Bercak Darah

1024 Kata
Bercak darah itu ...? Kilatan bayangan semalam mulai menghantui pikiran Mathias. Ia mulai ingat sedikit demi sedikit dengan apa yang terjadi semalam. Mathias memejam mata dan momen saat ia mencapai klimaks kenikmatan semakin lekat dalam ingatan. "Damn! Jadi semalam aku ...?" Sekali lagi Mathias merutuk, ia menyesali apa yang ia lakukan pada Elea walaupun hatinya tak mampu menyangkal kalau semalam ia begitu menikmati tubuh Elea. Sementara Elea hanya bisa menangis meratapi nasibnya yang masih sangat abu-abu. Dengan dress kesayangan yang sudah koyak, ia menangis perih di dalam ruangannya. Ucapan Mathias masih terngiang di dalam benaknya padahal semalam ia sudah rela menyerahkan dirinya tapi kepedihan kembali menghantam hatinya ketika Mathias tetap bersikap kejam setelah semalam memberikan satu malam yang tidak akan pernah Elea lupakan. Tak lama Esther datang membawakan sarapan, tapi ia hanya membawa nampan makanan saja tanpa membawa cambuk yang biasanya ia bawa untuk menyiksa Elea. "Makan lah!" ucap Esther. Elea tidak menoleh, masih menunduk sedih sambil berusaha mengeringkan air matanya. "Jangan menangis! Hari ini Tuan Mathias memerintahkanku untuk tidak mencambukmu!" ujar Esther lagi sangat tegas, walaupun di lubuk hatinya yang terdalam ia pun merasa prihatin. "Boleh aku tanya sesuatu, Esther?" tanya Elea dan jemarinya masih sibuk menyeka basah di wajahnya. "Maaf! Tugasku hanya sebatas ucapan dari Tuan Mathias. Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu!" Elea kecewa, tapi beruntung ia sudah berkawan dengan rasa kecewa semacam itu bahkan Elea sudah menyatu dengan rasa takut dan rasa sakit. "Makanlah! Pagi ini kau boleh bertemu sinar matahari, Tuan memperbolehkanmu berjalan-jalan di taman, 30 menit!" ujar Esther lagi. Elea cukup terkejut mendengar ucapan Esther kali ini. Apa? Si kejam itu memberikan kesempatan pada Elea untuk mencium bau taman? Benarkah? Perlahan Elea menemukan sedikit lagi nyala semangatnya. "Cepat!" tegas Esther. Elea tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, ia pun segera melahap makanannya dan rasanya tak sabar ingin menikmati sinar matahari langsung setelah satu minggu lebih ia terpenjara di dalam ruangan yang gelap dan lembab itu. Tapi kemudian Elea bertanya-tanya di dalam hatinya, kenapa Mathias tiba-tiba bermurah hati? Bukannya tadi ia sangat murka saat Elea meninggalkan kamarnya? *** Meja makan besar yang sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan lezat sama sekali tidak membangkitkan selera makan Mathias. Ia hanya makan sedikit dan lebih banyak minum air putih. Bercak darah di seprai masih jadi topik utama di dalam pikirannya. Sensasi nikmat yang ia rasakan semalam juga masih berseliweran di dalam jiwanya. Walau mencapai puncak dalam keadaan mabuk berat, tapi rasanya begitu berbekas tak mampu dilupakan begitu saja. "Maaf, Bos. Hanya mengingatkan, siang ini Anda harus ke Markas, ada beberapa urusan yang harus diurus di sana." Arthur maju dua langkah dan mencoba mengusik lamunan Mathias. Mendengar suara Arthur, tiba-tiba Mathias ingat pada kejadian tadi pagi di lorong menuju ke ruang isolasi Elea saat Arthur mencoba membantu Elea yang nyaris ambruk. "Aku mengawasimu, Arthur! Apa yang kau lakukan untuk wanita itu saat di lorong tadi?" tanya Mathias langsung menimbulkan ketegangan dan kecemasan di hati Arthur. "Tadi hanya spontan saja, Bos. Nona Elea tampak lemas, dia nyaris jatuh, saya pun mencoba untuk menopangnya," jawab Arthur mencoba tenang dan tetap lugas. "Siapa yang mengajarimu untuk peduli pada musuh?" "Maaf, Bos. Karena Anda telah menikahi Nona Elea, saya pun menganggap dia sebagai istri Anda." Mathias menggulirkan matanya pada Arthur, jawaban Arthur membuat Mathias tidak suka. "Maaf, Bos." Arthur hanya meminta maaf untuk kesekian kalinya. "Jangan main-main denganku, Arthur!" kecam Mathias. "Maaf, Bos." "Kau tahu siapa dia! Kau tahu apa tujuan dia berada di tempat ini!" Arthur tak berani lagi menyahut. Ia sadar bahwa sahutan adalah hal yang akan semakin menyulut emosi tuannya. "Setelah diberi makan, biarkan dia berkeliaran di taman! Nanti malam aku akan menghabisinya, biarkan dia melihat sinar matahari dan menikmati udara segar sebelum aku kirim dia ke neraka!" titah Mathias. Hati Arthur meringis mendengar perintah itu. Entahlah, entah Mathias serius atau tidak, tapi ucapannya barusan adalah sinyal bahaya untuk Elea. Itu lah yang dikatakan oleh Esther saat mengantar sarapan tadi yang membuat Elea kembali menemukan setitik harapan. Setelah menghabiskan sarapannya, Elea mandi dan memakai dress sebetis berwarna pastel yang membuat dia terlihat berbaur sempurna dengan bunga-bunga di taman yang indah itu. Walau tidak memakai polesan make up, tapi Elea telah dianugrahi kecantikan alami yang tak pernah ia umbar pada sembarang orang. Selama 15 Tahun ia hanya menghabiskan waktu di dalam rumah orang tua angkatnya. "Ya ampun! Aku seperti terlahir kembali! Aku rindu mencium bau taman seperti ini!" Elea berlarian kecil seperti mengejar kupu-kupu dan capung yang menemaninya di sana. Sesekali ia menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu mengembuskannya dengan perasaan lega. Elea melepaskan alas kaki dan membiarkan telapak kakinya bersentuhan dengan rerumputan, rasanya menyenangkan sekali. "Wah, koleksi mawar di sini lengkap sekali, boleh tidak ya aku memetiknya?" Elea menghampiri deretan bunga mawar berbagai warna dan jenis di salah satu sudut taman itu. Hatinya begitu menggebu ingin memetika dua atau tiga tangkai dari mawar-mawar itu tapi kemudian ia sadar kalau ia tak bisa sembarangan di tempat itu. Elea belum sadar kalau keceriaannya pagi ini tengah ditonton oleh Mathias yang diam-diam mengawasi dari balkon kamarnya sambil ditemani whiskey favoritnya. Entah lah, entah kenapa energi gelap yang selalu menaungi auranya kali ini terlihat agak pudar ketika ia melihat Elea berlarian di tamannya. Senyum rekah Elea mengalihkan pikirannya, entah ia sadar atau tidak. Saat ini Elea masih berada di area mawar yang berwarna warni itu, hasrat untuk memetik semakin kuat tapi ia ragu-ragu. "Kalau aku minta izin dulu, apa dia akan langsung menghukumku? Tapi pasti akan lebih fatal kalau memetik bunga-bunga ini tanpa seizinnya." Elea berpikir keras. Elea mengedarkan matanya, mencoba mencari letak kamar Mathias di puluhan jendela yang mengelilingi Mansion itu. Elea harap Mathias bisa ia temukan karena sungguh ia tak tahan ingin memetik mawar itu. "Dia di sana ...? Apa jangan-jangan mengawasiku?" Elea menemukan titik di mana Mathias berada. Elea cukup kaget saat mendapati Mathias berdiri santai di balkon kamarnya sambil memperhatikan ke arahnya. "Apa mungkin di sekitarnya ada senjata dan di saat aku lengah dia akan menembakku?" pikir Elea dan semakin tajam memperhatikan ke arah Mathias. Mathias pun tidak mengalihkan fokusnya, walau jarak mereka puluhan meter jauhnya, tapi seakan fokus netra mereka bertemu di satu titik yang sama. Elea menatap ke arah Mathias dan Mathias tetap menatap tajam ke arah Elea.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN