Bab 2

1086 Kata
Pertemuan. Hari Minggu, hari yang ditunggu-tunggu oleh keluarga Sudirman. Pagi ini semua makanan sudah matang, piring sudah tertata rapih di atas meja, rumah sudah bersih dan rapih untuk menjamu tamu yang sebentar lagi akan datang. Walaupun sebentar lagi akan menikah Nadine tidak lepas dari mbok Senah, ia adalah pengasuh Nadine dari kecil dan sampai sekarang mbok Senah masih bekerja di rumah Nadine. Keluarga Nadine sudah menganggap Mbok Senah seperti keluarga sendiri, mbok Senah sudah tidak lagi muda karena sudah menginjak umur 60 tahun. Nadine masih sibuk berdandan untuk menemui calon suaminya yang sebentar lagi akan datang. Nadine sangat semangat membuat Sudirman dan Arimbi merasa sangat bahagia. Mereka merasa Nadine benar-benar sangat bahagia dengan perjodohan ini. Sesekali mbok Senah mengintip Nadine di balik pintu yang sedikit terbuka, gadis yang sudah dianggap cucunya itu benar-benar sangat semangat pagi ini. Walaupun mbok Senah tidak ada ikatan darah dengan keluarga Nadine, tapi dirinya merasa bahagia melihat momongan nya akan segera menikah, apa lagi menikah dengan anak pengusaha kaya raya. "Mbok Senah? Simbok dari tadi disitu?"Tanya Nadine ketika melihat mbok Senah hendak pergi. "Iya Non, simbok senang sekali melihat Non Nadine akan segera menikah."Mbok Senah mendekati Nadine yang baru saja selesai berdandan. "Mbok, aku akan jauh dari simbok. Nanti simbok ikut aku ya?"Nadine memegang tangan mbok Senah dan merasa sedih jika dirinya akan jauh dari pengasuh nya itu. "Simbok juga sedih Non. Ikut Non Nadine kemana?" "Tempat tinggal baruku nanti ya, Mbok?" "Oh, iya Non. Simbok senang sekali." Nadine berencana mengajak Mbok Senah tinggal bersamanya jika sudah menikah nanti, karena dari kecil Nadine tidak pernah memasak dan bersih-bersih Rumah. Jadi tidak mungkin jika Nadine harus melakukan pekerjaan itu semuanya sendiri. ********* Keluarga Fahri sedang bersiap untuk pergi ke Rumah Nadine, tidak lupa satu kotak Berlian sudah di bawa Valen untuk melamar gadis cantik yang belum pernah dilihat Fahri sebelumnya. Bima juga tidak lupa menyiapkan nominal uang yang tidak sedikit, yang akan di berikan untuk mahar pernikahan. Sementara itu Fahri masih bersiap penampilan Fahri sangat menawan. Tapi lain dengan hatinya, Fahri justru main-main dengan pernikahan ini, baginya pernikahan adalah hal sepele. Setelah menikah dia bisa berbuat apa saja yang dia mau. "Pa, ayo kita berangkat aku sudah siap menuju pernikahan."Ucap Fahri kepada Bima dengan raut wajah yang menyebalkan. "Ayo, kalo begitu kita berangkat sekarang."Ucap Bima. "Ya sudah kita berangkat sekarang, mereka sudah menunggu."Timpal Valen. Merekapun beranjak masuk kedalam mobilnya dan pergi bersama. Di tengah perjalanan Fahri terlihat tersenyum-senyum sendiri, sikapnya membuat Valen dan Bima memijat pelipisnya. "Ma, Pa, tau gak, aku dari tadi bayangin wanita yang akan aku nikahi, jika malam pertama nanti dia tidak per**an pasti dia tidak mau aku ajak bercinta karena merasa takut dan malu."Ucap Fahri sambil tertawa lepas. "Diam Fahri! Omongan kamu itu tidak baik!"Bentak Valen. "Apa yang kamu bicarakan Fahri! Nadine itu gadis baik-baik tidak mungkin dia seperti yang kamu bayangkan. Kau ini laki-laki jaga ucapan mu itu dengan sopan!"Ucap Bima seraya menghela nafasnya dalam-dalam. "Maaf, Pa, aku kan hanya becanda. Sudah, Pa, kita jalan lagi aku sudah tidak sabar melihat calon istri ku yang cantik itu."Ucap Fahri sedikit menahan tawanya. "Kau ini tidak pernah berubah! Kapan kau tidak membuat kami kesal sehari saja!"Timpal Valen. 40 menit kemudian mereka sampai di Rumah Nadine. Melihat keluarga Fahri datang Mbok Senah langsung memberi tau semuanya. Mereka bersiap menuju ke depan dan menyambutnya di depan pintu berukuran besar. Sementara itu Nadine masih menunggu di kamar, Nadine enggan turun karena malu. "Selamat pagi Bu Arimbi pak Sudirman dan keluarga."Sapa Valen kepada keluarga Sudirman. "Selamat datang di rumahku Bu, Pak, silahkan masuk."Sambut Arimbi kepada keluarga Bima. "Oh ini yang namanya Fahri? Tampan ya. Ibu terakhir lihat waktu Fahri masih SMP loh."Ujar Arimbi. "Iya Bu, kalo ini Beni adiknya sama tampannya kan."Ucap Valen seraya memegang pundak Beni. "Memang anak, Bu Valen tampan semua." Kemudian keluarga Nadine mempersilahkan keluarga Fahri untuk duduk. Mbok Senah memanggil Nadine untuk segera keluar dan menemui Fahri. Tak lama berselang Nadine turun dari tangga. Langkah kaki yang jenjang dengan rambut digerai lurus membuat Nadine terlihat sangat cantik, ditambah lagi bola matanya yang indah membuat tatapan matanya begitu tajam dan mempesona. "Wah, cantik sekali dia?"Fahri sedikit tercengang melihat wanita yang akan menjadi istrinya itu ternyata sangat cantik, jauh dari yang dia pikirkan. Tak dipungkiri Fahri merasa sangat beruntung dengan perjodohan ini. Perjodohan yang sangat kebetulan mendapat istri cantik dan kaya raya. "Kemari Nadine."Arimbi mengandeng Nadine untuk diperkenalkan dengan keluarga Fahri. Nadine hanya terdiam dan tersenyum dengan lembut, sesekali memandang wajah Fahri yang sangat tampan lebih dari yang dia bayangkan. Nadine kemudian duduk dengan santun dan mendengarkan pembicaraan yang akan dimulai. "Fahri, kenalkan ini putri kami satu-satunya namanya Nadine."Ucap Arimbi sambil memegang pundak Nadine. "Cantik sekali ya Bu, Putrinya."Sambung Valen. "Hai Nadine?"Sapa Fahri seraya tersenyum kepada Nadine. Nadine hanya terdiam sambil meremas tangannya. "Hai, Mas Fahri."Balas Nadine sambil tersenyum namun menundukkan kepalanya. "Fahri, Nadine. Bagaimana kalian bersedia tidak?"Tanya Bima. "Aku bersedia Pa!"Ucap Fahri begitu lantang dan siap menikah dengan Nadine, padahal dalam hatinya hanya ingin mempermainkan calon istrinya itu. "Nadine kau bagaimana? Kau mau menikah dengan Fahri?"Tanya Sudirman. Nadine belum menjawab, Nadine hanya terdiam malu di depan Fahri dan keluarganya. "Nadine jawab dong?"Arimbi memaksa Nadine untuk menjawab sambil mengedipkan matanya. "Iya Bu."Nadine hanya menjawab Iya. "Iya apa, Nadine?"Tanya Arimbi sedikit takut Nadine akan menolaknya. "Mau Bu, aku mau menikah dengan mas Fahri."Ucapnya sambil tersenyum tetap malu. "Alhamdulillah, akhirnya perjodohan ini berjalan lancar."Sudirman sangat terharu. Setelah Nadine dan Fahri bersedia dijodohkan, sekarang tinggal menghitung tanggal pernikahan yang pas untuk acara mereka berdua. Setelah berdiskusi bersama, akhirnya mereka akan menikah bulan depan. Untuk menutup pertemuan siang ini, mereka dipersilahkan untuk mencoba makanan yang sudah disiapkan, mereka saling menyatu dan bergembira, bahkan Nadine sudah tidak canggung lagi untuk saling bertatapan mata dengan Fahri. Selesai makan keluarga Fahri pamit untuk pulang, mereka juga menyuruh keluarga Nadine untuk gantian berkunjung ke rumahnya. Sebelum pergi Fahri sedikit mendekati Nadine dan menyentuh pinggang Nadine yang tengah berdiri di sampingnya, sedangkan orang tua mereka sudah berada di depan lebih dulu. "Ah!!"Nadine kaget dengan sentuhan tangan Fahri. "Kenapa bukankah kita akan segera menikah?"Ucap Fahri penuh tatapan mata yang mengisyaratkan sesuatu kepada Nadine. Nadine hanya terdiam, dia tidak percaya dengan perlakuan Fahri baru saja. Selama ini Nadine tidak pernah di sentuh laki-laki manapun, karena memang Nadine gadis baik-baik. Pacaran pun Nadine belum pernah. Setelah berpamitan Nadine langsung masuk ke kamar dan membayangkan sentuhan Fahri tadi. Sentuhan Fahri membuat Nadine gemetar, selama ini dia belum pernah merasakan sentuhan seperti itu. "Aku baru merasakan rasa seperti tadi, Mas Fahri menyentuhku?"Sambil berbaring di atas ranjang Nadine terus membayangkan sentuhan Fahri sampai ia tertidur pulas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN