"Ih, kak, jangan berhenti dong!" kata Bella sambil menggoyangkan lengan Abraar yang tergeletak di samping tubuhnya membuat laki laki itu terbangun dari tidurnya, bukan tidur karena dia hanya terlelap sesaat karena terlalu mengantuk. "Iya, Sayang, iya," jawab laki laki itu sigap lalu kembali mengelus perut buncit sang istri, entah ngidam atau mencari kenyamanan tapi Bella tidak akan bisa terlelap jika sang suami tidak mengelus elus perutnya. "Sayang, bobok ya, udah hampir jam dua belas, nih, biar Mama juga bisa bobok," kata Abraar sambil mengelus perut sang istri di mana anaknya yang sudah di pastikan seorang putra itu sedang tumbuh di sana, bayi itu sudah semakin besar sudah tinggal menunggu dia mengirimkan gelombang cinta untuk di lahirkan ke dunia saja. Laki laki itu tersenyum saat

