Bab 4. Playing Victim

1355 Kata
“Bianca mati? b******n. Siapa orang yang dia panggil b******n?” ucap Leon yang mendengar semua ucapan Viona. Dia mencoba berpikir keras, apa maksud ucapan calon adik ipar dadakannya itu. Leon meneguk birnya untuk menghangatkan badannya sambil mendengarkan raungan tangis Viona di kamar sebelah. Leon meletakkan botol birnya di atas meja. Dia tergelak ringan, melihat kerandoman tingkah Viona. Beberapa jam lalu wanita itu menerobos pesta pertunangan adiknya dan menghancurkannya. Tapi kini, sepertinya Viona sedang menyesali keputusannya, sampai menangis meraung. Terdengar menyedihkan? Tidak juga, Leon malah menertawakan Viona saat ini. “Dasar playing victim! Bisa-bisanya dia nangis kayak gitu setelah dia menghancurkan hati adiknya. Bianca mati. Iya, kamu sendiri yang bunuh adik kamu, Vi,” gumam Leon menilai tindakan Viona. “Perempuan aneh. Dia yang bikin masalah, tapi malah dia yang nangis kayak jadi korbannya. Dasar munafik!” Leon mengambil lagi botol birnya. Dia meneguknya sampai tandas lalu segera masuk ke dalam kamarnya. Tidak tertarik dengan drama yang Viona buat. Saat Leon sudah naik ke peraduannya, Viona terduduk lemas di balkon. Punggung lemahnya bersandar di dinding dingin yang membuat otot punggungnya sedikit mengerut. Viona menarik napas panjang dan berat. Dia duduk termenung, mengumpulkan serpihan tenaganya yang tersisa untuk membantunya tegar menjalani semuanya. Viona mengusap wajahnya kasar. Menyingkirkan helaian rambut yang menempel di wajahnya, yang lengket di bekas air matanya. “Bertahanlah, Viona. Kamu pasti bisa. Kamu pasti bisa jalani semuanya,” gumam Viona bermonolog sendiri, menyemangati dirinya sendiri. Viona memejamkan matanya yang panas dan kering. “Maafkan aku, Bi. Maaf aku gak bisa jujur sama kamu sekarang. Tapi aku janji, suatu saat, ketika semua sudah tenang, kamu akan tau semuanya.” “Bencilah aku semaumu. Aku memang layak dapatkan itu.” Viona tertunduk pelan. Rasanya masih sangat berat, meski dia mencoba menerimanya. Hidup bersama pria mengerikan seperti Robin, sangat tidak bisa diprediksi. Akankah dia yang akan mati lebih dulu atau dia akan berhasil menghancurkan Robin seperti rencananya. Viona menarik napas dalam. Menatap bulan purnama yang sedari tadi menyaksikan kepedihannya. “Aku akan membunuhmu, Robin!” Tekad Viona sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat. Viona masuk ke dalam kamarnya. Dia harus sehat. Melawan Robin tidak bisa dengan tubuh yang lemah. Setelah kejadian besar di malam pertunangan Bianca dan Robin, kini banyak sekali orang yang membicarakan Viona. Media online dan offline atau hanya sekedar bisik-bisik tetangga, sedang menghujat atau mempertanyakan niat Viona merebut tunangan adiknya. Keadaan di rumah sang gubernur pun tidak jauh berbeda. Rumah yang dulu sangat hangat itu mendadak menjadi sangat dingin. Tak ada lagi canda tawa atau sekedar berbincang santai sesama anggota keluarga. Orang tua Viona sudah menyetujui pernikahan Viona dan Robin meski sangat terpaksa. Persiapan pernikahan juga harus sangat cepat, karena Viona ingin menikah lebih cepat dari jadwal pernikahan Bianca. Lalu bagaimana dengan Bianca? Wanita cantik berjiwa bebas dan memiliki hobi traveling itu memilih meninggalkan rumah untuk menenangkan diri. Bianca tidak ingin melihat kakaknya, apa lagi ingin berbesar hati mendatangi pernikahan mereka. Tidak mungkin! Viona sedang duduj sendirian di sebuah butik, tempat dia akan mencoba gaun pernikahannya. Selagi menunggu gaunnya disiapkan, Viona memilih mengecek bisnis parfumnya, yang baru dia rintis satu tahun lalu. “Sendirian?” Pertanyaan seseorang itu, membuat Viona langsung mengangkat wajahnya, ingin tahu siapa yang menyapanya. Leon berdiri di depannya, menatapnya dengan senyum aneh yang Viona benci. “Enggak. Lagi nunggu Robin. Dia lagi di jalan,” jawab Viona. “Oh, lagi nunggu? Boleh duduk?” tanya Leon lagi sambil menatap Viona. Viona melirik sinis pada kakak iparnya. “Udah duduk tuh,” jawab Viona ketus. Leon terkekeh sendiri. Dia yang mengenal Viona sebagai wanita yang sangat anggun dan berkelas, ternyata bisa juga melakukan hal tidak bermoral sampai membuat adiknya kabur. Viona mengambil sebuah majalah di atas meja. Dia membuka majalah itu, berharap Leon tidak mengajaknya bicara. DI kehidupan sebelumnya, Viona mengenal Leon adalah pengusaha dingin yang sulit didekati. Meski karier bisnisnya tidak sehebat Robin, tapi pesona dan ketampanan pria itu jauh melebih Robin. Leon mengambil majalah juga. Dia membuka lembar demi lembar, tanpa tahu apa yang dia cari. “Gimana rasanya jadi terkenal? Apa kamu menikmatinya?” tanya Leon lagi membuyarkan suasana sunyi di ruang tunggu itu. Viona menoleh dengan wajah masam. Dia menautkan kedua alisnya, mendengar pertanyaan tidak sopan dari kakak iparnya. “Apa maksudmu? Apa aku perlu mengekspresikan perasaanku tentang ini ke kamu?” balas Viona ketus. Leon menoleh ke Viona. Seringai menyebalkannya kembali muncul. “Ya kan siapa tau kamu emang menikmati semua sorotan ini. Viona, menemukan jodohnya di pertunangan adiknya. Bukankah itu bagus?” Viona mendengus kesal. Ingin sekali rasanya dia meninju wajah tampan menyebalkan di depannya itu. Viona melengos. Kembali melihat majalahnya. “Bukan urusanmu!” tegas Viona berharap Leon akan berhenti bertanya. “Tentu saja bukan urusanku. Tapi aku juga kesel loh denger omongan orang soal adikku. Kenapa dia harus disalahkan juga. Padahal kan kamu yang buat kekacauan. Ya harusnya kan kam—“ “Bisa diem gak!” bentak Viona yang sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi. Bukannya takut, Leon malah tertawa. Wajah cantik Viona makin terlihat menggoda saat marah. Leon tidak lagi bicara. Dia tidak mau membuat keributan lagi menjelang hari penting adiknya. Viona menggerak-gerakkan bibirnya menahan kesal. Ingin sekali dia mengeluarkan kalimat umpatan pada kakak iparnya yang super menyebalkan itu. Leon mengubah mimik wajahnya. Dia kembali teringat dengan kejadian di balkon hotel, yang ternyata masih sangat menghantui pikirannya. “Sebenarnya apa yang kamu inginkan dari keluarga kami?” tanya Leon dengan nada suara yang dalam, penuh keseriusan. “Bukan urusanmu!” Viona enggan menjawab. Belum juga Viona berhasil menoleh, tiba-tiba wajah tampan itu sudah ada di depannya. Jarak mereka juga semakin terkikir, membuat Viona ketakutan. Mata dalam dan tajam Leon, berhasil menghipnotisnya sampai tidak bisa bergerak. Tatapan tajam dan lurus Leon, membuat darah Viona berhenti mengalir. “Apa yang kamu inginkan, Viona? Apa yang sedang kamu rencanakan?” tanya Leon dengan nada pelan namun sangat menakutkan. “Ada apa ini?!” Suara Robin terdengar. Leon langsung mundur, membuat jarak panjang lagi Viona lagi. Leon berbalik dan melihat adiknya. “Gak papa. Cuma ada ...laba-laba,” jawab Leon dengan nada sangat dingin namun datar sambil menunjukkan tangannya yang memegang sesuatu. “Laba-laba?” ucap Viona dalam hati yang tidak sadar, kapan hewan kecil itu ada di tangan Leon. “Oh. Kamu fitting sekarang juga?” tanya Robin pada kakaknya. “He em,” “Oh ya udah. Aku mau ke ruang fitting di sebelah.” Robin melihat ke Viona. “Ayo, Sayang. Kita di tunggu di sebelah sana,” anak Robin. “Oh iya.” Viona berdiri. Berjalan mendekati calon suaminya. Saat akan meninggalkan ruang tunggu, Viona menyempatkan diri melirik ke Leon. Pria itu kembali menjadi batu es, padahal tadi dia sempat membuat Viona naik darah. “Aneh banget orang ini. Bentar nyebelin. Bentar dingin. Tapi tetep aja semuanya nyebelin!” ** “Gak ada topik bahasan lain apa ya. Nyebelin!” gerutu Viona sambil mematikan ponselnya yang menyiarkan berita tentang dirinya. “Ngapain protes. Bukannya itu kemauan kamu sendiri,” sahut Linda yang datang untuk melihat persiapan putrinya. Viona melihat mamanya dari pantulan cermin yang ada di depannya. Dia tidak menjawab dan hanya menelan ludahnya kasar. “Robin udah dateng, Ma?” Viona memilih mengganti pembicaraan. “Udah. Dia bawa beberapa anggota keluarganya.” “Jangan lama-lama dandannya. Jangan bikin Robin dan semua undangan nunggu terlalu lama!” cicit Linda. “Iya, Ma,” jawab Viona pelan. Linda melihat ke para perias Viona. "Cepat selesaikan. Acara sudah akan dimulai." Suasana di kamar itu terasa semakin tegang, dengan Viona yang mencoba menenangkan dirinya, menjelang kehidupan barunya yang masih samar bersama Robin. Setelah persiapan Viona selesai, perias membantu Viona menuju ke ruang acara. Mereka berjalan bersama menuju ke lift yang akan mengantarkan Viona ke lobi. Viona disambut oleh sang papa di depan pintu lift. Mereka pun berjalan bersama ke aula, tidak ingin membuat semua tamu menunggu terlalu lama. Viona disambut oleh tepuk tangan tamu undangan di dalam ruang acara. Alunan musik lembut juga turut mengiringi langkah Viona dengan senyum palsunya. Viona menatap ke arah altar. Dia melihat seorang pria memakai jas hitam berdiri tegak di dekat altar, menunggunya tiba di sana. “Si-siapa dia?” gumam Viona dalam hati, mencoba mengenali pria yang dia lihat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN