44. | Nasihat

1615 Kata
Sesuai agenda selepas rapat OSIS dan salat asar, Bagas mengunjungi rumah Rio. Ia sengaja tak tergesa-gesa mendatangi kediaman Chindai dengan maksud agar Inai-nya bisa istirahat sebentar. Toh, Bagas tidak memiliki rencana apa pun selain mengobrol di tengah-tengah keributan seluruh anggota. Alasan di sekolah tadi pun hanya asal-asalan agar Rio tidak mengajak Chindai ke mana-mana. Ya, anggap saja Bagas berlaku licik. Tidak masalah. “Gaya banget lo, Yo, sekolah jauh. Siap LDR sama Ify?” “Tanpa dukungan dia, gue juga enggak bakal bertekad, Gas.” Bagas mendengkus sebab Rio memamerkan hubungannya dan Ify, padahal tentu tidak sejauh yang dipikir orang-orang.. Ini juga alasannya berbincang kemari, di mana kakak kelasnya itu memiliki plan melanjutkan menuntut ilmu di luar negeri. “Ya sudah, bagus lo pergi.” “Dih, jangan harap pula lo bakal bebas dekat-dekat Chindai!” “Lo mah memang enggak asyik. Enggak ada gitu satu pun orang di pihak gue.” “Makanya jangan sembarang nebak. Enggak nanya, sesat di jalan tahu!” seru Rio sok bijak. “Lo ke sini mau sekalian ke tempat Chindai, kan?” Bagas mengangguk mantap, lalu berdeham sejenak sebelum berkata, “Katanya lo suka junior kita. Maksud lo … Ify?” “Well, iya. Dan selama itu, serius otak enggak seberapa lo nyangkanya Chindai—enggak pernah kira-kira cewek lain?” “Enggak.” “Enggak curiga sama sekali?” “Selama ini gue lihat lo dekatnya sama Chindai. Iya, sih, sama Ify, tapi enggak kentara banget. Terus gue agak curiga pas awal-awal, lo kayaknya kelewat kenal banget sama rombongan doi.” “Lo, tuh, fokus lihat Chindai di sisi depan, tapi enggak peduli kanan kiri. Gara-gara cemburu juga lo buta sama fakta-fakta lain yang bahkan belum lo ketahui, ck.” Rio geleng-geleng kepala, tetapi tak menutup rasa lega. “Pasal Ify … tanpa lo tahu gue juga sering pendekatan. Lo aja yang enggak sadar” “Dan sampai sekarang gue enggak paham. Kenapa lo enggak bilang dari awal?” “Pikiran lo melayang jauh banget dulu. Kalau lo nanya baik-baik pun, sudah lama gue kasih tahu walau si adek enggak izinin. Dia cuma enggak mau kelihatan dibedakan karena adek gue, makanya diam-diam bae.” Oh, mungkin ini saatnya Bagas memecahkan segala kesalahpahaman. “Beberapa kali gue antar Chindai pulang, bahkan ajak dia ke gramedia bareng Adel. Tapi selalu di rumah Chelsea, padahal gue kepo banget di mana dia tinggal.” “Lo, tuh, jadi bahan ketawa Chelsea cs. Besok-besok, cari informasi dulu benar-benar!” sahut Rio sekaligus meledek. “Gue malah bahagia banget lo bisa salah paham begini, Gas. Walau bikin gedek, lucu juga ternyata” “Sumpah, jahat banget lo enggak ngomong sama gue. Pas kumpul ekstrakurikuler musik dan Chindai sakit waktu itu, dia—” “Gue sengaja suruh lo cepat-cepat buat kumpul OSIS biar gue bisa bebas suruh Chindai istirahat di sini, kamar gue.” Rio terkekeh setelahnya begitu melihat decakan kekesalan laki-laki di depannya. “Lebih tepatnya … ranjang itu. Iya!” “b*****t, Yo. Gue khawatir banget sama Chindai waktu itu!” “Dan gue sayang banget sama dia,” kata Rio selagi pelototan Bagas masih saja menghunjamnya. “Lo cemburu lagi di saat sudah tahu Chindai gue anggap adek?” “Gimana ceritanya lo bisa kenal Chindai dan kenapa selama kita kenal …, sama sekali gue enggak tahu?” “Setelah kepergian Bunda, Tuhan menghadirkan Chindai dan mamanya di hidup gue. Tetangga baik hati yang peduli banget sama gue. Iya, memang enggak banyak yang tahu kedekatan kami selain keluarga dan beberapa orang. Karena itu juga, gue berjanji sama diri sendiri buat menjaga mereka, khususnya Chindai.” Hening. Bagas sendiri tak tahu hendak menanggapi apa. Dipikir-pikir, mengapa ia mesti tahu masa lalu Chindai, senyampang mereka bukan siapa-siapa? Miris, memang. “Lo suka Chindai?” “Eh?” Sekali lagi Bagas berdeham, reaksi kaku mendengar lemparan pertanyaan yang tepat sasaran. “Jangan bilang, lo tahu kejadian pas ulang tahun sahabat Chindai?” tanyanya mengalihkan topik. “Yang Chindai bilang suka sama lo?” Rio terkikih, tak menyangka bisa berperan menerangkan semuanya pada Bagas yang beberapa saat lalu menonjoknya hanya sebab cemburu. “Bisa dibilang, budaya persahabatan mereka. Enggak perlu gue jelaskan alasan teman-teman Chindai menjadikan lo target.” Bagas mengembuskan napas lelah, tiba-tiba sekelebat terkaan manis menyenggol pikiran kalutnya. Sebelumnya, Karel dan Randa pun sudah memberitahunya, hanya saja dirinya terlalu tutup telinga. “Karena Chindai … suka gue?” “Kayaknya kurang etis kalau gue jawab,” ujar Rio misterius. “Tapi gue pengen lo ingat. Sekarang Alvin terang-terangan, lo tahu. Kesempatan mereka menjalin hubungan juga besar. Lo salah langkah, maksimal adek gue sakit hati, jangan harap!” Kembali Bagas terdiam lama seakan-akan baru saja ditampar sebuah fakta yang mungkin sempat pernah diabaikannya. *** Di satu ruangan yang berhasil menjerat raga, pun keheningan menyelimuti getaran jantung yang bersahutan. Berbanding terbalik dengan bisunya lisan. Alih-alih bertegur sapa, hanya tabrakan kalbu seolah tak mengenal. Pada kenyataannya, tidak ada hubungan sekalipun yang mengikat kita pada lampau. Kemudian, kenapa harus saling menyakiti dalam diam? Alunan musik klasik yang memenuhi kamar menambah imajinasi Chindai dan selanjutnya dituangkan di lembar kerja laptop. Diam-diam ia bermimpi menjadi novelis terkenal, bahkan naskah pertamanya hampir selesai. Doakan semoga tercapai sebagai bentuk pembuktian Chindai pada Rio yang selalu mengatainya tukang halu. Akan tetapi, ponsel Chindai telanjur menampakkan notifikasi pesan singkat dari seseorang yang memang ditunggunya. Terpaksa ia menunda lagi kegiatannya, padahal sudah merelakan tidur siang. Namun, baru membuka room chat, sang pemilik nomor sudah meneleponnya tiba-tiba. “Halo, Ndai, di mana?” Suara khas Bagas tersebut membuat Chindai terdiam beberapa saat sebelum susah payah berdeham. “Di rumah, Kak. Kenapa?” “Tadi sekolah, kan, sudah janjian. Masa lupa, sih, Inai?” Di ujung sana, Bagas terdengar menahan diri untuk tidak geretan. “Jadi, lo sekarang di mana, Kak Bagas?” “Di luar.” “Sabar, gue keluar dulu.” Chindai tidak sepenuhnya lupa, sesekali mempermainkan Bagas—mumpung gratis—tak salah. Memikirkan kedongkolan laki-laki itu pun Chindai tergelak gembira. Ia yang sejak awal duduk di ruang tamu, tidak sampai membutuhkan sepuluh langkah untuk membuka pintu yang menjulang tinggi. “Hai, Kak. Welcome!” Chindai cengar-cengir menangkap raut tak bersahabat Bagas sebelum pipinya dihadiahi cubitan oleh sang tamu. “Sakit tahu!” “Chindai … Chindai. Lo pura-pura amnesia atau gimana?” “Pergi sana … pergi!” “Lo enggak cocok ngambek,” tutur Bagas bernada bangsal. “Suruh gue masuk, kek. Cuma welcome-welcome doang, begitu cara lo nyambut tamu? “Ngeselin banget,” gumam Chindai jengah. “Iya … iya. Masuk, gih!” “Sendirian lagi?” “Papa di luar kota, dan Mama di butik.” Bagas mengikuti langkah Chindai yang menuntunnya ke tempat gadis itu tadi bersemayam sebelumnya, lalu duduk berseberangan. “Bukannya lo bilang di rumah Kak Rio, Kak?” “Malas banget, mending di sini. Kalau pengen latihan, tinggal ke piano di kamar.” “Kok tahu?” “Lo pikir siapa yang bisa gue tanya seluk-beluk lo?” balas Bagas santai. “Tenang, gue enggak akan melakukan hal aneh walau rumah lo sepi.” Chindai tergelak, tidak menyangka Bagas sehumoris itu. Intinya, Rio adalah jembatan antaranya dan Bagas hingga ke titik sekarang. Arkian, Chindai memulai pembicaraan serius, “Kenapa keputusannya lagu Fṻr Elise, bukan Moonlight Sonata?” “Sesuai kesepakatan petinggi ekstrakurikuler musik sama OSIS.” “Ayo, katanya mau latihan!” “Gue malas, Ndai.” Tak malu, Bagas menguap lebar. “Gue numpang istirahat di sini aja boleh enggak?” Perut Chindai terasa menggelitik ketika mata Bagas tertutup rapat. Ia duduk, tetapi memilih tak bersuara. Menggembirakan Bagas bertingkah sedemikian rupa, tidak memedulikan gosip baru di forum sekolah tadi pagi yang sekali lagi memainkan emosi. Begini isinya … Bagas dan Chindai mencari sensasi! Demi Tuhan, Chindai ingin membunuh siapa pun yang membuat rumor tersebut. “Besok beberapa anggota dispensasi rapat di ruang musik,” seru Bagas setelah lama terjadi keheningan. “Sesuai permintaan Rio, lo perwakilan kelas sepuluh.” “Kayaknya ada yang tahu hubungan gue sama Kak Rio, nih. Kemaren—” “Lo sampai kapan berniat menyembunyikannya dari gue? Lo kira enggak cemburu lihat lo dan Rio akrab?” Bagas bergeming sejenak kala Chindai mengerjap kaget. “Terima kasih, lho, sudah bikin gue salah paham selama berbulan-bulan.” Chindai mengerkah ujung jari kelingkingnya. “Gue sudah berusaha kasih, tapi lo kayak enggak mau dengar, Kak. Usaha Kak Rio juga percuma.” “Dia bukan kasih tahu, Ndai, tapi membuat rumit.” “Lo bahkan tuduh gue yang enggak-enggak, Kak.” “Maaf,” ucap Bagas tulus. “Enggak apa-apa, Kak. Gue juga salah enggak ngomong dari awal.” “Gue lebih salah, Ndai. Coba aja gue lebih dewasa, enggak bakal begini.” Chindai mengingat hal yang memicu ketidaknyamanannya. Dengan kesadaran, ia memutuskan bahwa Bagas mesti tahu. “Tapi, Kak, Gue enggak mau dispesialkan, baik oleh lo atau Kak Rio. Mungkin enggak, tapi orang lihatnya beda. Gu—” “Lo peduli?” potong Bagas telanjur paham. “Orang lihat sebatas mata, Ndai, lo tahu itu. Walau iya, bukan hak mereka nge-judge apa pun dan lo enggak berkewajiban meladeni setiap omongan mereka.” Chindai menghela napas, pun kepalanya berpikir sama. Namun, lama-lama makin banyak spekulasi aneh dari berbagai pihak, membuatnya jenuh bukan kepalang. “Eng—Kakak tidur aja, gih. Katanya capek.” Bagas tak menjawab, tetapi gerak-geriknya membaringkan tubuh ke sopa. OSIS akhir-akhir ini mirip babu sekolah, semua dilimpahkan pada Bagas dan tim, bahkan sering kali sampai menginap di sekolah. Melihat tubuh berbaring tersebut, Chindai dapat membayangkan betapa lelahnya Bagas yang terlalu aktif dalam organisasi sekolah. Ia akan mengatakan ‘tidak’ jika laki-laki itu meminta pendapat perihal tawaran putra-putri SMA Rajawali yang diajukan Rio. “Have a nice dream, Kak.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN