Sore itu Maurin memberanikan diri mengajak Arkan mengobrol di kafetaria kantor. Keduanya sedang menunggu kopi dalam paper cup masing-masing menghangat dan mulai bisa dinikmati. Suasana kafetaria sore itu juga nampak lengang, sepertinya karyawan-karyawan perusahaan yang berada di gedung yang sama dengan Nawasena & partners belum kembali ke kantor masing-masing, atau bahkan mungkin sudah pulang ke rumah masing-masing. Langit Jakarta yang tampak mendung syahdu itu membawa laju pikirannya kembali ke beberapa hari silam saat berbicara dengan Melody soal hak asuh Levi. Setiap kali Arkan telah berkata sinis dan dingin pada Melody, hatinya seperti teriris ikut merasakan sakit seperti sakit yang dirasakan oleh Melody. Dia selalu dihantui rasa penyesalan begitu dalam bila telah berkata atau ber

