mohon, jangan,Ken. Aku ... aku ... sungguh ..." "Kalau kamu menolaknya, akan kupastikan, Antariksa, kesayanganmu itu, akan mati dalam kondisi paling mengenaskan. Paham?” Iris hanya bisa mengangis. Kenapa ia harus seperti ini? Kenapa harus begini? "Bagus. Sekarang kita mulai saja ritualnya." Di nakas, Kenneth pun mengambil beberapa peralatan seperti pengikat tangan sampai botol wine terisi penuh yang menggoda. Iris, pun, singkatnya, diikat begitu saja. Lalu, dituangkan wine di sekujur tubuhnya. Yang membuat Kenneth lagi-lagi terpana betapa manisnya wanita ini. Seharusnya dari dulu saja ia perlakukan begini. "Siap, ya, sayang?" Dan, itu ... jadi penanda mulainya segala macam luka yang menoreh di sepanjang tubuh, hati, memori dan dirinya. Malam itu, tak ada yang lebih bisa disuarakan kecuali pedih dan tragedi untuk Iris sendiri. 'Aku ingin lari ... Aku ingin selesai ... Aku tidak mau begini ... Siapapun, tolong aku ...' Namun, nyatanya. Laki-laki itu tak membiarkan gadis itu melonglongkan duka. "Kamu hanya boleh sebut namaku, Kenneth." Lebih baik mati saja ... Gadis itu hanya ingin selesai Pagi itu ... tak ada lagi yang bisa dicap sebagai pemandanan syukur seperti yang biasa Iris lakukan. Biasanya, ketika pagi, gadis itu merasa bahagia, berkat ia masih diberi nyawa yang artinya untuk menuju hari esok dan esoknya ia masih diberi kesempatan untuk membuat mereka jadi lebih berarti. Tapi, kini, tidak. Dia bangun di kasur yang sama dengan b*****h itu ... Kenneth. Yang menumpaskan semua hasrat gilanya kepada Iris. Benar dugaan Iris. Dia memang melakukan itu, tak lain dan tak bukan agar Iris tak bisa kemana-mana lagi kecuali bersamanya. Dia benar-benar menyiksa Iris yang tak diijinkannya sama sekali untuk berhenti. Sungguh ... kejam. Di tengah gantungan air mata yang kalut menggenangi pipi. Atas nama terkecam dan ketidakadilan, Iris menangis. Mempertanyakan, 'Kenapa hidupnya lantas harus seperti ini?' *** "Bos, ini rekaman dari hasil malammu." "Bagus. Kamu belum buka, kan?" "Belum, bos. Perekamannya secara otomatis dan ekslusif. Selama perekaman berlangsumg. Tidak ada yang mengecek di kontrol. Saya kemari tadi untuk mencopot semua alat rekam." Kenneth mengangguk. "Bagus." Dia kemudian mengangkat satu flashdisk tersebut usai meminum cola. "Ini akan jadi tontonan paling menyenangkan untukku dan pemainnya langsung." Sang tukang tersenyum. "Tapi, Bos, apa ini tidak terlalu berlebihan? Maksudku, Bos. Setiap wanita menyukai keprivatan saat mereka memberitahukan hal istimewa terutama urusan tubuh mereka. Tidakkah ini melanggar batas kesukaan mereka yang cenderung tak suka diumbar?" Kenneth mengangguk lama. "Memang benar. Perempuan ini pun, iya. Tapi ... untuk membuatnya PD bahwa dirinya memang sejak dulu indah dan tidak minderan, saya terpaksa pakai cara ini.” ‘Tentu yang selain itu juga agar Iris memberinya servis lebih,’ batin Kenneth seraya tersenyum dengan simpulnya. "Terlebih, setiap pasangan, kan, harus mereview setiap aktivitas malam mereka sebelum kita berdua agar sama-sama jadi pro." Anak buah itu pun mengacungkan jempol. "Bos memang hebat." Kenneth mengangkat bahu. "Sudah biasa." "Semoga langgeng, ya, Bos. Saya doakan." Tapi, Kenneth tak menjawab. Dia cuma tersenyum karena dia sudah tahu jawaban dari pengharapan itu. 'Aku dan Iris nggak akan cuma langgeng, asal kamu tahu. Tapi, sangat forever. Dia dengan semua kartu mati yang aku genggam termasuk yang kali ini. Aakan aku pun dengan segala kerelaanku yang apapun demi dia. Intinya satu ... Iris hanya ditakdirkan menjadi milikku.' Bergaya moonwalk untuk freestylenya jalan, Kenneth kini kembali masuk ke dalam. Fyi. Tadi, dia di teras. Biasa, ngadain minum kopi pagi hari ala cowok sama oranglain. *** "Nona, silakan turun ke bawah. Tuan Kenneth sangat tidak suka harus menunggu." Sayang ... mereka bahkan tak menanyakan pada Iris, apa yang Eris suka dan tidak. Mereka hanya tunduk pada Kenneth saja yang bahkan memberi Iris pakaian sangat mahal serta beberapa pakaian tidak layak pakai karena terbuka. Tentu, untuk menyegarkan mata laki-laki tersebut, sebab, ya, karena bagaimanapun, Iris ini ... objek nyata melayangkan fantasi tentunya. "Iya, saya turun, Bu." Sebenarnya, Iris sudah memberontak, bahkan tepat saat di pagi hari di mana ia menangis tersedu-sedunya karena kesuciannya terenggut. Ditambah lagi, ponsel gadis itu dibuang. Teks kebencian dan kepalsuan yang membuat Eris putus dengan pacarnya pun semakin menambah beban hidupnya. Diketik Kenneth begini, ‘Aku sedang sibuk sekali dengan temanku. Kamu tidak boleh menggangguku seminggu ini. Paham? Aku pun lebih lagi tak menyukai lelaki tukang tanya yang minta penjelasan. Camkan itu.’ Belum lagi, tatkala gadis itu mengingat, pada setiap malamnya ... ia harus mau melaksanalan semua yang Kenneth mau Karena, cukuplah Iris saja yang telah kehilangan banyak hal, jangan sampai pula ancaman-ancaman gila laki-laki itu memperkeruh semuanya. Meski, ya, dalam hati, ia merasa, bahwa hitam telah menjajah keseluruhan dirinya bahkan sampai ke tahap akhir. "Terimakasih." Itu kata Iris saat pelayan memberinya jalan dan memberitahukan arah di ruang makan karena saking besarnya rumah yang lebih mirip kastil tersebut. Namun, ketika Iris sampai di sana ... beberapa pelayan yang berjaga tampak lempar-lempar kode yang merutuki keberadan Iris hingga sampai ke sana. Seakan jika semua kode itu dikumpulkan, maka, akan membentuk semua pernyataan, ‘Kamu kenapa membawa Nona Muda turun kemari? Tuan Muda padahal sudah melarang untuk tidak membawa Nona Muda saat ia melaksanakan ritual.’ Sampai, pelayan yang ada di samping Iris, memegang tangannya, membujuk pergi, yang dijawab tenang sekali oleh Iris, “Saya udah sering menonton hal yang di luar batas, yang dilakuin dengan nggak ada batas. Bahkan, sampai yang saya rasakan adalah tersayat. Hingga lebih dahsyat dari itu.” Memang banyak lecet yang tertera usai pertempuran kepemilikan malam itu. Membuat Iris sangat terluka. “Jadi, buat apa saya pakai emosi di sini? Kalau kepada apapun yang saya punya, tidak akan sebenar-benar dianggap ada?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN