Bab 13: Cemburu

1013 Kata
*** "Jadi... Awak tinggal sama siape ni?" Bertemu sesama warga Malaysia rasanya kurang kalau tidak mengobrol banyak hal. Raihan ingin menghilangkan perasaan canggung antara dirinya dan Ariza. Sungguh, bersikap santai di hadapan mantan seperti bernegosiasi dengan seorang tentara asing. Sama-sama mengerikan. "Tinggal sama aunty, Kak." Ariza tersenyum lebar ke arah Raihan sampai pria itu terperanjat, cepat-cepat Raihan menoleh ke arah lain supaya hatinya tidak terpesona untuk kedua kali pada Ariza. Dia sudah memiliki istri. Tunggu, mengapa dia harus mencemaskan kehadiran istri pura-puranya? Tak ada salahnya Raihan mencari wanita lain. Bukankah ada perjanjian antara dirinya dan Adriana? "Oh. Itu kabar yang baik. Salamkan saya dengan mereka ya." "Iya, Kak." "Jom. Awak kerja lah. Maaf ganggu ya." Ariza menyengir, dan memberitahu ia tidak masalah bekerja sambil mengobrol. Hari ini Ariza langsung bekerja karena memang Raihan membutuhkan tenaganya sekarang. Ariza harus menyusun ulang jadwal Raihan. Merasa terlalu banyak mengganggu Ariza, Raihan menjauh dari wanita itu. Dia kembali ke tempat duduknya yang tak jauh dari meja Ariza. Melihat Raihan pergi, Ariza menunduk malu. Raihan sempat melihat pipinya yang memerah. Ariza telah mengingatkan Raihan akan masa lalu penuh cinta di antara mereka. Masa yang sudah Raihan kubur beberapa tahun lalu. Ini di luar dari rencana Raihan. Dia tidak pernah membayangkan Ariza akan muncul lagi dalam kehidupannya. Raihan merapikan mejanya. Dia agak lelah hari ini. Tanpa sengaja, satu tumpukan berkas jatuh ke lantai. Sebagai sekretaris baru, Ariza berniat membantu, namun Raihan melarangnya. "Saya bisa sendiri. Kerja lah tugas awak tu." Atas perintah Raihan, Ariza kembali duduk, mengetik sesuatu di komputernya. Satu helaan napas, Raihan melipat lengan kemejanya. Dia sudah memunguti berkas di lantai waktu Ariza memperhatikan luka di tangan Raihan. Luka itu bekas sentuhan raket listrik yang dipakai Adriana menyerang Raihan. "Astaga, Kak Raihan!" Ariza berseru. Suara gadis itu membuat Raihan menghentikan kegiatannya. Dia ikut kaget mendengar Ariza beristigfar. "Ada apa, Ariza? Awak lihat apa? Ada hantu ke? Awak ni indigo ke?" Tidak ada orang lain di ruangan itu. Tidak ada masalah apa pun di ruangan itu. Oh, mungkin Ariza tidak sengaja menghapus file yang ia buat. "File-nya tak ter-save ya?" Raihan menebak sendiri. Dia melangkah ke meja Ariza untuk kedua kali hanya untuk mengecek apa yang membuat wanita itu terkejut hebat. "Bukan, Kak. Bukan masalah itu." Sambil berbicara, Ariza membuka tas miliknya. Dia mencari sesuatu sampai menemukan saleb khusus luka bakar. "Tangan akak ni kenape? Sini Ariza obatkan. Bila terus dibiarkan, tangan tu bisa infeksi." Raihan merasa malu-malu. Dia bahkan tidak memperhatikan luka itu lagi. Bagaimana bisa Ariza sangat memperhatikan lukanya? Bahkan, tidak ada satu pun yang mencemaskan luka bakar itu. "Luka ni kena raket kejut listrik. Takpe, tak usah risaukan luka ni." Baru hari pertama kerja, Raihan sudah merepotkan Ariza. Padahal wanita itu memiliki banyak pekerjaan selain mengurusi luka Raihan yang tidak seberapa itu. "Tak boleh macam tu, Kak. Ariza ikhlas obatkan luka tu. Jom, Saya tak nak mintak kak Raihan bayar kot. Jom ke mari, Kak." Raihan melangkah mendekati Ariza. Dia duduk di sofa. Sementara Ariza membersihkan luka Raihan. Setelah itu, dia mengolesi saleb di tangan Raihan. Kebaikan hati Ariza membuat pikiran Raihan kembali ke masa lalu untuk kesekian kali. Perhatian Ariza memang tak ada duanya. Raihan bahkan lupa alasan keduanya memilih berpisah. "Akak perhatikan apa ni? Macam mau makan saya." Ariza cekikikan seiring Raihan melakukan hal yang sama. Gadis itu masih sama, masih senang bergurau. Belum genap dua jam Ariza langsung menunjukkan sifat aslinya. "Eii, Saya tak tengok apa-apa pun. Awak ni narsis sangat. Saya hanya liat sofa je." Sangkalan Raihan membuat keduanya terkekeh lagi. "Ngomong-ngomong, Makasih ya, Ariza. Awak dah bantu sembuhkan luka di tangan saya ni." Raihan bersyukur atas segala perhatian yang ditunjukkan Ariza. Perhatian yang jarang sekali Raihan dapatkan dari istrinya. "Sama-sama, Kak Raihan. Bukankah setiap makhluk hakikatnya harus saling tolong menolong? Saya hanya jalankan sunnah Rasulullah." Ariza semringah. "Awak memang perempuan baik suka jalankan sunnah Rasulullah. Kapan jalankan sunnah lainnya?" Raihan terpancing untuk bertanya. "Sunnah yang mana ni, Kak?" Ariza memasang wajah serius. "Sunnah nikah tu. Kapan awak ajak boyfriend awak buat lamar awak. Nikahlah cepat biar saya dan istri bisa makan gratis di nikahan awak tu." Sebenarnya Raihan hanya ingin memastikan apakah Ariza sudah memiliki pacar atau tidak. Entah motivasi dari mana ia mendapatkan ide menanyakan itu. Dia ingin tahu seperti apa kehidupan Ariza sekarang. "Ahahaha. Akak ni bisa saja. Saya dan boyfriend belum pikirkan perkara tu. Masih ingin menikmati masa bersama." Jawaban Ariza jauh dari bayangan Raihan. Ternyata wanita itu sudah memiliki pacar. Tadinya Raihan berpikir ada kesempatan mendekati. Ternyata tidak ada. "Sekarang pikir-pikir lagi lah." Raihan tersenyum hampa. Dia melirik ke tempat lain hanya untuk menetralkan hatinya yang entah bagaimana sedikit ngilu. Mungkin karena ekspektasinya terlalu tinggi mengenai sesuatu. Raihan masih merenung saat ponselnya berdering. Itu dari Adriana. Cewek itu sedang berselfie sambil menunjukkan bahwa ia sudah memakan burger buatan Raihan. . Adriana: Aku sudah makan burgernya. Aku kirim foto ini sebagai bukti. Kalau aku mati setelah makan burger ini maka penjara adalah sebaik-baik tempat untuk kamu. . Pesan itu membuat suasana hati Raihan yang tadi sempat galau tiba-tiba merasa lebih baik. Apalagi melihat ekspresi lucu Adriana. Istrinya memakan burger seperti anak kecil. . Raihan: Okelah. Bila ada masalah. Cukup jadikan foto ni bukti. Saya pun takde masukkan racun di burger tu. . Sambil mengetuk, Raihan tersenyum-senyum sendiri. Ariza yang melihatnya menjadi penasaran mengenai apa yang membuat pria itu tampak bahagia. "Kak Raihan sedang lihat apa?" Raihan mengangkat wajah, melirik Ariza yang tampak penasaran. "Saya liat pesan bini. Awak mau lihat bini saya ke? Ini foto bini saya." Raihan menyodorkan ponselnya sambil memperlihatkan foto Adriana yang belepotan memakan burger. Ada ekspresi aneh di wajah Ariza. Seolah tidak suka, tetapi untuk apa? Wanita itu bahkan sudah punya pacar. "Comelnya bini kak Raihan! Siapa namanya?" "Adriana," jawab Raihan datar. Ariza mengembalikan ponsel Raihan. Meskipun bibir wanita itu mengatakan pujian. Namun, Raihan merasa ada yang janggal dari tatapan Ariza. Hanya satu menit Raihan melihat ekspresi tersebut. "Saya doakan akak dan bini akak langgeng dan bahagia." Raihan tidak tahu harus menjawab apa. Pada akhirnya lelaki itu mengaminkan. Dia hanya perlu menjalani takdir hidupnya. Dia tidak boleh menuntut banyak hal yang bukan miliknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN