sahabatku adalah selingkuhannya

1154 Kata
Keesokan harinya. Aldo pamit untuk pergi keluar kota, sesuai yang dia katakan tadi malam. Aline mengantarnya hingga Aldo masuk ke dalam mobil. Seperti biasanya, sebelum pergi Aldo tidak lupa mengecup kening Aline dengan penuh kasih sayang dan penuh cinta. "Sayang, aku pergi dulu ya, jaga diri kamu baik-baik, jangan nakal dan jangan melirik pria lain selain aku," ucap Aldo, di memberi peringatan kepada Aline karena Aldo takut kehilangan Aline. Aldo sadar memiliki istri yang sangat cantik dan muda sangatlah sulit menjaganya apalagi Aline saat di kampusnya banyak pria yang menyukainya, dia adalah pria beruntung yang bisa mendapatkan Aline, karena dia takut diambil oleh orang lain sehingga Aldo secepatnya menikahi Aline tanpa harus menunggunya lulus kuliah terlebih dahulu, walaupun dia harus melawan kedua orang tuanya karena tidak setuju, Aline bukan berasal dari keluarga kaya bahkan hanya memiliki ibu saja yang tinggal di lingkungan sederhana dan tidak satu level dengan Aldo. Menikah selama tiga tahun tidak membuat ibu mertua Aline yang bernama Merry merasa setuju, dia terus menerus menyuruh Aldo untuk berpisah dengannya apalagi dalam keadaan Aline yang belum bisa memberikannya keturunan karena Aline sengaja menundanya terlebih dahulu hingga lulus dari pendidikannya. Aline tersenyum dan mengangguk, dia tidak mungkin bermain dibelakang Aldo, untuknya Aldo adalah suami yang sempurna dan tidak ada celah sedikitpun jadi untuk apa Aline mencari pria lain, karena Aldo sudah memilikinya baik hati dan juga tubuhnya saat ini. "Sayang, aku tidak senakal itu ya! Aku hanya mencintai kamu, jadi kamu tidak perlu khawatir apalagi cemburuan seperti itu ya!" Ucap Aline, dia tersenyum sambil mencium*um pipi Aldo dengan lembut. Aldo tersenyum cerah, kekhawatirannya karena takut Aline diambil oleh orang lain mulai menghilang, dia terlalu mencintainya dan juga memiliki rasa bersalah didalam hatinya karena itu membuat Aldo semakin ketakutan, dia takut Aline benar-benar akan meninggalkannya. Aldo tersenyum dan dia pun pamit untuk pergi. "Sayang, aku pergi dulu ya! Kalau ada apa-apa segera beri kabar aku secepatnya ya!" Ucap Aldo sambil memeluk Aline. "Iya sayang, kamu hati-hati di jalan ya! Aku cinta kamu sayang!" Ucap Aline dengan suara lembut dan terlihat jika dia enggan untuk melepaskan suaminya, karena sejak semalam hatinya terus merasa tidak tenang seperti akan ada hal besar yang terjadi. "Baiklah, aku pergi dulu, nanti aku telpon kalau aku sudah sampai." Ucap Aldo dan dia pun segera masuk ke dalam mobil. Aline mengangguk dan dia pun tersenyum sambil berdiri ditempat itu, dia melihat mobil Aldo yang perlahan pergi dan menghilang dari sudut pandangnya. Setelah mobil Aldo pergi, Aline pun masuk kembali ke dalam rumah, dia berencana akan menjadi ibu rumah tangga yang baik dan tidak berencana untuk bekerja karena menurutnya sudah sangat cukup yang Aldo berikan padanya Aline merapihkan semua ijazah dan semua berkas dari hasil kuliahnya selama ini. Waktu pun berlalu, sudah masuk waktu siang hari. Aline pun pergi untuk membersihkan diri dan dia pun masuk ke kamar mandi. Namun tiba-tiba ponselnya pun berbunyi. Aline mengambil ponselnya dan melihat ID pemanggil itu dari Santi, dia adalah teman satu kampusnya. Aline memiliki dua teman akrab yaitu Meta dan Santi. Meta sudah lama berhenti kuliah dan pergi kuliah ke luar negeri karena Meta berasal dari keluarga kaya dan orang tuanya ternyata berteman baik dengan keluarganya Aldo. Aline mengangkat telponnya dan dia langsung menjawab "halo Santi!" "Halo, Aline kamu sedang apa?" Tanya Santi dengan suara panik. "Aku mau mandi, ada apa San? Kok kamu terdengar sedang sangat panik?" Tanya Aline dengan heran. "Aline, Aldo ada di rumah tidak?" Tanya Santi kembali. "Tidak ada, dia pergi keluar kota tadi pagi, ada apa San? Kamu jangan menakuti aku seperti ini?" Ucap Aline dan hatinya semakin resah dan rasa tidak tenang mulai meliputi hatinya. "Shitt ... Berarti itu benar-benar Aldo yang sedang bersama Meta!" Ucap Santi dengan nada marah. Aline terkejut saat Santi menyebut nama Meta "tunggu dulu! Ada apa ini San? Bukannya Meta ada diluar negeri, kenapa dia bisa ada disini dan Aldo? Aldo kan sedang ada diluar kota, kenapa jadi ada disini? Memangnya kamu ada dimana sih dan?" Tanya Aline dengan bingung. "Aku ... Aku baru masuk kerja hari ini di hotel royal dan tahukah kamu apa yang aku dapatkan? Aldo dan Meta beserta keluarganya sedang mengadakan acara besar, Meta sedang hamil besar dan tahukah kamu acara apa hari ini, mereka bertunangan … Aline!" Ucap Santi dengan suara terputus. Dia tadinya tidak percaya jika itu Aldo, dia pikir itu hanyalah kemiripan dan Aldo ada disamping Aline saat ini tapi ternyata, itu memanglah Aldo. Aline terkejut, seluruh tubuhnya terasa lemas semua, air mata pun mulai mengalir dari sudut matanya. Hatinya sangat sakit tapi dia mencoba menenangkan dirinya dan masih menganggap jika Santi sudah salah melihat. "Santi, ini tidak lucu! Kamu sedang bercanda kan? Aldo ... Aldo tidak mungkin melakukan hal itu, kamu mungkin salah melihat San!" Ucap Aline yang masih bersikap tenang dan masih berpikiran positif terhadap suaminya. "Aline, untuk apa aku bercanda apalagi berbohong. Kalau kamu tidak percaya, kamu datang saja kesini, acaranya baru saja dimulai, ini acara pertunangan kelas atas dan banyak orang yang hadir saat ini, jika kamu tidak percaya! Aline aku akan mengambil gambarnya dan mengirimkannya pada kamu!" Ucap Santi dengan nada sedih, dia sedih karena suami Aline yang begitu baik dan setia malah selingkuh dibelakangnya hingga memiliki anak dan wanita itu juga bukanlah wanita lain tetapi sahabat mereka sendiri. Aline yang sudah penuh dengan air mata dan berusaha untuk tegar, dia mengangguk dan menjawab "coba kamu kirimkan sekarang gambar itu!" Ucap Aline, dia merasa dadanya sangat sesak dan berharap pria itu bukanlah Aldo suaminya yang paling dia cintai. "Baiklah, aku kirimkan sekarang!" Ucap Santi dan dia mengirimkan beberapa gambar yang begitu jelas, gambar Aldo berdiri bersama meta yang perutnya sudah membuncit. Ting ... Pesan pun masuk, Aline membukanya dan tubuhnya bergetar hebat, dia langsung duduk dilantai dan ponselnya jatuh tanpa terasa. "Hiks ... Hiks ... Kenapa kamu lakukan ini padaku? Kamu berbohong Aldo, kamu berbohong!" Aline menangis dengan keras, hatinya hancur berkeping-keping. Sakit itulah yang dia rasakan, dunia terasa runtuh seketika dalam benaknya saat ini. Santi merasa panik, dia pun berteriak didalam telpon namun Aline tidak menjawabnya. Hingga Aline masih ingin melihatnya secara langsung. Dia menghapus air matanya dan mengambil ponselnya kembali. "Halo, san! Tolong kirimkan dimana posisi mereka saat ini, aku ingin melihat mereka saat ini!" Ucap Aline sambil terisak-isak menahan dadanya yang sesak dan sulit untuk bernafas. " Baik Aline, tapi kamu baik-baik saja kan?" Tanya Santi dengan penuh kekhawatiran. "Aku baik-baik saja, aku segera kesana san, aku ingin mengucapkan selamat kepada mereka!" Ucap Aline, dia mengikat rambutnya dan hanya memakai celana jeans dan kaos ketak. Mengambil tas ransel yang sering dia bawa untuk kuliah dan dia pun segera pergi meninggalkan rumahnya. -bersambung- Dhini-218 only on : Dreame n innovel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN