Sesampainya di rumah baru, Nadine tampak canggung saat melangkahkan kakinya memasuki rumah barunya bersama Fahri.
Bukan karena tidak merasa bahagia, Nadine justru merasa sangat bahagia. Tapi bagaimana dia harus memulai kehidupannya dengan Fahri seorang diri.
Rumah mewah dan megah diberikan orang tua Fahri kepada mereka berdua agar mereka lebih mandiri dan bisa hidup bahagia bersama.
"Kenapa kau terdiam?"Tanya Fahri kepada Nadine yang masih berdiri ditengah pintu.
"Tidak, aku hanya kagum rumah ini sangat megah dan mewah."Ucap Nadine berpura-pura.
"Kau anak orang kaya, tapi masih norak juga ya! Kampungan!"Ucap Fahri. Membuat Nadine seketika membulatkan matanya dengan tajam.
"Kau bilang aku kampungan? Apa yang kau katakan, Mas?"Nadine merasa Fahri mengolok-oloknya dengan sengaja.
"Kau mau masuk atau tetap disini!"
"Ya, aku mau masuk, Mas."Nadine masuk dan menarik dua kopernya seorang diri.
Fahri tidak perduli dengan Nadine dia malah duduk di atas sofa dan berbaring dengan santainya.
Fahri tak sedikitpun menghiraukan Nadine yang masih berdiri disampingnya dan memegang dua koper besar.
Merasa sangat kesal dengan sikap Fahri, Nadine mencoba mendekati dan berani untuk menegur laki-laki dingin itu."Mas, kamu ini gimana sih! Bukanya kamu bawain koper ini, kamu malah tiduran!"Ucap Nadine sambil menyentak tinggi.
Mendengar Nadine berbicara keras, Fahri langsung berdiri dan menatap tajam mata Nadine."Berani sekali kamu! Mengatur aku di rumah ini!!"Ucap Fahri dengan mata melotot.
"Mas, aku ini sedang kesusahan kau malah diam saja!"Ucap Nadine.
"Saya ingatkan sekali lagi! Jika berani kau mengatur lagi, aku tidak akan diam saja! Kamu bawa koper mu sendiri dan masuk ke kamar atas!!"Fahri membentak Nadine penuh emosi.
Nadine terdiam kemudian pergi dari hadapan Fahri penuh rasa kecewa.
Langkah kaki Nadine begitu berat saat menaiki tangga, sesekali matanya memandang ke arah bawah melihat Fahri sampai berlinang air matanya. Entah apa yang membuat Fahri secepat itu bisa berubah.
Langkah kakinya semakin dekat dengan pintu kamar yang ditunjuk oleh Fahri. Nadine mulai membuka pintu kamar tersebut, kamar itu benar-benar sangat mewah dan rapih. Namun Nadine tidak merasa senang akan hal itu, dirinya sudah terlanjur kecewa dengan Fahri dan merasa semuanya tidak berarti.
Nadine berjalan membawa koper dan mendekati ranjang yang sangat empuk, lalu duduk di pinggir ranjang sambil menatapi setiap sudut ruangan. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki menapaki tangga, ternyata Fahri, dia datang menghampiri Nadine dan mengatakan sesuatu padanya.
"Aku ingatkan padamu, jika nanti Mama dan Papa datang kesini jaga mukamu! Jangan seolah-olah kau tidak bahagia dengan semua ini!"Fahri mengancam Nadine dengan tatapan mata yang membunuh.
"Kau pikir aku bahagia dengan semua ini!"Pekik Nadine.
"Lalu kenapa kau mau menikah denganku!"Ucap Fahri dengan nada tinggi.
Nadine hanya terdiam dan memalingkan wajahnya.
"Jika aku tau semuanya akan seperti ini aku pasti akan menolak mentah-mentah perjodohan ini!"Ucap Nadine kepada Fahri dengan lirih.
"Asal kamu tau aku sama sekali tidak mencintaimu, aku menikah denganmu hanyalah main-main!"Ujar Fahri dan berlalu pergi.
Perasaan Nadine sangat hancur mendengar pernyataan Fahri, sungguh sangat menyakitkan.
Kini dirinya hanya bisa pasrah akan semua yang sudah terlanjur terjadi. Menikah karena perjodohan sudah di terimanya dari awal.
Sambil bercucuran air mata Nadine mencoba menenangkan dirinya sendiri, dia tidak mungkin kembali ke rumah orang tua nya, pasti akan sangat memalukan untuk keluarga Nadine jika kelakuan Fahri terungkap. Fahri juga akan marah dan melakukan apa saja jika Nadine membuka semua kedok Fahri.
******
Malam ini Fahri belum pulang, Nadine hanya seorang diri di dalam rumah mewah dan megah, tetapi ditengah kesepiannya tiba-tiba Nadine teringat dengan, Mbok Senah.
"Mending aku telepon Mbok Senah aja biar datang dan tinggal di rumah ini? Mama Valen juga sudah mengizinkan Mbok Senah kerja di rumah ini."Nadine langsung menelfon Arimbi untuk menyampaikannya kepada Mbok Senah untuk segera datang kerumah barunya.
Setelah menunggu hampir 4 jam, Mbok Senah kemudian sampai di depan gerbang dengan di antar supir pribadi Sudirman.
Nadine keluar dan membuka gerbang rumah menemui Mbok Senah, dan langsung mengajaknya masuk kedalam rumah barunya.
"Mbok, ini rumah baruku semoga Mbok Senah betah tinggal di sini, ya?"Ucap Nadine sambil mengajak Mbok Senah masuk.
"Besar sekali, Non rumahnya?"Ucap Mbok Senah kagum.
"Iya, Mbok ini pemberian dari mertuaku, Mbok."Jelas Nadine.
Nadine menunjukan kamar Mbok Senah, dan menunjukan segala isi rumahnya, bagaimana nanti Mbok Senah akan memulai pekerjaannya.
Malam ini Nadine belum menyiapkan makan malam untuk Fahri, sangat kebetulan Mbok Senah sudah datang dan bisa memulai bekerja di rumah barunya. Nadine menyuruh Mbok Senah memasak untuk makan malam mereka.
Kedatangan Mbok Senah sangat membantu pekerjaan Nadine menjadi lebih mudah, apa lagi dirinya tidak bisa memasak sama sekali.
Tidak lama kemudian suara mobil sudah terdengar di depan rumah, ternyata Fahri sudah pulang. Nadine sedikit lambat membuka pintu karena sedang menyajikan makan malam mereka.
"Kenapa kau lama sekali membuka pintunya!"Ucap Fahri sedikit menyentak.
"Maaf Mas, rumah kita kan besar jadi aku agak lama jalannya."Ucap Nadine sambil mencium tangan Fahri.
"Udah ah, aku mau masuk, capek!"Fahri mengibaskan tangan Nadine begitu saja.
Melihat sikap Fahri begitu kasar membuat Nadine ingin meneteskan air mata yang sudah tidak bisa dibendung lagi.
"Apa Mas Fahri akan selamanya seperti ini padaku! Apa dia tidak bisa mencintaiku sedikit saja!"Batin Nadine berlinang air mata.
Namun Nadine tetap sabar menghadapi sikap Fahri, semua ini demi nama baik keluarganya.
Saat Nadine hendak mengunci pintu tiba-tiba Fahri datang menghampirinya."Siapa Nenek-nenek yang sedang tidur di kamar tamu?"Tanya Fahri dengan nada kesal.
"Itu Mbok Senah, Mas. Dia pengasuhku sejak kecil. Aku menyuruhnya kerja di sini atas izin mama Valen kok, Mas."Tubuh Nadine mulai gemetar melihat Fahri begitu tajam memandangnya.
"Kamu jangan seenaknya ya! Ini rumahku jangan seenaknya saja membawa orang asing masuk ke rumah ini!"Ujar Fahri sambil mengacungkan jari peringatan kepada Nadine.
"Mas, tapi mbok Senah...."Belum selesai bicara Fahri pergi sambil menendang kursi tamu.
Fahri benar-benar sangat marah kepada Nadine karena kehadiran mbok Senah pasti akan menjadi ancaman baru untuknya.
"Jika Nenek tua itu tinggal disini aku tidak mungkin bebas seperti dulu!"Gerutu Fahri.
Karena jika Fahri berbuat macam-macam kepada Nadine pasti mbok Senah akan mengadu kepada keluarganya.
Perlahan Nadine berjalan menuju kamar mbok Senah melewati ruang tamu dan melihat Fahri tengah duduk sambil terus memandang tajam matanya. Nadine tidak berani menyapa tubuhnya begitu gemetar melihat Fahri dan memutuskan berjalan terus menuju kamar Mbok Senah
"Mbok Senah?"Nadine mengetuk pintu Mbok Senah dan langsung dibukakan olehnya.
"Non, ada apa? Non Nadine mau minta apa?"Tanya Mbok Senah.
"Tidak apa-apa, Mbok aku cuma mau kasih selimut buat Mbok Senah karena didalam belum ada selimutnya."
"Aduh, Non Nadine perhatian banget sama Simbok. Makasih ya, Non."
"Iya, Mbok sama-sama."
Nadine pergi dari kamar Mbok Senah dan kembali menuju kamarnya.
Ketika masuk kedalam kamar Nadine melihat Fahri sudah tertidur pulas di atas ranjang.
Walaupun masih takut Nadine mencoba memberanikan diri tidur di samping Fahri.
Namun Fahri justru bangun dan membentak Nadine dengan kasar."Sedang apa kau disini!"
"Mas aku ini kan istrimu kenapa aku tidak boleh tidur disini bersamamu? Aku kan istrimu Mas!"Ujar Nadine.
"Malam ini aku tidak mau tidur denganmu, kau tidur saja di bawah!!"Fahri melempar selimut dan bantal ke lantai dan menyuruh Nadine tidur dibawah.
"Mas kau tega ya! Aku ini istrimu, Mas!"Nadine benar-benar kecewa dengan sikap Fahri malam ini.
"Tidak perduli kau istriku atau bukan! Tunggu apa lagi, sana tidur di bawah!"Fahri memaksa Nadine dengan kasar.
Nadine tidak bisa berbuat apa-apa Nadine hanya bisa menuruti kemauan Fahri. Dengan berat hati Nadine tidur di lantai dan terus menangis lirih meratapi nasibnya malam ini.