Gadis yang saat ini sudah tidak bisa di sebut gadis itu melangkah dengan langkah jenjangnya, sepatu berhak tingginya sedikit berdetuk saat beradu dengan lantai marmer berkilau yang di injaknya sebuah rok mini dengan sedikit belahan di paha bagian samping membuat langkahnya seolah tidak terhalang. Rambut panjangnya tergerai sedikit melambai seiring dengan langkah cepatnya. "Selamat siang, Nona, reservasi atas nama siapa?" tanya seorang wanita berseragam hitam yang menyambutnya di depan pintu masuk sebuah restoran mewah. "Saya mau ketemu, Ben, dia di dalam kan," jawab Lany sambil meneruskan langkah. "Tunggu, dulu, Anda enggak bisa menemui Pak Ben kalau belum buat janji," kata pegawai restoran yang kini semua kepengurusannya Pak Arya berikan pada sang putra. Lany menghentikan langkahny

