TODAY’S NEWS HEADLINES Apakah Gloria Pandananyu Chindai Perusak Hubungan Antara Nathaniel Bagas Saputra dan Michelle Anatasya?
Dituduh PHO, Apa Benar Gloria Pandanayu Chindai Mengambil Nathaniel Bagas Saputra dari Michelle Anatasya?
Kedekatan Bagas dan Chindai Ternyata Sejak Lama, Lho. Lihat Buktinya!
Geger, Cokiber dan Cekiber SMA Rajawali Dikabarkan Menjalin Hubungan!
Bukan Ikon Kecantikan SMA Rajawali, tapi Gadis Ini yang Dekat dengan Bagas.
Benar-benar memancing murka. Sayangnya, Chindai telanjur masa bodoh, sama sekali tak tersulut emosi, serta mengenyahkan saran Salma untuk mencari tahu dalang di balik semua isu. Ia lebih kesal bila Bagas menjaga jarak kembali.
Akan tetapi, sekarang ini kepekaan Bagas dipertanyakan. Bisa-bisanya mengobrol dengan Michelle di tengah-tengah ruang musik yang ada beberapa anggota, padahal gosip masih saja menyerang bertubi-tubi dan dipastikan nama Chindai sedang menjadi bulan-bulanan sampai beberapa hari ke depan.
Chindai duduk di pojok, nasib sial menimpa karena Chelsea dan Marsha izin tak kumpul. Bukannya tidak tertarik berbaur dengan anggota lain serta para senior, Chindai hanya menghindari keakraban kedua insan yang menyentil cemburunya—tidak perlu diperjelas lagi, kan?
“Perasaan baru tiga hari lalu lo bilang jadian sama Bayu. Sekarang putus?”
“Namanya juga enggak cocok.”
Chindai konstan terdiam di posisi, menelaah obrolan yang nahasnya menggema di indra pendengarannya yang sensitif. Pun tersadar …, jika mulut Bagas memang terus meladeni Michelle, tetapi netranya tak absen memperhatikan Chindai walaupun tidak kentara. Hal tersebut membuat Chindai cukup tenang.
“Jadi, total mantan lo berapa, nih?”
“Dua puluh satu?” balas Michelle lebih mirip seperti bertanya. “Capek hitungnya, Gas. Mantan enggak perlu diingat, kan?”
Adapun respons atraktif Bagas yang membelalak kaget, setengah tidak percaya. “Gue aja satu belum, Chell.”
“Makanya coba.”
“Sama siapa?”
“Misalnya gue.” Michelle tergelak sebentar, mengundang tatapan bingung sekitar dan memicu Bagas yang tak suka diperhatikan langsung berteriak hingga situasi semula. “Sori, Gas, gue bercanda.”
Chindai termenung. Ia paham betul maksud dan tujuan terselebung dari ucapan—berbalut becandaan—yang baru saja dilayangkan Michelle. Sebagai sesama perempuan, Chindai tentu peka, serta memicunya lama-lama menggeleng pelan. Tak perlu ditebak, dirinya tahun Bagas tidak akan aneh.
“No problem. Gue yakin lo sudah punya pengganti.” Konstan masa bodoh, Bagas menyandarkan punggungnya di bangku yang didudukinya. “Benar, kan?”
“Hiatus.”
“Sok-sokan hiatus. Minggu depan gandeng yang baru.”
Michelle terkekeh, tidak ayal bibir tergerak sendiri untuk berujar, “Lo sendiri, nih, betah banget jadi jomlo. Truk aja gandengan, masa lo enggak?”
“Gue cukup satu, tapi selamanya nanti.” Kali ini, tiba-tiba Bagas berubah serius dan matanya secara kontan terarah pada Chindai yang tetap diam-diam curi pandang. Ia mengulas senyum samar karena sadar gadis itu juga mengamatinya. Inai-nya yang lugu ternyata begitu peduli.
“Siapa calonnya?” titah Michelle, terdengar menekan.
“Lo aja gimana?”
“Mau.”
“Randa titip salam buat lo.”
Michelle memberengut jengkel hingga berdecak. Siapa juga yang tak gondok jika diterbangkan sesaat, lalu dijatuhkan sedemikian rupa oleh sosok yang sudah sekian lama disukainya. Bagas memang seperti itu. “Salam balik.”
Bagas mengembuskan napas berat. Andai saja Chindai yang dijadikan tabik dari sifat playboy Randa barusan, ia tak akan se-gabut ini menyampaikan. Setidaknya, bagi Bagas … saingannya berkurang satu. “Anyway, temen gue suka sama lo.”
“Gue tanya, cewek idaman lo kayak apa?” Michelle memilih beralih pembahasan. Ia ingin memantaskan diri kendati mustahil.
“Yang penting gue suka dia. Dia suka gue.”
“Siapa contohnya?”
“Inai.”
Chindai menegang seraya menggigit bibir bawahnya bersamaan fokus Bagas yang mendadak tertuju padanya di kejauhan, bahkan diyakini bila Michelle pula menyadari gemericik rasa di antara sepasang itu. Dasar, Bagas, selalu mengundang permasalahan tanpa mengerti akibatnya.
“Gas, Chell, rapat petinggi! Buruan” seru Rio menghentikan dari ambang pintu kelas. Tentu menghentikan aesthetic moment yang menyelimuti antara Chindai, Bagas, dan decakan jengkel Michelle. “Ditunggu beberapa alumni tahun lalu.”
“Siap, Kak!”
“Oke, Yo!”
Omong-omong, Bagas serta Rio selalu profesional biarpun di luar ekstrakurikuler musik sama-sama mengibarkan bendera perang yang tak juga turun. Tentang gosip yang menyebar, tidak direspons keduanya karena dianggap tak pantas.
Di detik terakhir sebelum mengikuti Rio ke ruangan sebelah, Bagas berbalik dan menghadiahi Chindai sebuah lambaian sirat makna. Sekeliling lantas melengah syok menangkap sejoli yang sedang ramai diperbincangkan berinteraksi di depan mata.
***
Ekstrakurikuler musik dibubarkan tepat pengeras suara mengumumkan jika semua kegiatan di lingkungan sekolah wajib dihentikan. Anggota yang tersisa tampak sangat kelelahan sebab baru selesai berlatih giat guna penampilan terbaik orkes simfoni hingga deru napas terdengar di mana-mana.
Rio, si ketua umum, jor-joran mengarahkan agar selanjutnya tak perlu serepot ini. Selaku pemimpin yang sebentar lagi akan lengser, kewajiban terakhirnya harus menjadi yang terbaik. Maka dari itu, Rio amat bertekad kuat.
Di sisi lain, Chindai mengatur napasnya yang terengah-engah setelah menegak air mineralnya sampai habis tidak tersisa. Bergilir mencoba seluruh alat musik tidaklah gampang, bahkan sejenis triangle yang terlihat termudah, nyatanya lebih sulit daripada menaklukan violin.
“Cie, baikan sama doi sampai dituduh PHO. Takut gue, Dek, sama lo.”
Kehadiran Rio membuat Chindai langsung mendengkus kesal dan berpaling agar bisa membereskan barang-barang dan memasukkan ke dalam tas. Enggan sekali mesti meladeni kakak angkatnya yang memiliki tingkat kekepoan tinggi. “Jauh-jauh aja sana kalau takut sama gue.”
“Oh, begitu. Giliran sudah baikan, gue dilupakan. Bagus, adek gue enggak tahu terima kasih.” Rio geleng-geleng kepala ketika Chindai hanya diam. “Happy banget, ya, kayaknya diperhatikan doi sepanjang latihan. Bikin cemburu sejagat raya.”
Masih dalam sesi tutup mulut, Chindai berjalan melewati ambang pintu. Ia tidak pernah cerita terus terang, tetapi Rio akan selalu bisa mengetahui seluk beluknya hingga mustahil dirinya berbohong. Terpenting, Chindai lega karena hubungannya dan Bagas membaik, bahkan Rio serta Ify semalam mengucapkan selamat.
“Gue pulang duluan, Kak,” pamit Chindai pelantak tak acuh tatapan aneh berbagai pihak yang mulai dibiasakan.
Chindai sudah dekat sama Kak Bagas, gebet Kak Rio juga; begitulah kira-kira hal yang menarik untuk diperbincangkan saat ini.
“Lo belum cerita rincian kalian baikan kemaren, Dek. Gue penasaran banget.” Rio berupaya membujuk meskipun Chindai terus menyentaknya agar menjauh. Ia sudah tak peduli lagi. “Enggak mau, lo harus kudu cerita.”
“Sok tahu. Noh, Ify, ajak dia pulang bareng.” Chindai justru menunjuk gadis cantik dengan rambut lurus sebatas punggung yang mengegah tenang tidak jauh dari mereka. “Enggak gentle banget lo suka cewek. Bermodal kata-kata mana mempan, Kak.”
