“Ahh,” desah Evalinda ketika sesuatu masuk kedalam miliknya. “Sayang,” lirih Evalinda. Ben menggerakkan pinggulnya secara intens karena sel-sel miliknya akan keluar. Ben bernapas lega ketika miliknya menembakkan sejuta sel ke dalam rahim Evalinda, berharap sel itu tumbuh dan menjadi anak kedua mereka. Ben memeluk istrinya, masih menindihnya. Ben menghela napas halus, napasnya membuat telinga Evalinda merasa geli. “Sayang, sepertinya aku terlalu menyiksamu,” kata Ben menatap wajah istrinya yang kini berpeluh dibawah tindihannya. “Tidak, Sayang, aku tidak pernah merasa kamu menyiksaku,” geleng Evalinda. Ben lalu berguling disamping istrinya dan sesaat kemudian suara dengkuran terdengar, Evalinda tertidur, seperti biasa. Ben tertawa kecil dan menggelengkan kepala. Benar-benar wanita yang