“Asal lo tahu, gue pulang sama Ify, Dek. Di mana-mana lo kalah. Harusnya, lo tekan Bagas biar kalian cepat jadian,” tutur Rio menaikturunkan alisnya bersamaan dan tersenyum miring melihat ketidakpedulian Chindai. “Makanya gue mau suruh lo pulang sama Bagas aja. Gue panggil gimana?”
“Berani?”
“Bagas, sini lo!”
Sungguh, Chindai pikir Rio tidak akan senekat itu!
Chindai benar-benar tersentak dan langkahnya mendadak terhenti di tempat oleh tingkah kekanak-kanakan Bagas. Lambaian antusias Rio konstan ada selama Bagas di depan sana tampak terkejut, termenung, sampai akhirnya berjalan mendekat setelah—mungkin sekian lama berpikir.
Mau tidak mau, Chindai mengulum senyum samar. Tidak sengaja bersinggungan dengan netra gelap milik Bagas, ia berpaling selagi bayang-bayang percakapan kemarin menyebabkannya bergadang karena kepikiran. Bagas selalu memiliki cara membuatnya tidak berkutik sama sekali.
“Kenapa?” Rupanya, Bagas tidak juga mampu menghilangkan nada cemoohnya, ditambah memandang pelik dua manusia di hadapannya.
“Tolong antar Chindai pulang,” kata Rio, turut to the point. Susah payah ia tidak melengkungkan kedua sudut bibirnya. Lewat lirikan mata, Rio bersyukur Ify turut serta membantu walau hanya dengan tidak menghampiri sekali dirinya mendekatkan Chindai dan Bagas.
Selanjutnya, Chindai membelalak merasakan pergelangannya ditahan Rio dan tak membiarkannya berhasil kabur dengan cara membalikkan badan. Kepalanya langsung menggeleng cepat yang tidak diacuhkan Rio, apalagi tatapan Rio yang tertuju padanya “Enggak, Kak. Gu-gue … Chindai pulang sendiri aja. Minta jemput Mama.”
“Jangan ngotot.”
Bagas tak beralih dari memperhatikan interaksi Rio dan Chindai. Sangat lengket. Jika tidak salah, Bagas sudah mengutarakan bingitnya. Hanya saja, ternyata Chindai tak juga memaklumi. Baiklah, Bagas kenyir menonjok Rio sekarang juga.
“Lo lupa Mama sibuk di butik?”
“Cuma jemput gue, masa enggak mau,” ujar Chindai cemberut. Ia mengernyih tak enak hati, antara menghadapi Bagas dan mengurus engkah-engkahan kakak angkatnya. “Lo enggak usah dengar omongan Kak Rio, Kak. Gue pulang sendiri. Ojek online ada.”
“Bawel lo!”
“Ih, Kak Rio. Kak Bagas entar repot, gue enggak mau!”
Rio bergegas menarik tangan Bagas, serta-merta menyatukannya dengan Chindai yang sontak terkejut. Tidak hanya adiknya, melainkan Bagas tidak kalah juga melotot sempurna diiringi pekikannya.
“Kak Rio!”
“Yo, lo gila?” Napas Bagas memburu selagi kulitnya yang tiba-tiba bersentuhan paksa di atas Chindai. “Memangnya enggak apa-apa?”
Rio tertawa keras. Untung koridor lantai dua gedung ekstrakurikuler ruang musik bisa dikatakan sepi, tinggal berharap jika pagar sekolah tidak telanjur ditutup. “Santai, gue percaya Chindai sama lo. Tinggal bilang gue kalau dia bawel.”
“Oke, kalau lo memaksa.”
Chindai melongo sesaat. Agaknya tidak mungkin Bagas menerima titah Rio tanpa berpikir panjang, mengingat perang dingin yang digeluti dua laki-laki itu. Walakin telah berdamai, tetap kesehatan jantung Chindai dipertaruhkan bila berada di dekat Bagas. Ide Rio buruk sekali!
“Sana pulang, tidur siang sekalian.” Rio mendorong Chindai yang sigap ditangkap oleh Bagas bersama pelototan tajamnya. “Ups, sorry. Gue sengaja, he-he.”
“Kak!” geram Chindai merandek.
Bagas menggeleng dramatis, kontan memutuskan tidak mengacuhkan gusar yang membuat kepercayaan diri memudar. Lebih cepat lebih baik. Well, Rio sendiri yang tak diduga memberinya kesempatan. “Ayo, Ndai, pulang. Sudah malam.”
“I-iya, Kak.”